Ayam Panggang di Atas Meja

49
Ilustrasi harmonisnya hubungan keluarga (sumber: ai/ra)

Namanya Sarah, ia lahir dan besar di Desa Kedungrejo, desa kecil yang dikelilingi sawah dan jalan tanah yang tak pernah benar-benar sepi dari bisik-bisik. Di desa itu, setiap orang saling mengenal, dan karena saling mengenal, hidup orang lain terasa bebas untuk dibicarakan. Sarah tumbuh di rumah sederhana dekat pematang sawah. Dindingnya kusam, atap sengnya berbunyi keras setiap hujan datang. Ayahnya, Pak Saman, bekerja sebagai buruh tani.

Ibunya, Bu Marni, menghabiskan hari-harinya di dapur dan halaman. Hidup berjalan pelan, nyaris tak pernah berubah. Sejak kecil, Sarah sudah akrab dengan kalimat-kalimat yang tak pernah ia minta untuk didengar.

“Anaknya baik, tapi kasihan.”

“Mau jadi apa nanti, orang tuanya begitu.”

Kalimat itu melayang dari warung ke teras rumah, dari senyum ke senyum. Sarah mendengarnya, lalu belajar diam. Ibunya lebih sering menunduk, ayahnya memilih tak menanggapi. Mereka bertiga belajar bertahan dengan cara masing-masing. Keinginannya untuk pergi bukan karena ia membenci desa. Justru karena ia mencintainya. Ia ingin suatu hari pulang tanpa merasa kecil.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

***

Suatu malam, Sarah mengutarakan niatnya pada ibunya. Ia mengatakannya pelan, hampir seperti bertanya. “Bu, kalau Sarah kerja di luar desa, ibu gimana?” Ibunya berhenti melipat pakaian. Menatap anaknya lama, lalu menghela napas.

“Kalau itu niatmu, ibu nggak bisa melarang. Tapi jangan ninggalin sholat. Kalau capek, pulang.” Ayahnya mendengar dari sudut ruangan. Tak banyak kata yang keluar darinya. Ia hanya menepuk pundak Sarah sebelum tidur.

“Kerja yang jujur,” katanya singkat.

Hari keberangkatannya sunyi. Tak ada yang mengantar selain doa. Ibunya membetulkan kerudung Sarah berkali-kali, seolah ingin memastikan anaknya membawa cukup perlindungan. Ayahnya berdiri di ambang pintu, memandang punggung anak perempuannya sampai benar-benar menghilang dari jalan desa.

di kota tidak seperti yang dibayangkan. Sarah bekerja keras, menerima apa saja yang datang. Gajinya tak besar. Kelelahannya sering datang lebih dulu daripada rasa puas. Di kamar kos sempit, ia sering menatap langit-langit sambil bertanya pada dirinya sendiri apakah semua ini sepadan.

***

Di hari-hari tertentu, ia menelepon rumah. “Bu, Sarah capek.” Ibunya terdiam sejenak sebelum menjawab. “Capek itu tandanya kamu masih berjuang. Doa ibu sama bapak selalu ngikut.” Telepon ditutup.

Sarah menangis pelan. Bukan karena ingin menyerah, tapi karena rindu. Sementara itu, di Desa Kedungrejo, omongan terus berjalan. “Anaknya Bu Marni jarang pulang.” “Kalau berhasil, harusnya sudah kelihatan.” Ibunya mendengarnya semua. Ia menjawab dengan senyum tipis.

“Doakan saja.” Sarah pulang suatu hari membawa satu ekor ayam panggang. Tidak besar, tidak mahal, tapi cukup untuk mengisi meja makan yang selama ini sederhana. Ibunya terdiam saat menerimanya. Tangannya gemetar saat membuka bungkusan itu. “Ini buat ibu?” tanyanya pelan.

“Iya, Bu. Ulang tahun ibu.” Air mata jatuh tanpa suara. “Seumur hidup, ibu belum pernah dirayakan,” katanya lirih. Malam itu, mereka makan bersama. Tidak ada perayaan, hanya rasa syukur yang diam-diam memenuhi rumah. Beberapa tetangga melihat. Ada yang tersenyum, ada yang berkomentar pelan.

“Sekarang sudah bisa beliin ayam ya.”

“Iya, tapi ya segitu.” Sarah mendengarnya, tapi tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, ia merasa tak perlu. Beberapa hari kemudian, Sarah menyerahkan sebungkus rokok yang lebih baik pada ayahnya.

“Buat bapak,” katanya. Ayahnya menatap lama. “Ngapain beli ini?” “Biar bapak nggak ngerokok yang murah terus.” Ayahnya tertawa kecil, lalu malam itu duduk lebih lama di teras.

Setelah beberapa hisapan, ia berkata pelan, “Kamu sudah gede sekarang.” Kalimat itu membuat dada Sarah sesak. Ia pulang lagi membawa sesuatu yang lebih besar. Ayam crispy utuh dari gerai yang selama ini hanya mereka lewati. Ibunya memandang bungkusan itu lama.

Ayahnya duduk pelan, seolah takut merusak momen. “Kita makan bareng,” kata Sarah. Saat makanan itu dibuka, ayahnya menunduk lama. Air mata jatuh satu-satu. “Bapak nggak nyangka,” katanya terbata.

“Anak kecil yang dulu bapak antar sekolah, sekarang mikirin bapaknya.” Ibunya menggenggam tangan Sarah erat.

“Masa depanmu mungkin belum jelas,” katanya lirih. “Tapi hidupmu berkah.” Di luar rumah, suara desa tetap sama. Bisik-bisik tetap ada.

Tapi di dalam rumah kecil itu, Sarah tahu satu hal: ia telah sampai pada tujuan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan menjadi orang kaya. Bukan membungkam semua ejekan. Melainkan membuat kedua orang tuanya sadar, bahwa anak perempuan dari Desa Kedungrejo itu telah tumbuh, dan doa-doa mereka tidak pernah sia-sia.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary