Bagi Santri Ramadhan adalah Syahrul Ilmi

226
Ilustrasi aktivitas di pesantren (sumber: ai/ra)

Khutbah Jum’at oleh: KH. Ahmad Junaidi Hidayat*

Bagi santri Ramadhan bukan hanya syahrul ibadah, syahrul Qur’an, melainkan juga syahrul ‘ilmi. Sebab dalam tradisi pesantren, bulan Ramadhan senantiasa diisi dengan ngaji yang maksimal. Sehingga bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengkhatamkan lebih banyak kitab.

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Melalui khutbah ini mari kita mantapkan komitmen dan kesungguhan kita dalam menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Kita jalankan segala hal yang diperintah oleh Allah (المَأْمُوْرَاتُ). Baik perintah-Nya berupa (الوَاجِبَاتُ) yakni hal-hal yang memang harus kita lakukan. Maupun perintah yang bersifat (المَنْدُوْبَات) yakni yang perkara-perkara dianjurkan untuk mengerjakannya.

Baca Juga: Jangan Melupakan Nisfu Sya’ban

Serta kita tinggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah (المَنْهْيَات). Baik larangan yang memang harus ditinggalkan, maupun hal-hal yang sebaiknya ditinggalkan, yakni al-makruhat (dimakruhkan). Hal tersebut menjadi modal bagi kita untuk mendapatkan kehidupan yang hakiki di dunia dan akhirat. InsyaAllah, jika kita melakukannya, maka memperoleh kebahagiaan dalam dunia dan akhirat, seperti yang dijanjikan oleh Allah. Komitmen dan kesungguhan kita dalam menjaga keimanan adalah indikasi dan pertanda bahwa kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya, baik dalam kehidupan dunia ini termasuk nanti dalam kehidupan akhirat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Puasa ini merupakan salah satu syariat yang ditetapkan oleh Allah untuk mendorong kepada umat agar terus membangun kualitas ketakwaan ini. Setiap ibadah yang ditentukan oleh ini mempunya fadilah dan kekhususan masing-masing. Puasa ini diberikan keistimewaan oleh Allah, sehingga berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Hampir semua ibadah itu bersifat fi’l al-syai’ (mengerjakan sesuatu). Jika sebuah ibadah itu bersifat mengerjakan sesuatu, maka ibadah itu mempunyai potensi untuk dipamerkan kepada orang lain. Sebab ada perbuatan yang dilihat.

Baca Juga: Al-Qur’an yang Berbahasa Arab itu Pasti Benar, Tapi Budaya Arab Belum Tentu

Berbeda halnya dengan puasa yang bersifat tark al-syai’ (meninggalkan sesuatu). Sehingga puasa didefinisikan sebagai imsak ‘an al-mufthirat (menahan terhadap segala hal yang membatalkan). Sebuah ibadah yang bersifat “meninggalkan”, maka tiada perbuatan yang dapat dipamerkan atau dipertontonkan. Sehingga Allah menekankan dalam sebuah Hadis Qudsi, “al-shaumu li wa ana ajzi bihi” (puasa ini sangat spesial, dan Saya yang mengganjarnya). Maka puasa ini tidak ada bentuk pahala yang dapat dideskripsikan. Sebab hanya Allah yang akan memperhitungkan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Al-shabirun ditafsirkan oleh para ulama adalah orang-orang yang ahli puasa. Artinya pahala orang puasa itu unlimited, tidak terbatas. Sehingga untuk menentukan ganjaran dari ibadah puasa yakni dengan memperhitungkan kualitas puasa kita.

Kalau puasa kita hanya sekadar imsak ‘an-mufthirat (menahan diri dari hal-hal yang membatalkan), maka tentu kualitas puasa itu hanya sebatas hal tersebut. Tetapi kalau kita mampu menahan kemaksiatan; telinga, mulut, kaki, dan anggota tubuh lainnya, maka puasa kita memiliki nilai lebih dari sekedar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Di atas itu ulama memberikan perluasa. Jika anda bisa menahan hati dan pikiranmu dari selain Allah, dengan mengosongkan hati dan pikiran dari keduniawian, melepaskan hati dan pikiran dari belenggu jasad, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai puasa seorang yang khawwas al-khawwas.

Baca Juga: Kejahatan Kuat Bukan Sebab Hebat, Melainkan Karena Kebaikan Bungkam

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Syariat puasa bulan Ramadhan ini mempunyai nilai yang berbeda lantara ia menempel pada waktu yakni Ramadhan. Allah memberikan keutamaan pada sebuah ibadah itu bisa jadi karena waktu. Anda ketika shalat malam hari, maka shalat itu mempunyai nilai yang berbeda dengan shalat-shalat di luar malam itu. Puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan juga berbeda dengan puasa di luar bulan Ramadhan.

Bagi santri Ramadhan bukan hanya syahrul ibadah, syahrul Qur’an, melainkan juga syahrul ‘ilmi. Sebab dalam tradisi pesantren, bulan Ramadhan senantiasa diisi dengan ngaji yang maksimal. Sehingga bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengkhatamkan lebih banyak kitab. Kamudian dengan ilmu yang anda peroleh, anda bisa menentukan apa yang harus anda peroleh di kehidupan ini. Sebab ilmu menjadi pintu awal untuk menentukan kehidupan.

Baca Juga: 6 Nasihat untuk Orang yang Berwudhu

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah Jombang.



Pentranskip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary