Rumah yang Selalu Menunggumu Pulang

19

Rumah yang Selalu Menunggu

Aku pulang
setelah jauh mengembara di jalan-jalan tak selalu ramah
setelah berkali-kali tersesat
di antara mimpi yang kupikir akan membuatku bahagia.

Dan ibu…

Ia tetap berada di sana,
dengan doa yang tak pernah habis dipanjatkan,

Aku memeluknya,
seluruh lelah yang kupanggul bertahun-tahun
jatuh satu per satu ke lantai.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di dada ibu,
aku menemukan tempat pulang
yang bahkan waktu tak mampu mengubahnya.


Di Meja Makan yang Sederhana

Rumah kami tak megah
Atapnya biasa saja
dindingnya tak dipenuhi kemewahan

Namun setiap malam
ada meja makan yang menyatukan kami
dalam cerita-cerita sederhana

Ayah bercerita tentang lelahnya bekerja
ibu menyembunyikan letihnya dengan senyum
anak-anak membawa tawa
yang membuat segala kesulitan terasa ringan

Di rumah itulah aku belajar
bahwa bahagia bukan tentang memiliki segalanya
melainkan tentang masih bisa berkumpul
meski tak memiliki banyak hal


Doa yang Tak Pernah Selesai

Malam telah larut

Anak-anak tertidur dengan mimpi mereka
suamiku terlelap setelah seharian berjuang
menaklukkan kerasnya kehidupan

Aku masih terjaga

Di hadapan Tuhan
kupungut satu per satu nama yang kucintai
lalu kuselipkan dalam doa

Ya Allah
jika rezeki sedang sempit, lapangkanlah.
Jika langkah kami terasa berat, kuatkanlah.
Jika hati kami sedang rapuh, teguhkanlah.

Aku tidak meminta rumah yang mewah
tidak pula kehidupan tanpa ujian

Aku hanya memohon
jangan biarkan keluarga ini kehilangan cinta
jangan biarkan kami saling melukai
karena lelah yang tak terucapkan

Karena cinta seorang istri
sering kali bukan tentang kata-kata yang diucapkan
melainkan doa-doa panjang
yang diam-diam ia panjatkan setiap malam.



Penulis: Ummu Masrurah, Alumnus Annuqayah Sumenep.