tebuireng.online– Bahasa adalah salah satu seni yang menjadi kunci pokok manusia untuk berkomunikasi antara satu sama lain.  Pada kesempatan kedua kalinya, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (BEM-FIP) mengadakan peringatan Bulan Bahasa, hari ini (29/11/2015), bertempat di Gedung B Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng, dengan tajuk “Eksplorasi Budaya dan Sastra Nusantara di Era Globalisasi dan Memperteguh Jati Diri dengan Bahasa”.

Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh beberapa perlombaan menarik, yaitu lomba cerpen, puisi, dongeng serta lomba mading 3 dimensi. Lomba ini diikuti oleh 274 peserta dari beberapa delegasi sekolah tingkat SMA-MA-SMK sekitar jombang. Dari jumlah tersebut, terbagi menjadi 4 kategori, diantaranya 67 peserta lomba puisi, 59 peserta cerpen, 21 kelompok peserta mading 3D dan 43 peserta dongeng.

Setiap lomba diambil 1-3 juara.  Lomba cerpen, juara 1 berhasil diraih oleh Qurrotu A’yunna Nahdati dari MA Fattah Hasyim, juara 2 Aprilia dari MAN Tambah Beras, dan Elok Dwi Aprilianti dari MA Al-Ansari mendapatkan juara 3. Lomba Mading dijuarai oleh delegasi MA al-Anwar Jombang, SMK Tarbiyatun Nasi’in, MA. Fattah Hasyim. Lomba Dongeng dijuarai oleh Zuliana larasati dari SMA PGRI Ngoro, Ahmad Azmi Ahsntu Dhonni darr MASS, jombang), Mega Aulia delegasi SMA  PGRI Ngoro.

Acara yang diadakan setiap setahun sekali ini, bertujuan untuk  menjadi wadah kreatifitas siswa dalam bidang kebahasaan dan kesusasteraan. “Acara ini diadakan supaya dapat menanamkan kecintaan dan kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia dalam diri pemuda sebagai penerus bangsa,” ujar Dicky Pratama, Ketua Panitia acara.

Peringatan bulan bahasa sudah menjadi agenda tahunan bagi BEM-FIP. Bulan bahasa ini diadakan karena berkaitan dengan peringatan Sumpah Pemuda yang dikenal dengan satu simpul, yaitu satu bahasa, Bahasa Indonesia. Selain itu, juga dilatarbelakangi oleh realita bahwa masyarakat banyak melupakan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Telah banyak bahasa yang lahir belakangan seperti bahasa gaul, bahasa anak muda sekarang dan sebagainya sangat mempengaruhi pola berbahasa pemuda negeri. Ya makanya kita buat acara ini,” tambah Dicky. (novi/abror)

SebelumnyaDibalik Tongkat Musa dan Tongkat Kiai Hasyim
BerikutnyaSantri Pesantren Tebuireng, Tembus Kompitisi Kartun Nasional