sumber ilustrasi: www.google.com

Oleh: Rizka Nur Maulida*

Disebutkan dalam kitab Tadribur Rowi, Imam Suyuthi adalah ahli Hadis yang pada masa mudanya mampu menghatamkan Al-Quran pada umur yang belia, yaitu umur 8th. Pemuda memang penerus dari para ulama, para pemimpin umat dan pada dasarnya pemuda harus mempunyai landasan, sedangkan landasan di dunia adalah Al-Quran dan Hadis, bagaimana bisa pemuda sekarang mengamalkan tontonan tampa dasar yang jelas dan sumber yang jelas?

Pengamalan ilmu pada zaman sekarang sering terabaikan, meliat kasus guru dan orang tua wali murid yang tidak bisa membedakan antara tuntunan dan sebuah hukuman, pemahaman tersebut berdampak kepada kondisi perilaku anak terhadap pengamalan ilmu dan kesucian ilmu. Berbeda dengan kondisi yang  Imam Suyuthi, ia dituntut oleh ayahnya yang bernama Kamaluddin, ayahnya mendidik dan berharap kepada anaknya untuk bisa mengambil ilmu dari gurunya yaitu Imam Ibnu Hajar dan berharap ilmunya sesuai dan sama dengan Ibnu Hajar.

Di sini bisa dilihat bahwa tuntunan orang tua untuk penerus bangsa diperlukan, bukan hanya bermodal uang dan harta semua bisa diwujudkan, namun apa artinya harta dan kekayaan tanpa budi dan akhlak? Harta tersebut sama seperti makanan yang basi.

Tidak berhenti sampai di situ saja, kemandirian juga diperlukan bagi penerus zaman, para penerus harus mampu beradaptasi dengan ilmu dan mampu berevolusi dengan perkembangan lingkungan baik di sekolah ataupun di kampus. Dicontohkan dengan perilaku Imam Suyuthi yang ditinggal oleh ayahnya karena wafaat saat Imam Suyuthi umur 5th namun beliau tidak putus asa dalam mencari ilmu dengan menghadiri majelis-majelis ilmu dan terhitung guru Imam Suyuthi berjumalah 150 orang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Keluar untuk mengambil ilmu dan melestarikannya dengan dakwah, dengan berbagai macam ilmu yang beliau kuasai lantas tidak membuat sombong dan acuh tak acuh dengan lingkungan namun dengan berbagai macam ilmu yang beliau kuasai, Imam Suyuthi mampu membuat karya buku baik Hadis maupun Tafsir Al-Quran.

Begitu pula sebaiknya kaum milenial saat ini, harusnya tidak hanya bergerak tapi tidak ada hasilnya, setidaknya seorang pemuda penerus bangsa mampu untuk memberikan sebuah karya.

Berhenti belajar setelah sarjana adalah hal yang merugikan, di situ integritas masa depan dipertaruhkan. Bagaimana bisa mengubah kondisi sebuah bangsa jika pemudanya malas untuk belajar, berbeda dengan semangat Imam Nawawi beliau adalah ahli Hadis yang amil dalam ilmu sangat mencintai ilmu sampai beliau lupa untuk menikah dan banyak tidak diketahui saking nikmatnya beliau belajar sampai punggung beliau tidak pernah menyentuh kasur selama dua tahun lamanya. Begitu malu diri ini jika tidak bisa melestarikan kebiasaan baik dari para ulama

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

SebelumnyaBerprasangka Baik dan Mengendalikan Diri
BerikutnyaLima Kunci Sukses Seorang Santri