
Rembulan Menjahit Malam
Jarum perak rembulan menari di langit hitam pekat
menjahit malam yang robek oleh sunyi dan rindu
benang cahayanya turun lembut
menyulam atap desa
yang terlelap
bagai bayi dalam gendongan ibu pertiwi
awan lewat bagai kapas
menutup rapat luka gelap
sementara bintang jadi payet kecil yang berkedip nakal
angin jadi tangan halus
merapikan jahitan demi jahitan
hingga dinginnya malam tersulam hangat di dada bumi
danau di bawah pun jadi cermin retak
memantulkan karya agung sang penenun langit
rembulan tersenyum
puas melihat malam utuh kembali
selembar sutra gelap yang kini bersinar tenang
Pecahan Cahaya di Telaga Malam
Rembulan pecah jadi ribuan keping perak di telaga tua
cahaya dinginnya menari liar di atas air hitam legam
setiap riak jadi jari-jari mungil yang nakal
menggoyang pantulan langit
sampai bintang bergulingan
angin adalah dalang usil
mengacak karya sang bulan
merobek kesempurnaan jadi doa-doa berkilau tanpa kata
kodok di pinggir diam
bagai sufi bertafakur
menyaksikan mukjizat kecil yang jatuh dari langit diam
jangkrik bersenandung
jadi gamelan malam yang sabar
mengiringi air menenun luka jadi keindahan
telaga itu cermin retak milik semesta yang bijak
menyimpan pecahan cahaya meski rembulan telah pulang
Ia janji
esok akan menyulamnya utuh kembali
Sutra Rembulan
Rembulan menenun sutra di langit malam yang kelam
benang peraknya jatuh lembu
menyentuh atap rumah-rumah lelah
setiap helaian cahaya jadi selimut tipis bagi bumi menggigil
menghangatkan hati yang semalam membatu karena rindu
angin jadi tukang jahit
merapikan lipatan demi lipatan
sementara awan kapas menutup rapat celah gelap yang menganga
bintang bertabur bagai payet
berkedip nakal memuji karya agung
dan telaga di bawah jadi cermin
menampung sutra yang jatuh
sutra itu doa
diamnya menenun luka menjadi harapan
menenun luka malam jadi harapan baru yang tenang


















