
Tebuireng.online- Rangkaian Wisuda Hafidz-Hafidzah ke-XIII dan Haflah Akhirussanah Madrasah Aliyah Angkatan VI Pesantren Tebuireng 08 Banten diisi dengan pembekalan nilai-nilai kepesantrenan di Aula KH. Salahuddin Wahid, Petir, Serang, Banten, Ahad (22/06/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Mudir V Pesantren Tebuireng Jombang, KH. Ahmad Roziqi, Lc., M.H.I., menyampaikan mauidzah hasanah bertajuk “Al-‘Ilmu wal Adab fi Dhau’i Sirah Sayyidina Anas bin Malik RA”. Ia menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan berburu pengetahuan.
“Yang dirayakan hari ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal pengamalan ilmu. Gelar, ijazah, dan pengakuan akademik hanyalah penanda bahwa seseorang telah menyelesaikan satu tahapan pendidikan. Adapun keberhasilan sejati seorang santri adalah ketika ilmu yang diperolehnya mampu membentuk akhlak, memperkuat pengabdian, dan mendekatkannya kepada Allah SWT,” ungkap Kiai Roziqi di hadapan para wisudawan, Ahad.
Kiai Roziqi menjelaskan, dalam tradisi pesantren, ilmu bertugas menerangi akal sedangkan adab menjaga agar ilmu tersebut tidak melahirkan kesombongan. Sebagai basis teladan, ia mengangkat kisah kedekatan sahabat Anas bin Malik RA yang setia berkhidmah melayani Rasulullah SAW sejak usia sepuluh tahun hingga Nabi wafat.
“Anas bin Malik RA mengajarkan kepada kita bahwa sebelum menjadi ulama besar, seseorang harus terlebih dahulu menjadi murid yang baik. Sebelum menjadi guru umat, ia harus belajar melayani dan mengabdi dengan penuh ketulusan,” jelasnya.
Guna memperkuat urgensi adab di atas kecerdasan intelektual, Kiai Roziqi mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim saat ibunda Anas, Ummu Sulaim, memohon doa kepada Rasulullah SAW:
“Allahummar-zuqhu maalan wa waladan wa baarik lahu fiihi.”
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah kepadanya harta, keturunan, dan keberkahan pada keduanya.”
Keberkahan umur dan melimpahnya keturunan Anas bin Malik menjadi bukti konkret keutamaan adab murid terhadap gurunya. Kiai Roziqi juga menyertakan doa populer riwayat Tirmidzi yang menjadi landasan parameter keberhasilan ilmu di tengah masyarakat:
“Allahumman-fa’nii bimaa ‘allamtanii, wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa.”
Artinya: “Ya Allah, berikan manfaat kepadaku dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah kepadaku ilmu.”
Lebih lanjut, Kiai Roziqi menjabarkan tata keilmuan pesantren dengan menyitir kaidah dawuh (pernyataan) monumental dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari:
“Attauhidu yujibul imana, faman la imana lahu la tauhida lahu. Wal imanu yujibus syari’ata, faman la syari’ata lahu la imana lahu wa la tauhida lahu. Was syari’atu tujibul adaba, faman la adaba lahu la syari’ata lahu wa la imana lahu wa la tauhida lahu.”
Artinya: Tauhid melahirkan iman, iman melahirkan syariat, dan syariat melahirkan adab. Seseorang yang kehilangan aspek adab dinilai otomatis kehilangan buah ranah syariat, fondasi iman, bahkan nilai tauhidnya.
“Yang dibutuhkan umat hari ini bukan hanya orang pintar, tetapi orang berilmu yang tetap tawadhu’, orang sukses yang tetap menghormati gurunya, orang berjabatan yang tetap menjaga akhlaknya, dan orang yang selalu merasa dirinya adalah santri di mana pun berada,” tegasnya.
Di akhir paparannya, ia berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar mengonversi prestasi akademik dan hafalan Al-Qur’an mereka sebagai modal utama memperluas asas kemanfaatan bagi publik, bukan sekadar komoditas kebanggaan pribadi.
Baca Juga: Haflah Akhirussanah Tebuireng 08 Banten, 135 Santri dan Penghafal Al-Qur’an Diwisuda
Pewarta: Fatih
Editor: Sutan


















