Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #24

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Banyak orang berlomba-lomba menumpuk gelar akademik, maupun non akademik untuk sebuah kualifikasi yang belum kaffah (jangkep dan pepak). Adapula yang gelarnya sampai kayak rel kereta api, panjang banget, sampai susah sekali dieja. Salah? Tidak salah juga sih, itu hak masing-masing orang dalam menentukan nama gelarnya. Bisa saja tiba-tiba saya mengarang gelar, S.Ok (sarjana omong kosong), atau S.Tl. (sarjana tidak lulus). Sah-sah saja, wong itu guyonan. 

Dulu, para ulama, tak ada yang membuat gelar keilmuan sendiri, rata-rata disematkan oleh orang lain yang mengakui atas pencapaian keilmuannya. Bahkan saking tawaduknya, ogahan-ogahan sebenarnya menerima gelar itu, karena dapat mengurangi keikhlasan dalam mencari dan mengamalkan ilmu-ilmu Allah.

Tapi, tetap saja masyarakat merasa perlu untuk menyematkan gelar itu.  Untuk itu menarik jika kita mencoba mempreteli asal-usul dan makna gelar salah satu ulama terkemuka kita, khususnya warga nahdliyin, yaitu gelar “Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”. Rasanya tak ada yang lain, selain beliau yang mendapatkan sematan gelar tersebut, kecuali yang mengaku-ngaku ya, kalau itu mah banyak. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kenapa bisa begitu? Karena memang gelar ini tidak didapat hanya karena hafal Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah, atau Al Quran saja, tetapi dari berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu Hadist, KH. Hasyim Asy’ari telah diakui oleh ulama dunia, bukan hanya level se-Nusantara saja.

Gelar ini bahkan didapatkan beliau semasa masih tinggal dan mengajar di Mekkah al Mukarramah sana.  Hadratussyaikh yang artinya “Maha Guru” menjadi gelar yang diberikan secara khusus untuk orang yang benar-benar laik mendapatkannya. Gelar ini maksudnya satu tingkat  di atas gelar Syaikh.

Sebelum ke Hadratussyaikh perlu juga memahami apa itu Syaikh terlebih dahulu.  Istilah Syaikh di Timur Tengah jamak dipakai untuk penyebutan orang sudah lanjut usianya. Artinya Syaikh itu sebutan untuk kakek-kakek yang sudah tua dan usia lanjut. Namun, dalam perkembangannya Syaikh juga diperuntukkan menyebut pemimpin, bangsawan atau para tetua dalam suatu tatanan masyarakat.

Penyebutan ini juga diberlakukan di Teluk Persia. Di sebagian Afrika juga menggunakan gelar ini untuk merujuk pada pejabat tinggi, bangsawan, atau pemimpin.

Waktu penulis tinggal di Maroko, juga menemukan orang-orang tua disebut Syaikh, tapi untuk menyebut orang yang lebih tua dan lebih tinggi status sosialnya menggunakan kata “Sidi”, tapi tidak harus tua juga. Setiap negara dan suku di Arab kadang juga berbeda-beda budayanya. 

Sedangkan di Indonesia kata Syaikh biasanya merujuk pada seorang ulama dengan keilmuan agama Islam yang tinggi, mulai dari perilaku, perbuatan dan sikap. Bisa juga ulama besar, baik yang ahli fikih, ahli hadits atau ahli tasawuf, tarekat atau sufi.

Namun penggunaan kata Syaikh ini di Indonesia sekarang ini jarang, lebih banyak penggunaan kata Kiai, Gus, Lora (Madura), ustadz, dan penyebutan lain yang bersifat kedaerahaan, misal Tubagus, Teuku, Tuan Guru, Anregurutta, dan lain-lain. 

Kata Syekh, bisa ditulis; Syekh, Syeh, Shaikh, Shaykh, Sheikh, Syaikh dan sejenisnya. Secara bahasa (harfiah) arti Syaikh (الشَّيخُ) adalah orang tua, orang lanjut usia, kepa suku, ketua, pemimpin, kepala, dan tuan.

Secara definisi, gelar Syaikh mirip dengan sebutan keagamaan Islam, seperti kiai atau ustadz. Guru-guru di Arab atau Mesir biasa disebut Syaikh.  Di Indonesia, gelar Syaikh tidak merujuk pada akademik seperti profesor.

Namun lebih kepada ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu agama Islam. Baik dari segi fikih, tasawuf maupun spiritualnya, menguasai syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Memiliki tingkatan pengetahuan yang tinggi. Bahkan dalam dunia tarekat bisa jadi adalah wali Allah, atau mursyid dalam tarekat itu. 

Sementara makna Hadratu bisa merujuk pada asal kata bahasa Arab Hadhara-yahdhuru artinya hadir, pergi, menyaksikan, memandang, melihat, dan mengamati. Hadratussyaikh secara leterlek berarti kehadiran seorang syaikh. Artinya tidak hanya wujud manusianya, tetapi juga tingkatan keilmuannya, kedalaman berpikirnya, serta tingkatan spiritualnya.

Secara makna, kata tersebut bisa disematkan karena menganggap yang disebut hadir atau karena melihat adanya derajat yang luhur disemati hadhroh. Beliau dinilai dzi makanah fi al Ilmi wa ghoiri min mazaya. Sedangkan Kiai Hasyim lebih dinilai dari kedudukan dalam segi intelektual dan keilmuan bukan dari hal lain. Gelar ini hampir tidak dipakaikan kepada orang lain selain Kiai Hasyim, bahkan di Arab pun gelar ini tidak begitu dikenal luas.

Kalau mungkin boleh mengumpamakan, gelar Hadratussyaikh itu, seperti “panjenenganipun” dalam bahasa Jawa. Kata itu sangat halus dan sopan, dipakai untuk menyebut kata ganti orang kedua (kamu, anda) bagi seseorang yang sangat dihormati. 

Gelar Hadratussyaikh diberikan dengan verifikasi mendalam. Tidak bisa  nyogok, apalagi bikin ijazah palsu untuk itu. Dan ada begitu banyak ulama, baik dari dalam dan luar negeri, mempersembahkan gelar Hadratussyaikh kepada beliau Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari.

Hal ini karena kepakaran beliau di berbagai bidang ilmu Islam. Juga karena beliau adalah seorang ulama yang secara gigih dan tegas mempertahankan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Gelar ini disandang beliau sejak di Mekkah.

Karena selain KH. Hasyim Asyari menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam secara mendalam, juga hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yang meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, an Nasa’i, dan Ibnu Majah. Murid kinasih Syaikh Mahfudz at Tarmasyi, pakar hadis dari Termas Pacitan yang mukim di Mekkah.

Dari Syaikh Mahfudz inilah, Kiai Hasyim menganut faham bermadzhab dan memperoleh ijazah (legitimasi pewarisan) tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Di samping itu, Syaikh Mahfudz sebagai isnad (mata rantai) terakhir dari 2-3 generasi penerima Shahih Bukhori dan Shahih Muslim yang ditulis ribuan tahun lalu, juga mengijazahkan isnad tersebut Kiai Hasyim.

Inilah di antara faktor yang menjadikan Kiai Hasyim sebagai orang Jawa pertama yang mengajarkan kitab hadis lengkap dengan sanad yang muttashil (menyambung).  Bahkan sekaliber pakar hadis Nusantara dari Padang, Syaikh Yasin bin Isa al Fadani juga belajar kepada Kiai Hasyim melalui menantu Kiai Hasyim yang tinggal di Mekkah, KH Muhaimin Lasem (suami pertama Nyai Khoiriyah Hasyim).

Syaikh Yasin juga memanfaatkan kesempatan talaqqi kepada Kiai Hasyim saat sedang di Nusantara, dan berkunjung ke Jawa. Kepakaran Kiai Hasyim dalam hadis benar-benar diakui oleh dunia.

Tidak heran jika setiap Ramadan beliau mengkaji Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di Tebuireng, yang ikut mengaji bisa sampai dari pelosok negeri. Mereka rela menginap di Tebuireng sebelum Ramadan dan jelang Idul Fitri untuk mengaji hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang dibacakan oleh Kiai Hasyim.

Sampai sekarang pengajian itu masih menjadi tradisi rutin di Tebuireng.  Jadi miris jika, ada anak-anak muda NU tidak mengenal dan mempelajari KH. Hasyim Asy’ari baik sejarah maupun keilmuannya.

Gelar ini sangat mubadzir disematkan oleh para ulama dunia, jika tidak dikaji terus menerus oleh generasi penerus beliau dari masa ke masa. Harusnya semakin banyak kelompok-kelompok diskusi tentang pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.

Apalagi kalau ada yang bilang, pemikiran beliau tidak relevan dengan perkembangan zaman. Sungguh terlalu.  Melihat betapa sulitnya gelar ini, sampai tidak disematkan pada ulama manapun, tentu sangat aneh jika ada yang sampai mengaku-ngaku atau menyematkan di depan namanya, gelar “Hadratussyaikh” itu. Bukan gelar sembarangan.

Maka menurut Kiai Ma’ruf Khozin, sebaiknya tidak ada siapapun yang memakai gelar ini, apalagi yang kualifikasinya masih di bawah Kiai Hasyim. Sudahlah hidup biasa saja, tak usah neko-neko menggapai gelar Hadratussyaikh. Toh beliau saja tidak pernah berharap mendapat gelar itu, orang-orang saja yang menyematkannya kepada beliau.

Maka, mari kita teladani saja akhlak dan tuntunan beliau, apalagi sebagai warga nahdliyin sejati yang tidak gila hormat, tapi ngandap asor, tawaduk dan merasa rendah hati. 

*Penulis adalah Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.