Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Melawan Arus Utama Publik

21
Sebuah buku karya Rusdi Mathari (sumber: jalantengah)

Kali pertama membaca judul buku ini saya terperangah dan dalam benak serasa ada batu yang mengganjal untuk segera disingkirkan demi ketentraman pikiran. Dari judulnya saja sudah bikin saya pribadi terhentak untuk membaca ulang dan menerka-nerka apa maksud dari kalimat judul tersebut. Judul “Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya” secara hematnya merupakan bentuk kritik terhadap kita yang acap merasa paling benar, paling hebat, dan paling pintar sekaligus enggan menerima pendapat orang lain.

Baca Juga: Mengulas Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna

Sebenarnya dari judul bukunya saja bisa panjang kali lebar, jika hendak dikulik-kulik lebih dalam lagi. Salah satu menariknya judul ini adalah sisi paradoksnya. Hal ini membuat pembaca bertanya-tanya: “Lantas ini sebenarnya pintar atau bodoh?”. Semakin seseorang banyak membaca dan pintar, justru ia akan tahu bahwa ternyata dirinya banyak sekali yang belum tahu. Jadi, orang yang benar-benar pintar (tahu) justru ia merasa bodoh (tidak tahu), karena ternyata banyak hal yang baru diketahui dan yang belum diketahui.

Buku ini merupakan karya Rusdi Amrullah atau Rusdi Mathari yang kiprah kepenulisannya bagai A. Iniesta dalam dunia pergulatan kulit bundar di atas lapangan. Dia yang pernah menjadi wartawan lepas, redaktur, dan pimpinan redaksi membuat sudut pandangnya bagaikan menu lauk-pauk pada etalase Rumah Makan Padang: beragam. Memang dia wafat pada 2 Maret 2018, akan tetapi karyanya melebihi biduan: masih menggoda hingga sekarang.

Buku kumpulan kisah sufi dari Madura ini, diterbitkan oleh Penerbit Buku Mojok pertama kali pada September 2016. Terdapat total 30 kisah dalam buku ini yang tema besarnya adalah ramadan. Memanglah mula-mulanya buku ini merupakan tulisan berseri selama dua tahun di situs Mojok.co untuk menemani pembaca dalam melangsugkan beragam ritual di bulan ramadan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Kerancuan Filsafat Ilahiyyah (Ketuhanan) Perspektif Imam Ghazali

Salah satu hal menarik dalam buku ini adalah upaya untuk melawan arus utama opini publik. Sebuah sudut pandang yang lain dari orang pada umumnya. Sebagai aktor utama, Cak Dlahom seperti membawa warna baru dalam kehidupan masyarakat Desa Ndusel. Ia menyajikan alternatif prespektif yang mendobrak cara pandang orang kebanyakan. Dalam menunaikan kehidupan, baik dalam babagan hablum minallah dan hablum minannas, alternatif prespektif menjadi sebuah hal yang brilian.

Orang kebanyakan sangat gemar untuk bersedekah membangun masjid atau tempat ibadah. Namun sering abai terhadap tetangganya yang dilalah jatuh sakit. Di sini Cak Dlahom sebagai orang yang disangka kurang waras oleh mayoritas warga Ndusel justru orang yang lebih memiliki kecakapan cum kecukupan dalam sisi religiusitas.

Dalam kisah yang berjudul Dia Sakit dan Kamu Sibuk Membangun Masjid, Cak Dlahom menawarkan second opinion: “Kita rajin berdoa di masjid, lalu merasa bertemu dengan Allah. Padahal ketika Allah kelaparan, kita tidak pernah memberi makan. Allah sakit, kita tidak menjenguk…” (Hal. 148)

Arus utamanya tentu berbicara bahwa bersedekah jariyah untuk pembangunan masjid sangatlah suatu hal yang hebat dan luar biasa. Bagaimana tidak? Ada seseorang yang turut berpartisipasi dalam membangun tempat ibadah. Sungguh luar biasa bukan? Namun tidak selamanya hal itu hebat dan luar biasa. Bayangkan jika ternyata ada tetangga atau sodara kita yang sedang tertimpa musibah dan lebih membutuhkan pertolongan kita. Bukankah idealnya kita lebih mengutamakan menolong sesama? Tapi hal ini tidak lantas menjagal orang untuk mendermakan hartanya guna pembangunan masjid.

Baca Juga: Ziarah Rindu Kepada Noor

Banyak dalam buku ini, menyoal tentang cara pandang, sikap, dan tindak-tanduk orang kebanyakan dalam melangsungkan praktik-praktik keagamaan. Mulai dari urusan ibadah vertikal (kepada Tuhan) maupun ibadah horizontal (kepada sesama). Umpanya tentang cara pandang terhadapa kekayaan. Publik/masyarakat menganggap orang yang kaya kemudian menunaikan zakat dan mudah bersedekah adalah orang yang hebat. Namun bagi Cak Dlahom itu adalah hal yang biasa-biasa saja dan wajar adanya.

Dalam kisah yang berjudul Bersedekah kok Minimalis dan Biasa-biasa Saja, Cak Dlahom menyampaikan: “Benar, kalian mungkin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, tapi justru karena kesulitan hidup kalian itulah sedekah kalian menjadi luar biasa. Sangat Istimewa.” (Hal. 182).

Dengan memiliki alternatif prespektif hidup bisa menjadi lebih tenang. Hati tidak mudah goyah dan ora gumunan. Mudah untuk menerima takdir Tuhan dan ora gampang sambat-sambat atau mengeluh. Ada sebuah hadits qudsi yang terjemahan bebasnya kurang lebih demikian: “Aku Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku dan tidak ridla terhadap kepastian qadla-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku”

Baca Juga: Perempuan yang Menolak Dikalahkan Keadaan

Buku ini sangat layak untuk dikonsumsi sekalipun kalian dalam kesibukan yang tiada henti. Satu kisahnya bisa dilahap dengan hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja. Toh juga kalian dalam membacanya bisa loncat-loncat layaknya katak. Semakin kita banyak membaca, semakin kita tahu bahwa sebenarnya kita banyak tidak tahu. Selamat membaca!



Identitas Buku
Judul buku: Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Penulis: Rusdi Mathari
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit: September 2016 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman: 226 halaman
ISBN: 978-602-1318-38-0
Peresensi: Fajrul Alam