tebuireng.online– Silat adalah seni bela diri khas nusantara. Sejak muncul hingga sekarang, kekhasannya tidak lekang oleh waktu. Berbagai perguruan didirikan dengan ciri khas masing-masing. Pesantren Tebuireng salah satu pesantren tertua dan bersejarah di Indonesia ini, tidak bisa dilepaskan dengan adanya perguruan silat Nurul Huda Pertahanan Dua Kalimat Syahadat (NH Perkasya) yang telah berumur 33 tahun. Dalam peringatan hari ulang tahun perguruan silat asli Tebuireng tersebut, diadakan Apel Akbar di halaman Kampus Umum Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jum’at (27/11/2015).

Ketua panitia, Muhammad Habibi, S.Sy., mengatakan bahwa tema yang diangkat adalah “Membangun Solidaritas serta Menjaga Kerukunan, Kita Bina Peradaban Berakhlakul Karimah.” Habibi menegaskan bahwa dalam usia NH Perkasya yang mencapai 33 tahun, semakin menunjukkan pekembangan yang pesat. Mula-mula didirikan hanya untuk santri Tebuireng dan sekitaranya, sekarang sudah memiliki ranting dan cabang di sejumlah tempat.

Menurut keterangan dari Pendiri NH Perkasya, H. Muhammad Lamroh Azhari, perguruan silat ini didirikan pada tanggal 2 November 1982. Pak Lamroh, panggilan akrab beliau, adalah lelaki asal Ponorogo yang mulai menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng pada tahun 1980. Hanya dua tahun berselang, Lamroh muda mampu memprakarsai berdirinya perguruan silat yang sangat terkenal saat ini. Nama “Perkasya” yang memiliki kepanjangan “Pertahanan Dua Kalimat Syahadat” itu dimaksudkan agar para pendekar tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam, dan memiliki semangat tinggi dalam berdakwah.

“Berdirinya NH Perkasya alhamdulillah saat itu direstui bapak pengasuh, KH. M. Yusuf Hasyim dan KH. Sansuri Badawi, dengan catatan tidak mengganggu kegiatan di pesantren,” ungkapnya dengan semangat. Dalam sambutannya beliau berpesan kepada para pendekat NH Perkasya agar mengikutinya dengan niat dan tujuan yang benar. Beliau mewanti-wanti para pendekar, baik pemula maupun senior agar tidak memiliki niat buruk, seperti hanya untuk berkelahi, sombong-sombongan, dan jauh dari kebaikan. Menurutnya, mengikuti NH, adalah untuk mempertahankan diri, olahraga, mendulang prestasi, menjaga ukhuwah Islamiyah dan dakwah Islam. Selain itu, juga untuk melestarikan tradisi dan budaya asli Indonesia.

Peringatan HUT ke-33 NH Perkasya ini memiliki dua agenda besar, yaitu Apel Akbar pada siang tadi yang diikuti oleh seluruh pendekar dan pelatih dari pimpinan ranting, pimpinan cabang, pimpinan pusat, di seluruh Indonesia. Agenda kedua, besok Sabtu (28/11/2015), akan diadakan Seminar Ilmiyah Nasional yang diadakan di Aula Bachir Achmad lantai 3 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim  Pesantren Tebuireng, dengan mendatangkan narasumber Dr. KH. Lukman Hakim, Direktur Sufi Center Jakarta, menyampaikan tema “Membangun Spiritualitas Pendekar”, dan Gusti Sultan Cakra Buana Reza Pahlevi, Ph.D.,  dari Medan, menyampaikan tema “Peran NH Perkasya dalam Konstalasi Nasional.” Seminar dibuka untuk umum dan gratis. (farid/abror)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

SebelumnyaGuru, Tiang Moralitas Generasi Bangsa
BerikutnyaHUT ke-33 NH Perkasya, Diskusikan Silat dan Sufi