
Oleh: KH. Mukhlis Dimyati*
Sebagai seorang mukmin, kita harus memiliki keyakinan penuh bahwa Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang berdoa. Jika doa tersebut selaras dengan qada dan mendatangkan kebaikan bagi dirinya, Allah akan segera mengabulkannya di dunia.
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Marilah kita selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada kesempatan ini kami akan menyampaikan rahasia pentingnya berdoa kepada Allah SWT ataupun memohon pertolongan kepada Allah. Al-Qur’an sudah memberi gambaran bahwa kita untuk berdoa sebagaimana dalam firman Allah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sejarah telah membuktikan betapa pentingnya mendekatkan diri kepada Allah melalui tadharru’ (berendah diri) dan bersujud meminta pertolongan. Di tengah kondisi yang terdesak dan genting, doa yang dipanjatkan dengan ketulusan penuh memiliki kekuatan besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT.
Baca Juga: Alasan Bulan Muharram Jadi Bulan Duka
Hal ini tecermin nyata dari rantaian doa yang diajarkan oleh para ulama dan diamalkan oleh para pejuang beserta santri saat menghadapi Pertempuran 10 November di Surabaya. Jika bukan karena berkah doa serta bimbingan spiritual dari para ulama, mustahil para santri dan pejuang kemerdekaan dapat meraih kemenangan sedahsyat itu. Secara lahiriah, pihak penjajah datang dengan takabur membawa persenjataan modern yang serba canggih, sangat kontras dengan para pejuang kita yang bergerak dalam keterbatasan, namun maju ke medan laga dengan bersandar sepenuhnya pada kekuatan doa.
Lembaran sejarah lain juga mencatat momen ketika Rasulullah SAW menerima utusan dari kabilah Lihyan, Ri’l, Dhakwan, dan Usayyah. Mereka datang memohon kepada Nabi untuk mengirimkan delegasi sahabat agar bersedia mengajarkan syariat Islam di wilayah mereka. Namun, ketulusan Nabi justru dibalas dengan pengkhianatan yang amat keji.
Para utusan Nabi yang dikirimkan—baik untuk kabilah-kabilah tersebut (dalam Tragedi Bi’ru Ma’unah) maupun delegasi untuk suku ‘Adl dan Al-Qarah (dalam Tragedi Al-Raji’)—bukan diberikan tempat untuk berdakwah, melainkan dikepung dan dibantai tanpa belas kasihan. Ketika kabar duka ini sampai ke Madinah, hati Rasulullah SAW begitu terluka dan berduka, hingga akhirnya beliau melangitkan doa memohon keadilan kepada Allah melalui syariat Qunut Nazilah.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ سَبْعِينَ رَجُلًا لِحَاجَةٍ، يُقَالُ لَهُمُ الْقُرَّاءُ، فَعَرَضَ لَهُمْ حَيَّانِ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ؛ رِعْلٌ وَذَكْوَانُ عِنْدَ بِئْرِ مَعُونَةَ. فَقَالَ الْقَوْمُ: وَاللَّهِ مَا إِيَّاكُمْ أَرَدْنَا، وَإِنَّمَا نَحْنُ مُجْتَازُونَ فِي حَاجَةٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَتَلُوهُمْ. فَدَعَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ شَهْرًا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ، وَذَلِكَ بَدْءُ الْقُنُوتِ وَمَا كُنَّا نَقْنُتُ
“Nabi SAW mengutus tujuh puluh orang (sahabat) yang disebut sebagai Al-Qurra’ (para penghafal Al-Qur’an) untuk suatu keperluan. Namun, mereka dihadang oleh dua kabilah dari suku Bani Sulaim, yaitu Ri’l dan Dhakwan, di dekat sebuah sumur yang disebut Bi’ru Ma’unah.
Baca Juga: Waspadai Amal Saleh yang Dibalut Kemungkaran
Para sahabat berkata: ‘Demi Allah, bukan kalian yang kami tuju, kami hanya sedang melaksanakan tugas dari Nabi SAW.’ Namun kabilah-kabilah itu tetap membantai mereka. Maka Nabi SAW melakukan Qunut selama satu bulan penuh pada salat Subuh, mendoakan kecelakaan bagi kabilah-kabilah Arab tersebut; yaitu Ri’l, Dhakwan, Lihyan, dan Usayyah yang telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga mengabadikan kisah ketabahan Nabi Ayyub AS saat menghadapi ujian yang teramat berat, hingga akhirnya beliau dianugerahi kesembuhan. Nabi Ayyub AS diuji dengan penyakit fisik yang parah, kehilangan seluruh harta kekayaannya, hingga wafatnya anak-anak dan keluarganya.
Terkait beratnya ujian hidup, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang-orang yang utama, dan yang kedudukannya di bawah mereka.” Dalam hadis lain pun ditegaskan: “Seorang laki-laki akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya pun akan diperberat.” Menghadapi badai ujian tersebut, Nabi Ayyub AS tidak pernah berputus asa; beliau tetap bersabar dan melangitkan sebuah doa penuh adab yang kini diabadikan dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 83:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Baca Juga: Waspada Kecemasan Berlebih atau OCD, Ini Petunjuk Allah untuk Mencegahnya
Dari ketiga kisah di atas tampak bahwa pentingnya berdoa yang telah ditunjukkan oleh para ulama’ dan pejuang dalam mengusir penjajah, kanjeng Nabi saat menghadapi ujian, lalu nabi Ayyub yang mendapat ujian berat. Ketiga kisah ini bisa mengambil hikmah betapa penting berdoa kepada Allah SWT.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan oleh Allah
Ketika berdoa kita harus yakin dan penuh keyakinan bahwa doa pasti dikabulkan. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan
ادْعُوا اللهَ وأنتمْ مُوقِنُونَ بالإجابةِ، واعلمُوا أنَّ اللهَ لا يَستجيبُ دُعاءً من قلْبٍ غافِلٍ لَاهٍ
Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahulilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang lali dan lupa.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan (kabulkan) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong daripada beribadah (berdoa) kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”
Sebagai seorang mukmin, kita harus memiliki keyakinan penuh bahwa Allah SWT tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang berdoa. Jika doa tersebut selaras dengan qada dan mendatangkan kebaikan bagi dirinya, Allah akan segera mengabulkannya di dunia.
Baca Juga: Fatwa Sembelih Dam di Tanah Air itu Bukan Khilaf, Melainkan Masalah yang Tak Perlu Dihiraukan
Namun, jika Allah tidak mengabulkannya secara instan, itu berarti Allah sedang menyimpan pahala doa tersebut sebagai tabungan terbaik di akhirat kelak, atau Dia sedang menggantinya dengan menghindarkan hamba tersebut dari keburukan dan musibah lain yang sepadan.
Sebuah syair mengingatkan kita:
لاَ تَسْأَلَنَّ بُنَيَّ آدَمَ حَاجَةً
وَسَلِ الَّذِي أَبوَابُه لاَ تُحْجَبُ
اللهُ يَغْضَبُ إِن تَرَكْتَ سُؤَالَهُ
وَبُنَيَّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ
Janganlah kamu meminta keperluan kepada anak Adam
Tetapi berdoalah kepada zat yang pintunya tidak pernah tertutup
Allah murka jika engkau meninggalkan doa
Berbeda dengan anak Adam yang murka ketika diminta
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Pentranskrip: Yuniar Indra Yahya


















