Barangkali, Tak Perlu Ada Puisi

Sumber gambar: http://www.portalcafebrasil.com.br

Aku Ingatkan Kembali

                                    ; dalam sebuah surat pengakuan “Kau tak seramah puisi”

Barangkali kau sudah lupa

Tentang tulisanmu pada puisi – puisi yang masih pagi dan baru kita mulai

Katamu, aku adalah bagian dari diksi atas puisi yang kau ciptakan di degub sunyi

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

; Seperti pertama kali aku mengenalmu

Pada puisi-puisimu yang mengilhami dan membuatku merasa lebih berarti

Dan aku, diksi, bait, juga puisi tak akan pernah hilang, lekang

Hingga puisiku juga mampu menyeberang, menyelam seperti engkau dan puisi yang hidup jutaan zaman

; dalam sebuah jawaban di atas kertas, kala itu

Barangkali kau sudah lupa

Aku hanya mengingatkanmu kembali


Melodrama Pecinta

Biarlah berilalang jiwa-raga tanpa puisi

Kau aku simpan dahulu

Menjadi penyemat paling maha jika tangisku meleleh lagi karena rindu

Sebab kau,

Satu-satunya obat pelepas sendu


Pertemuan

Semisal hujan yang datang pada kemarau panjang

Rindu menjadi paling maha untuk sebuah perjumpaan

Tak hanya pelukan,

Tatapan sepanjang waktu adalah ritual paling mustajab sebagai jawaban

Sesekali kau dan aku akan tertawa, menikmati kegelian rindu yang mengusik dada

Sebab katamu, rindu akan semakin berburu bahkan saat empat mata kita bertemu


*Penulis, Rara Zarary.

 

 

🤔  Memetik Rindu di Rambut Putihmu