
Garam di Luka Lama
Kepercayaan dulu adalah jembatan
kokoh mengantar dua hati menyeberang
kini jembatan itu patah
terjun bebas ke sungai keraguan
Kau datang membawa maaf
tapi maaf mu garam di luka lama
setiap kata manis menyengat
membuat bekas menganga kembali
Aku pernah percaya langit takkan runtuh di atas kepala
ternyata awan bisa berkhianat
menurunkan hujan duri
janji yang Kau ukir di pasir
hapus ombak tanpa ampun
Aku belajar berenang sendiri
meski dada masih perih
waktu adalah dokter bisu
menjahit pelan tanpa bius
luka tak hilang
hanya berubah jadi cerita
Aku tak menutup pintu
tapi kuncinya sudah ku ganti
jika kembali
jangan bawa garam
bawalah obat
Rumah Tanpa Kunci
Dulu rumah ini istana
Kau rajanya
Aku ratu yang percaya
setiap janji Kau gembok rapat
Kupikir aman selamanya
tapi Kau buang kuncinya ke laut ragu
kini pintu terbuka lebar
angin curiga masuk sesuka hati
kepercayaan mati seperti lampu padam
bayangmu jadi maling yang mencuri tenang
Aku merawat puing dengan jiwa terbuka
setiap langkahmu menggema
tapi gema itu dusta
Aku tak mengusir
hanya belajar pagar sendiri
rumah tanpa kunci tetap rumah
asal penghuninya tak lagi pengkhianat
Kaca Retak
Kepercayaan kita dulu cermin utuh
memantulkan tawa tanpa cela
satu dusta kecil Kau lempar
jadi batu yang memecah bening
retakan merambat seperti ular
membelah wajahmu jadi seribu dusta
Aku mencoba menempel pecahan dengan jari berdarah
tapi lem air mata tak cukup kuat menahan angin curiga
kini setiap Aku menatapmu
bayangan pecah menatap balik
cantiknya hancur
sama seperti janji
yang Kau ukir di kaca
kaca retak tetap memantulkan cahaya
hanya saja cahaya itu kini tajam dan melukai
Aku belajar mencintai pantulan yang pincang
sambil mengingat bentuk utuh yang sudah mati
Penulis : Amalia Dwi Rahmah


















