Temui Wali Santri Baru, Kepala Pesantren Sains Tebuireng Tegaskan Aturan Larang Komunikasi 40 Hari Pertama

13
Pesantren Sains Tebuireng menggelar kegiatan Temu Wali Santri bersama jajaran pimpinan dan pengurus pondok di Masjid Salahuddin Al-Ayyubi, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026) malam. Foto: irsyad

Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng menggelar kegiatan Temu Wali Santri bersama jajaran pimpinan dan pengurus pondok di Masjid Salahuddin Al-Ayyubi, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026) malam. Forum silaturahmi ini difungsikan sebagai ruang ta’aruf (perkenalan) sekaligus penyelarasan sistem kedisiplinan asrama bagi keluarga santri baru.

Dalam sambutannya, Kepala Pondok Pesantren Sains Tebuireng, A. Syahri Solehan Arif K., S.Pd., atau biasa disapa Ustadz Arif menyampaikan apresiasi atas besarnya mandat kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada lembaga yang kini menaungi SMP Sains dan SMA Trensains Tebuireng (SMAT) tersebut.

“Ahlan wa sahlan bi hudhurikum, selamat datang di Pesantren Tebuireng. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami. Semoga ilmu yang dipelajari di sini membawa keberkahan dan manfaat bagi putra-putri Bapak dan Ibu sekalian,” ujarnya.

Pihak pesantren memaparkan regulasi khusus mengenai fase transisi psikologis bagi santri baru selama 40 hari pertama di lingkungan asrama. Pada periode karantina adaptasi tersebut, para santri baru belum diperkenankan menjalin komunikasi dalam bentuk apa pun dengan orang tua. Kebijakan ini diambil agar anak dapat menyatu dan menyesuaikan diri secara total dengan kultur kemandirian pondok.

Di sisi lain, Kepala Pondok mengungkapkan fakta menarik mengenai pola penjaringan santri baru di era digital. Berdasarkan data internal, mayoritas santri baru mengenal dan tertarik masuk ke Pesantren Sains Tebuireng melalui paparan konten di platform digital.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Alhamdulillah, setiap hari kami mengunggah berbagai aktivitas santri. Ternyata algoritma media sosial Pesantren Sains memiliki pengaruh yang cukup besar sehingga banyak santri mengenal pondok ini melalui platform digital seperti TikTok dan Instagram,” jelasnya.

Untuk memberikan gambaran utuh, pengurus memaparkan cetak biru aktivitas harian santri yang berlangsung ketat selama 24 jam. Aktivitas dimulai sebelum fajar melalui pembiasaan bangun malam, ibadah shalat tahajud, dan shalat subuh berjamaah. Agenda dilanjutkan dengan pembelajaran Al-Qur’an (PBS) yang dikelompokkan berdasarkan kluster kemampuan dasar anak.

Setelah itu, santri menjalani rutinitas shalat dhuha, dzikir, kegiatan belajar mengajar (KBM) formal sekolah, hingga eksplorasi minat bakat. Pada malam hari, santri diwajibkan mengikuti program keagamaan nonformal berupa madrasah diniyah, kajian kitab metode bandongan, pengajian umum, serta belajar mandiri hingga jam istirahat tiba pukul 22.00 WIB.

Sementara itu, Mudir III Pesantren Tebuireng, H. Lukman Hakim, B.A., menekankan bahwa pilar utama keberhasilan penempaan anak di asrama bertumpu pada keikhlasan dan tingkat kepercayaan absolut dari orang tua.

“Jangan memondokkan anak jika belum percaya dengan pesantren. Ketika orang tua percaya kepada pesantren, insyaallah anak akan lebih mudah menjalani proses belajar dan menuntut ilmu,” tegasnya.

Kendati menuntut kepasrahan total dari orang tua, Lukman menyatakan pihak pembina asrama bersikap terbuka dalam menerima masukan konstruktif serta siap mendampingi setiap dinamika persoalan yang dihadapi santri maupun wali santri sepanjang tahun ajaran berjalan.

Agenda pertemuan yang diawali dengan penampilan seni banjari oleh dewan pembina asrama ini diakhiri dengan pembacaan doa kebaikan yang dipimpin oleh Mudir IV Pesantren Tebuireng KH. Agus Abdul Mughni.

Baca Juga: Gelar Ta’aruf Wali Santri Baru, Pondok Putra Tebuireng Kenalkan Unit dan Jajaran Pengurus


Pewarta: Aulia

Editor: Sutan