Tebuireng.online– Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng menggelar seminar internasional berkolaborasi dengan Madina Institute Indonesia, bersama Syaikh Muhammad bin Yahya Al-Ninowy membahas tentang “How to be a Traditional Ulama in the Age of Internet”. Acara ini berlangsung dalam jaringan (daring) melalui Zoom dan Facebook, Senin (28/9).

Syaikh Muhammad Al-Ninowy menjelaskan bahwa pembelajaran itu biasanya dengan tulisan (melihat), lisan, dan amal. Metode cepat yang telah banyak dijumpai pada zaman sekarang diperbolehkan dengan beberapa ketentuan, yaitu: meluruskan niat hanya untuk Allah dan untuk akademis.

Dalam seminar itu beliau mengungkapkan harapannya pada seluruh peserta termasuk mahasantri untuk mampu menemukan ilmu dengan cepat dan mudah.

“Kita juga harus mengetahui mana informasi dan mana ilmu, karena ilmu itu haqiqat dan ada kebenaran di dalamnya. Al ilmu dan al ma’lumat (info) itu berbeda, jika ilmu itu haq jika ma’lumat itu bahas maujudah. Belajar tanpa mualimin itu tidak seperti yang diajarkan Nabi Muhammad dan para sahabat,” ungkapnya.

Menurutnya belajar melalui internet dan meninggalkan kitab-kitab turost itu tidak bisa dibenarkan. “Ilmu itu beda dengan informasi. Ilmu harus benar, sedang info itu ada yang benar ada yang salah,” imbuhnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Maka ulama zaman dulu bilang jangan mencari ilmu dari lembaran-lembaran yang tanpa petunjuk guru, karena perintahnya adalah mencari ilmu lewat orang yang expert, maka harus bisa membedakan antara ilmu dan info,” tegasnya.

Sebelum mengakhiri kuliah internasional tersebut ratusan mahasiswa dan khususnya Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari diberi kesempatan untuk bertanya kepada Syaikh melalui moderator, yaitu Dr. Anang Firdaus.

Pewarta: Qurratul Adawiyah

SebelumnyaBersyukur Mendapat Pakaian Baru, Baca Doa Ini
BerikutnyaSyekh Al-Ninowy Ungkap Metode Belajar Cepat