Yang Tidak Diceritakan Takdir

4
Sebuah ilustrasi cerita seorang sahabat
Ada satu hal yang sampai hari ini masih sering membuatku berpikir keras: bagaimana sebenarnya Allah mengatur takdir manusia?

Pertanyaan itu muncul bukan karena aku membaca buku filsafat, bukan pula karena sedang mengikuti kajian tentang qada dan qadar. Pertanyaan itu muncul karena aku melihat sendiri kehidupan dua sahabatku yang sejak remaja selalu membuatku berasumsi bahwa masa depan mereka sudah bisa ditebak.

Sebut saja mereka Alya dan Nisa.

Alya adalah perempuan yang sejak dulu selalu menjadi pusat perhatian. Wajahnya cantik, pembawaannya elegan, cara bicaranya lembut, dan hampir di setiap lingkungan yang ia masuki selalu ada orang yang menyukainya. Bahkan ketika kami masih sekolah, tidak sedikit laki-laki yang mencari berbagai alasan hanya untuk bisa berbicara dengannya. Aku yang melihat dari dekat sering kali berpikir bahwa hidup Alya pasti mudah, terutama dalam urusan jodoh. Rasanya mustahil perempuan seperti dia akan kesulitan menemukan pasangan hidup.

Berbeda dengan Nisa.

Nisa bukan tipe perempuan yang senang menjadi pusat perhatian. Wajahnya manis, tetapi ia tidak pernah berusaha menonjolkan diri. Ia lebih suka duduk bersama teman-teman dekat daripada berkenalan dengan banyak orang. Kalau Alya sering mendapat perhatian tanpa perlu mencarinya, maka Nisa justru seolah hidup di luar radar banyak orang. Ia juga terkenal menjaga pergaulan dengan laki-laki. Tidak pernah ada cerita tentang siapa yang dekat dengannya, tidak pernah ada gosip tentang hubungan khusus, bahkan sering kali kami bercanda bahwa mungkin Nisa akan menjadi orang terakhir yang menikah di antara kami semua.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat itu kami tertawa bersama. Tidak ada yang menyangka bahwa bertahun-tahun kemudian justru candaan itulah yang dipatahkan oleh kenyataan.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Masa sekolah berakhir, kami mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing. Sebagian melanjutkan pendidikan, sebagian mulai bekerja, dan sebagian lagi mulai memasuki fase yang sering menjadi bahan pembicaraan ketika berkumpul: pernikahan.

Satu per satu teman mulai membawa kabar bahagia. Ada yang bertunangan, ada yang menikah, ada pula yang sudah memiliki anak.

Di tengah semua itu, aku masih melihat kehidupan Alya dan Nisa seperti biasanya.

Alya masih cantik seperti dulu. Bahkan semakin dewasa, ia terlihat semakin matang dan menarik. Banyak orang masih menyukainya. Sesekali aku mendengar cerita tentang seseorang yang mendekatinya, lalu beberapa bulan kemudian menghilang. Ada lagi yang datang, kemudian tidak berlanjut. Ada yang terlihat sangat serius, tetapi ternyata tidak berjodoh.

Setiap kali mendengar cerita itu, aku selalu merasa heran.

“Padahal Alya itu cantik, baik, pintar juga. Kok belum ketemu yang cocok ya?” pikirku.

Di sisi lain, kehidupan Nisa tampak tenang seperti biasa. Tidak ada perubahan yang mencolok. Tidak ada kisah cinta yang diceritakan kepada kami. Tidak ada laki-laki yang terlihat dekat dengannya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang menuju pernikahan.

Karena itulah aku benar-benar terkejut ketika suatu sore sebuah pesan masuk ke grup pertemanan kami.

“Assalamu’alaikum teman-teman, mohon doanya ya. InsyaAllah saya akan melangsungkan pernikahan bulan depan.”

Pesan itu dikirim oleh Nisa.

Aku sampai membaca ulang beberapa kali untuk memastikan tidak salah lihat.

“Nisa?”

Aku bahkan langsung menghubunginya secara pribadi.

“Nis, serius ini?”

“Iya.”

“Sejak kapan?” Nisa hanya mengirim emoji tertawa.

“Memangnya kenapa?”

“Aku nggak pernah dengar cerita apa-apa.”

“Memang nggak pernah cerita.”

“Lah, terus calonmu datang dari mana?”

Aku masih ingat betul balasan yang ia kirim.

“Dari doa yang lama.” Jawaban itu justru membuatku semakin penasaran.

Beberapa hari kemudian kami bertemu langsung. Kesempatan itu tidak kusia-siakan.

“Nisa, jujur saja, aku benar-benar kaget.”

“Kenapa?”

“Karena selama ini kamu kelihatan nggak dekat sama siapa-siapa.” Nisa tersenyum kecil.

“Aku juga awalnya nggak menyangka.”

“Maksudnya?”

“Ternyata dia sudah memperhatikanku cukup lama.”

Aku langsung terdiam.

“Cukup lama itu berapa lama?”

“Beberapa tahun.”

“Hah?”

Aku hampir tidak percaya.

“Beberapa tahun? Tapi kamu nggak tahu?”

“Nggak.”

“Dia nggak pernah bilang?”

“Nggak.”

“Lalu kok bisa?”

Nisa menunduk sebentar sebelum menjawab.

“Katanya dia ingin memastikan dirinya siap dulu. Dia nggak mau datang hanya membawa perasaan. Dia ingin datang membawa kesiapan.”

Untuk beberapa detik aku tidak bisa berkata-kata. Di kepalaku muncul begitu banyak pertanyaan.

Bagaimana mungkin seseorang memperhatikan orang lain selama bertahun-tahun tanpa diketahui?

Bagaimana mungkin kisah sebesar itu tidak pernah terlihat oleh siapa pun? Dan yang paling membuatku heran, bagaimana mungkin semua itu terjadi pada Nisa, orang yang selama ini kami kira tidak memiliki kisah apa-apa?

***

Malam setelah pertemuan itu aku tidak bisa langsung tidur. Pikiranku justru melayang kepada Alya.

Sampai saat itu Alya masih belum menemukan seseorang yang benar-benar cocok untuk menjadi pendamping hidupnya.

Padahal jika manusia diberi kesempatan mengatur takdir, hampir semua orang mungkin akan memilih Alya sebagai orang yang lebih dulu menikah.

Cantik.

Pintar.

Disukai banyak orang.

Peluangnya terlihat jauh lebih besar.

Tetapi kenyataan berkata lain.

Di situlah untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa kecil di hadapan takdir Allah. Selama ini ternyata aku terlalu mudah membuat kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat.

Aku mengira banyaknya perhatian berarti dekat dengan jodoh. Aku mengira sepinya perhatian berarti jauh dari jodoh.

Aku mengira jalan hidup manusia bisa ditebak hanya dengan melihat keadaan luarnya. Padahal ternyata tidak.

Takdir bekerja dengan cara yang sama sekali tidak bisa dihitung oleh logika manusia. Yang terlihat paling siap belum tentu lebih dulu sampai.

Yang terlihat biasa saja belum tentu tertinggal. Yang tampak sepi belum tentu sendirian. Yang tampak ramai belum tentu sudah menemukan tujuan.

Beberapa waktu kemudian aku bertemu Alya. Kami berbincang banyak hal hingga akhirnya pembicaraan mengarah pada pernikahan Nisa.

“Aku senang sekali untuk Nisa,” kata Alya.

“Kamu nggak sedih?” Alya tersenyum.

“Sedih kenapa?”

“Karena semua orang sudah mulai menikah.” Alya memandang jauh ke depan.

“Dulu aku pernah berpikir seperti itu. Tapi sekarang aku mulai paham.”

“Paham apa?”

“Bahwa Allah tidak pernah terlambat.” Aku diam mendengarkannya.

“Kadang kita melihat orang lain sudah sampai tujuan, lalu mengira kita tertinggal. Padahal bisa jadi kita hanya sedang berada di jalan yang berbeda.”

Jawaban itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa menenangkan. Sepulang dari pertemuan itu aku semakin banyak merenung.

Aku memikirkan Alya. Aku memikirkan Nisa. Lalu tanpa sadar aku memikirkan diriku sendiri. Bukankah selama ini aku juga sering takut?

Takut jika tidak menemukan orang yang tepat. Takut jika harus menunggu terlalu lama. Takut jika ternyata kisahku tidak seindah kisah orang lain.

Namun setelah melihat dua sahabatku, aku menyadari satu hal penting. Kita sering cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum ditulis selesai oleh Allah. Kita ingin membaca halaman terakhir, padahal cerita kita masih berada di tengah-tengah.

Kita ingin mengetahui siapa jodoh kita, kapan datangnya, bagaimana bentuk kehidupannya, seolah-olah ketidakpastian adalah musuh yang harus dilawan. Padahal justru di situlah letak keindahan iman.

Kita tidak tahu. Memang tidak perlu tahu. Karena tugas kita bukan menebak takdir. Tugas kita adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.

Nisa mengajarkanku bahwa kisah indah bisa tumbuh diam-diam tanpa diketahui siapa pun. Alya mengajarkanku bahwa menunggu bukan berarti gagal. Dan keduanya mengajarkanku bahwa takdir Allah tidak pernah bisa diukur dengan standar manusia.

Sampai hari ini aku masih belum tahu bagaimana kisah hidupku akan berakhir. Aku tidak tahu siapa yang sedang Allah siapkan. Aku tidak tahu apakah ia sudah dekat atau masih sangat jauh. Aku tidak tahu apakah pertemuan itu akan datang cepat atau justru setelah penantian yang panjang.

Tetapi setiap kali rasa takut itu muncul, aku teringat kepada Alya dan Nisa. Dua perempuan yang membuatku memahami bahwa apa yang terlihat oleh mata hanyalah sebagian kecil dari cerita.

Aku percaya, karena di balik kehidupan yang tampak biasa, Allah bisa saja sedang menulis kisah yang luar biasa. Di balik penantian yang terasa lama, Allah bisa saja sedang menyiapkan jawaban yang jauh lebih baik daripada semua prasangka manusia.