
Oleh: KH. Djunaidi Hidayat*
Status tertinggi seorang manusia adalah menjadi ‘Abdullah (Hamba Allah). Boleh mencintai harta, tetapi jangan sampai diperbudak oleh harta (‘abd al-mal). Kita boleh memiliki visi dan target menjadi pemimpin, tetapi jangan sampai menjadi hamba kedudukan dan takhta (‘abd al-jah).
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah,
Melalui khutbah ini, mari kita perkuat kualitas takwa kita kepada Allah. Caranya adalah dengan menjalankan segala hal yang diperintahkan oleh-Nya (al-ma’murat), baik perintah yang bersifat wajib (al-wajibat) maupun hal-hal yang bersifat anjuran atau sunah (al-mandubat).
Baca Juga: Penamaan Bulan Qamariyah, Sikap Bijak Islam Memandang Budaya
Sebaliknya, kita juga harus meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah (al-manhiyyat), baik larangan mutlak yang haram dilakukan, maupun hal-hal yang sebaiknya ditinggalkan atau dimakruhkan (al-makruhat).
Jamaah rahimakumullah,
Hari ini adalah hari raya Idul Adha, hari di mana Allah memberikan jamuan kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, pada hari ini Allah mengharamkan hamba-Nya untuk berpuasa, guna memastikan semua orang bisa makan dan bersukacita. Begitu Maha Bijaksana Allah dalam menjaga hamba-Nya, menetapkan syariat yang betul-betul memperhatikan kehidupan manusia secara utuh.
Idul Adha juga merupakan syariat yang terkait erat dengan momentum sejarah yang tidak akan pernah lekang dari ingatan umat manusia. Yaitu kisah keluarga Nabi Ibrahim a.s yang memiliki keimanan kokoh, tawakal yang kuat, kesabaran yang konsisten, dan kerelaan berkorban terhadap sesuatu yang paling dicintainya sekalipun.
Baca Juga: Alasan Bulan Muharram Jadi Bulan Duka
Karena ketaatan itulah, Nabi Ibrahim mendapatkan gelar langsung dari Allah sebagai Khalilullah (Kekasih Allah). Tahukah kita mengapa beliau diberi gelar tersebut? Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ketika Allah bertanya kepadanya, Nabi Ibrahim menjawab, “Saya tidak tahu.” Lalu Allah Swt. memberikan jawaban: (لأني رأيت العطاء أحب إليك من الأخذ) “Li-anniy ra’aytul-‘atha’ ahabba ilaika minal-akhdzi” “Karena Aku melihat engkau lebih senang memberi daripada meminta.”
Itulah sebab utama Nabi Ibrahim a.s diberikan gelar Khalilullah. Hari ini kita harus mengambil pelajaran betapa beliau telah menjadi “madrasah” yang memberikan teladan nyata di dalam kehidupan; betapa keimanan terhadap perintah Allah harus diutamakan, meskipun secara akal manusia seolah tidak logis.
Hal itu terjadi ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail, padahal kelahirannya telah beliau nanti-nantikan dalam waktu yang sangat lama. Namun, beliau tetap meyakini dan siap melaksanakan perintah itu.
Ketika beliau menyampaikan wahyu tersebut kepada putranya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Sang anak yang saleh menanggapi, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Jika itu memang perintah Allah, insyaallah anakmu ini akan bersabar melakukannya.”
Baca Juga: Adab dan Rahasia Terkabulnya Doa
Ketika ayah dan anak ini membulatkan tekad dan berangkat melaksanakan perintah tersebut, di tengah jalan mereka diganggu oleh setan. Nabi Ibrahim AS lantas melempari setan-setan itu dengan batu—sebuah peristiwa yang hingga saat ini disimbolkan melalui ibadah Jamarat.
Berkat kesabaran dan ketulusan Nabi Ibrahim, ketika pisau sudah siap di leher putranya, Allah menggantinya (fida’) dengan seekor domba sembelihan yang besar. Ini adalah bukti dan simbol bahwa Allah tidak akan memerintahkan sesuatu di luar batas akal dan kemampuan hamba-Nya demi menyiksa. Allah hanya memberikan ujian untuk membuktikan bahwa Nabi Ibrahim berani mengorbankan sesuatu yang paling ia cintai demi Tuhannya.
Jika berbicara soal jamuan, Nabi Ibrahim a.s juga dikenal sebagai nabi yang sangat dermawan, suka memberi makan orang lain, atau suka mayoran (makan bersama). Ketika ada tamu, beliau tidak banyak bicara dan tidak butuh waktu lama untuk segera menghidangkan makanan. Sifat inilah yang turut mengantarkan beliau diangkat oleh Allah sebagai Khalilullah.
Saat ini, di dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, kita perlu memantapkan diri untuk mencontoh pengorbanan dan tawakal Nabi Ibrahim. Fitrah manusia memang menyukai harta dan jabatan. Akan tetapi, ketika Allah memanggil untuk membela agama atau kemanusiaan, apa yang kita cintai harus berani kita pasrahkan kepada Allah. Yakinlah bahwa apa yang kita korbankan pasti akan diberikan ganti (fida’) oleh Allah, sebagaimana Ibrahim yang namanya diabadikan menjadi sosok bersejarah bagi umat manusia.
Status tertinggi seorang manusia adalah menjadi ‘Abdullah (Hamba Allah). Boleh mencintai harta, tetapi jangan sampai diperbudak oleh harta (‘abd al-mal). Kita boleh memiliki visi dan target menjadi pemimpin, tetapi jangan sampai menjadi hamba kedudukan dan takhta (‘abd al-jah). Kita tidak boleh menjadi hamba dari hawa nafsu. Kita harus “menyembelih” nafsu kita. Jika Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya, seharusnya kita juga memiliki tekad untuk menyembelih keserakahan batin kita.
Baca Juga: Trik Sedekah Tanpa Melakukan Apa Pun
Sebelum memasuki Idul Adha, kita disunahkan untuk berpuasa Arafah, yakni puasa yang dilakukan untuk meraih kemuliaan hari Arafah. Itu adalah hari di mana Allah memerintahkan jemaah haji untuk berkumpul di Padang Arafah. Arafah bermakna momen untuk mengenal diri kita dan mengenal Allah.
Sementara itu, “Wukuf” artinya berhenti sejenak. Berhenti dari hiruk-pikuk perputaran hidup yang terus bergerak, berhenti dari kejaran ambisi, dan berhenti dari segala hal yang berhubungan dengan nafsu duniawi. Wukuf menyadarkan kita bahwa kehidupan sejatinya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Oleh karena itu, khusus bagi para santri, ini adalah saatnya kalian bergerak menyongsong kehidupan. Kehidupan kalian yang sesungguhnya ada di sepuluh atau lima belas tahun ke depan. Maka pemahaman agama, penguasaan ilmu, serta kemuliaan karakter dan akhlak adalah kunci bagi kalian untuk meneladani ketaatan Nabi Ibrahim.
Baca Juga: Cara Meraih Pahala dari Hal yang Mubah
Terakhir, semoga Allah SWT memberikan kemampuan lahir dan batin kepada kita semua agar kelak diberikan kesempatan melaksanakan ibadah haji. Sebab kemuliaan ibadah haji itu melekat pada tempat atau situsnya, yang harus didatangi secara langsung di Tanah Suci.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah Jombang.


















