
Tebuireng.online – Pesantren Sains Tebuireng melanjutkan rangkaian agenda Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) tahun ajaran 2026/2027 dengan menggelar sesi materi bertajuk “Selayang Pandang Pesantren Tebuireng dan Kegiatan Pengajian”, Jombang, Jawa Timur, Senin (06/07/2026). Forum edukatif ini difungsikan untuk menanamkan pemahaman komprehensif mengenai sejarah, nilai-nilai filosofis, budaya, serta tradisi pendidikan klasik khas Tebuireng.
Hadir sebagai pemateri, Ustadz Mulya Afif mengupas tuntas garis linimasa berdirinya pesantren. Penjelasan dimulai dari silsilah keluarga besar Tebuireng, tongkat estafet kepemimpinan para pengasuh dari masa ke masa, hingga biografi ringkas para tokoh sentral yang meletakkan fondasi perjuangan lembaga. Rangkaian historiografi ini disodorkan agar santri baru mampu menyerap warisan spiritual para pendahulu, bukan sekadar mengenal nama besar institusi.
Dalam paparannya, Ustadz Mulya Afif menggarisbawahi bahwa parameter kesuksesan seorang pencari ilmu tidak melulu bertumpu pada aspek kecerdasan intelektual. Ia mencontohkan riwayat hidup Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang memadukan etos belajar sepanjang hayat (long-life learner) dengan kepatuhan etika yang mutlak kepada guru.
“KH. Hasyim Asy’ari senantiasa belajar sepanjang hidupnya. Beliau menimba ilmu dari berbagai pesantren di Indonesia hingga ke tanah Arab. Namun ilmu saja tidak cukup jika tidak dibersamai dengan adab dan khidmah. Ilmu tidak akan memiliki makna tanpa adab. Karena itu, santri harus memiliki sikap tawadhu’ kepada guru,” urai Ustadz Mulya Afif, Senin.
Di samping keteladanan intelektual dan spiritual, santri baru diperkenalkan pada konsep kemandirian ekonomi yang dipraktikkan langsung oleh Hadratussyaikh. Dalam sejarahnya, di samping mengajar, KH. Hasyim Asy’ari secara aktif mengelola sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan untuk menopang operasional pesantren. Pola kemandirian ini disebut sejalan dengan rekam jejak ekonomi Nabi Muhammad SAW yang menekuni dunia perniagaan sejak usia muda.
Untuk membakar motivasi santri, materi juga menyelisik rekam jejak dan kiprah para alumni Tebuireng yang telah tersebar dan berkontribusi di berbagai sektor strategis nasional, mulai dari ranah keagamaan, pendidikan, pemerintahan, hingga ranah profesional lainnya.
Guna menyelaraskan ritme adaptasi asrama, panitia memanfaatkan forum ini untuk membedah peta aktivitas harian santri selama 24 jam penuh. Rutinitas ketat tersebut dirancang mulai dari persiapan ibadah shalat tahajud, shalat subuh berjamaah, program PBS (pembelajaran Al-Qur’an), sekolah formal, shalat dhuha, pembacaan Surah Al-Waqi’ah bersama, madrasah diniyah, pengajian kitab, hingga jam istirahat malam.
Menutup sesi orientasi selayang pandang ini, Ustadz Mulya Afif menitipkan pesan mental agar seluruh santri baru menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi dalam mengaktualisasikan potensi, namun tetap membentengi diri dari penyakit hati seperti kesombongan.
“Santri Tebuireng harus percaya diri, tetapi tetap rendah hati dan tidak boleh sombong,” pungkasnya di hadapan ratusan peserta MOSBA.
Baca Juga: Cetak Santri Sejati, Pesantren Sains Tebuireng Resmi Buka Rangkaian MOSBA 2026
Pewarta: Aulia
Editor: Sutan


















