Islam dan Kesetaraan Penyandang Disabilitas

21
Sebuah ilustrasi oleh AI

Beberapa waktu yang lalu kita bersama-sama ditampilkan bagaimana salah satu konten kreator yang merendahkan penyandang disabilitas, dengan beranggapan itu hanya sebuah candaan semata. Hal tersebut memicu kecaman publik karena dianggap mengeksploitasi atau mengejek penyandang disabilitas demi mendapatkan popularitas (ableism).

Keberadaan penyandang disabilitas sendiri, seringkali hanya dianggap sebagai kepentigan non-disabilitas agar memberi suntikan inspirasi, dorongan motivasi dan semangat, karena menganggap bahwa “seburuk apa pun hidup saya, ternyata tidak lebih buruk dari pada orang-orang itu yang menyandang disabilitas.”

Baca Juga: Islam, Agama Ramah Disabilitas

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sehingga pada akhirnya, para penyandang disabilitas banyak dibuat cacat dari masyarakat di sekitar kita, dari pada tubuh kita. Artinya ia menjadi benar-benar cacat, karna hanya berbeda bentuk fisik dari sebagian banyak orang pada umumnya. Hal ini lah yang justru memperburuk keadaan bagi para penyandang disabilitas, bahwa tatanan hidup bersama yang seharusnya menjadi tempat ruang tumbuh bersama, tidak menjamin keberadaan mereka.

Seringkali kita melihat bagaimana penyandang disabilitas diperlakukan secara tidak adil, bahkan untuk hak-haknya saja sering kali dilucuti. Pada saat yang bersamaan penyandang disabilitas, sering kali menjadi sebuah acuan untuk dipertontonkan untuk perihal motivasi, sebagaimana contoh; fenomena inspiration porn kerap mengambil segmen religi dan secara masif dipertontonkan oleh media. Misalnya, sebuah acara yang menampilkan anak-anak penyandang disabilitas yang berhasil menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Kehadiran mereka hanya untuk diobjektifikasi saja, yang dipertunjukkan perbedaan karakteristik biologis tubuhnya, atau dipertontonkan kesedihan dan kesusahannya.

Islam Memandang Penyandang Disabilitas

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwasanya Islam adalah agama yang berlandaskan pada prinsip Rahmatan lil Alamin, kasih sayang kepada seluruh alam. Hal itu pula berlaku kepada para penyandang disabilitas. Karena pada hakikatnya, di mata Allah semua mahluk adalah sama serta setara. Yang membedakan hanyalah pada kadar ketakwaannya yang menjadikan manusia lebih mulia dari satu dengan yang lainnya.

Al-Quran sebagai pedoman tata hidup umat Islam, juga menyebutkan beberapa term yang bersangkutan dengan difabel. Diantaranya ada kata (صم) shummun yang memiliki arti tunarungu, (بكم) bukmun berarti tunawicara, (عمي / أعمى ) a’maa/ ‘umyun berarti tunanetra, (أكمه) akmah berarti tunantetra yang tidak menyeluruh/total, dan (أعرج) a’raj yang berarti tunadaksa atau memiliki kecacatan fisik, seperti pincang dan sebagainya.

Baca Juga: Teladan Para Sahabat Penyandang Disabilitas

Sekalipun secara eksplisit term di atas mengacu pada difabel, namun Al-Quran tidak menunjukkan sebagai makna cacat dalam arti lain “kecacatan fisik”. Konotasi makna  yang tersirat lebih cenderung pada cacat non-fisik dalam konteks sebagai ancaman atas setiap prilaku manusia yang memunggungi norma Islam maupun kemanusiaan. Hal ini dapat berupa upaya penyekutuan Allah, mengingkari hari akhir, penyangkalan atas risalah dan wahyu yang dibawa RasulNya, hingga monopoli kebenaran sesuai kehendaknya yang berujung menyalahi yang liyan, berbuat buruk dan kerusakan, dan sebagainya.

Jauh sebelum Islam hadir, para penyandang disabilitas, seringkali tidak memiliki hak-hak yang sama sebagaimana manusia pada umumnya. Mereka memandang rendah para penyandang disabilitas bahkan sampai dianggap bukan sebagai manusia.

Takala Islam hadir, sebagai agama kasih dan sayang seluruh alam, penyandang disabilitas memetiki harapan dan diangkat derajatnya. Karena  dalam Islam sendiri, tidak pernah sedikitpun memandang rendah manusia. Alquran memberikan pesan rahmah dan kasih sayang sebagai pedoman hidup untuk tidak saling menyakiti, menjunjung tinggi kesetaraan, tidak peduli dari mana berasal, ras kulit putih maupun hitam, kaya miskin kesemuanya sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Nabi Muhammad sendiri memberikan suri tauladan, bagaimana memperlakukan seorang dari golongan penyandang disabilitas. Salah satu sahabat Nabi yakni Ibn Ummi Maktum adalah seorang tunanetra yang disayangi Rasul. Beliau terus memberikan akses untuk memberdayakan potensi dan kemampuan yang dimiliki Ibn Ummi Maktum. Dalam suatu riwayat, Ibn Ummi Maktum ditunjuk sebagai muadzzin lantaran suara yang dimilikinya bahkan ia juga dipersilahkan menjadi Imam shalat sebagaimana diceritakan Asy-Sya’bi:

Baca Juga: Bahaya Pseudosains dalam Narasi Fitrah

Tidak hanya itu, ia juga pernah mengikuti perang meski nabi telah mempersilahkan untuk tidak ikut perang. Kekurangan yang dimiliki bukan alasan baginya untuk tetap berkontribusi membela Allah dan RasulNya, mungkin jika dilihat secara fisik, akan nampak nihil bagi seorang tunanetra turut andil dalam berperang. Tapi nyatanya ibn Ummi Maktum tetap berinisiatif tinggi, ia menyelinap ke medan perang menggunakan pakaian-pakaian hitam sambil menghamburkan pasir ke arah musuh.

Selain Ibn Ummi Maktum, banyak pula sahabat yang memiliki kemampuan berbeda (different ability) yang memiliki peran penting dan berpengaruh dalam proses penyebaran dan perkembangan Islam masa awal.

Pada akhirnya, ada satu hal yang harus kita ingat bersama-sama bawhasanya mereka yang menyadangan status disabilitas bukan manusia yang layak dikucilkan oleh kelompok masyarakat. Bukan juga sebagai manusia yang tidak memiliki daya. Hanya saja mereka memiliki keterbatasan yang berbeda dari manusia pada umumnya. Dan hal yang bisa kita lakukan adalah dengan cara menjadi pendukung untuk keberlanjutan hidup dan masa depan mereka.



Sumber: https://kemahasiswaan.uii.ac.id/islam-adalah-agama-yang-memihak-kaum-difabel/