
Rumah yang Selalu Menunggu
Aku pulang
setelah jauh mengembara di jalan-jalan tak selalu ramah
setelah berkali-kali tersesat
di antara mimpi yang kupikir akan membuatku bahagia.
Dan ibu…
Ia tetap berada di sana,
dengan doa yang tak pernah habis dipanjatkan,
Aku memeluknya,
seluruh lelah yang kupanggul bertahun-tahun
jatuh satu per satu ke lantai.
Di dada ibu,
aku menemukan tempat pulang
yang bahkan waktu tak mampu mengubahnya.
Di Meja Makan yang Sederhana
Rumah kami tak megah
Atapnya biasa saja
dindingnya tak dipenuhi kemewahan
Namun setiap malam
ada meja makan yang menyatukan kami
dalam cerita-cerita sederhana
Ayah bercerita tentang lelahnya bekerja
ibu menyembunyikan letihnya dengan senyum
anak-anak membawa tawa
yang membuat segala kesulitan terasa ringan
Di rumah itulah aku belajar
bahwa bahagia bukan tentang memiliki segalanya
melainkan tentang masih bisa berkumpul
meski tak memiliki banyak hal
Doa yang Tak Pernah Selesai
Malam telah larut
Anak-anak tertidur dengan mimpi mereka
suamiku terlelap setelah seharian berjuang
menaklukkan kerasnya kehidupan
Aku masih terjaga
Di hadapan Tuhan
kupungut satu per satu nama yang kucintai
lalu kuselipkan dalam doa
Ya Allah
jika rezeki sedang sempit, lapangkanlah.
Jika langkah kami terasa berat, kuatkanlah.
Jika hati kami sedang rapuh, teguhkanlah.
Aku tidak meminta rumah yang mewah
tidak pula kehidupan tanpa ujian
Aku hanya memohon
jangan biarkan keluarga ini kehilangan cinta
jangan biarkan kami saling melukai
karena lelah yang tak terucapkan
Karena cinta seorang istri
sering kali bukan tentang kata-kata yang diucapkan
melainkan doa-doa panjang
yang diam-diam ia panjatkan setiap malam.
Penulis: Ummu Masrurah, Alumnus Annuqayah Sumenep.


















