Sambut Ribuan Wali Santri Baru, Pengasuh Pesantren Tebuireng Sampaikan Pesan Ini

13
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menggelar pertemuan akbar bersama ribuan wali santri baru di Masjid Ulil Albab Pondok Putri Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Foto: TO

Tebuireng.online- Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menggelar pertemuan akbar bersama ribuan wali santri baru di Masjid Ulil Albab Pondok Putri Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Agenda ini menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan visi pendidikan antara pihak pesantren dan orang tua.

Selain sebagai ruang silaturahmi, forum ini difungsikan untuk mengenalkan struktur pimpinan asrama, jajaran mudir pondok, para pembina, serta kepala sekolah dari seluruh unit pendidikan di bawah naungan Tebuireng. Unit-unit tersebut meliputi jenjang SLTP yakni SMP A. Wahid Hasyim dan MTs Salafiyah Syafi’iyah, serta jenjang SLTA yang mencakup SMA A. Wahid Hasyim, SMK Al-Khoiriyah Hasyim, Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, dan Madrasah Mu’allimin Hasyim Asy’ari.

Dalam sambutannya, Gus Kikin menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus melakukan kilas balik mengenai sejarah panjang metodologi pengajaran di Tebuireng yang terus bertransformasi demi merespons dinamika zaman.

“Perjalanan Pesantren Tebuireng sangatlah panjang karena didirikan pada tahun 1899 oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Yang mana pada itu hanya berfokus pada pendidikan berbasis pengajian saja,” ujar Gus Kikin di hadapan ribuan wali santri, Sabtu.

Gus Kikin menjabarkan bahwa Tebuireng tidak menutup mata terhadap perkembangan dunia luar. Memasuki awal abad ke-20, ketika pergerakan organisasi modern mulai tumbuh di Indonesia, pesantren ini langsung mengambil langkah progresif dengan mengintegrasikan mata pelajaran umum ke dalam struktur kurikulumnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Memasuki tahun berikutnya, lahirlah organisasi di era tersebut. Kemudian Pesantren Tebuireng merespon dengan menambahkan beberapa kurikulum seperti ada pelajaran perhitungan, ada pelajaran ilmu bumi di tahun 1917. Nah, kemudian di tahun 1928 ada pelajaran bahasa Belanda, ada kemudian ditambah pelajaran-pelajaran matematika,” urainya memaparkan data historis.

Langkah adaptif tersebut membuktikan bahwa sejak masa kolonial, Tebuireng telah memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum guna membentuk karakter santri yang berwawasan luas.

Di akhir arahannya, Gus Kikin menitipkan pesan mendalam mengenai target capaian santri. Pihak pesantren berharap proses penempaan di asrama mampu melahirkan figur individu yang memiliki keseimbangan antara keluhuran kepribadian dan kedalaman intelektual saat kembali ke tengah publik.

“Kita mengharapkan anak-anak kitalah nanti dibangun semuanya pribadinya keilmuannya supaya nanti dapat terjung ke masyarakat. Mudah-mudahan dari para santri ini kelak menjadi tokoh-tokoh besar, tokoh-tokoh nasional di masa yang akan datang nanti,” tegas Pengasuh Tebuireng tersebut.

Agenda tatap muka ini ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Gus Kikin untuk memohon ridha dan kelancaran proses belajar para santri baru.

“Mudah-mudahan kita semuanya mendapatkan ridha dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dicurahkan barokah rahmat-Nya kepada kita semuanya. Dan dalam bimbingan Allah menuju satu kenikmatan, anugerah kenikmatan, insyaallah,” pungkasnya.

Baca Juga: Gelar Taaruf Wali Santri Baru, Pondok Putra Tebuireng Kenalkan Unit dan Jajaran Pengurus

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz saat musafahah dengan para wali santri baru Pesantren Tebuireng. Foto: TO