
Perempuan yang Menjahit Langitku
Ibu,
aku mengenal Tuhan
dari cara matamu menatapku saat aku demam,
dari tanganmu yang tak pernah lelah
mengusap keningku seperti angin
yang menenangkan laut sebelum badai.
Waktu kecil,
aku mengira engkau adalah matahari.
Setiap pagi lahir dari langkahmu,
setiap malam pulang ke pangkuanmu.
Aku tak pernah bertanya
mengapa matamu sering sembab,
mengapa senyummu kadang retak
seperti cermin yang menahan terlalu banyak luka.
Kini aku mengerti.
Ternyata engkau menyembunyikan hujan
di balik payung tawamu.
Engkau meminum pahit dunia sendirian
agar aku hanya mengenal rasa manis kehidupan.
Di Telapak Tangan Ibu
Ibu,
telapak tanganmu adalah peta
yang mengantarkanku pulang
saat dunia terlalu asing untuk kupahami.
Di garis-garisnya
tersimpan cerita yang tak pernah kau ceritakan:
tentang lelah yang kau kubur diam-diam,
tentang air mata yang kau sembunyikan
di antara asap dapur dan suara adzan magrib.
Aku sering melihatmu tersenyum,
tetapi kini aku sadar
senyum itu bukan bunga yang mekar,
melainkan lilin yang membakar dirinya sendiri
agar rumah ini tetap bercahaya.
Ibu,
aku tumbuh dari doa-doamu.
Dari setiap malam yang kau habiskan
meminta langit menjaga anak perempuanmu.
Dari setiap sujud yang lebih panjang
ketika aku terluka oleh kehidupan.
Surat yang Tak Pernah Kukirim untuk Ibu
Ibu,
jika air mata bisa menjadi tinta,
aku akan menulis namamu
di seluruh langit malam.
Agar bintang-bintang tahu
betapa besar cintamu
yang tak pernah mampu kubalas.
Aku masih ingat
cara engkau menyisir rambutku setiap pagi.
Jemari itu begitu lembut,
seolah takut melukai bunga yang baru mekar.
Padahal aku tahu,
jemari yang sama
telah bekerja keras menantang waktu,
mencuci, memasak, berdoa,
dan menggendong segala kesedihan keluarga
tanpa pernah mengeluh.
Ibu,
engkau adalah pohon tua di halaman hidupku.
Ketika angin kehidupan merobohkanku,
engkau tetap berdiri
menjadi tempatku bersandar.
Ketika dunia menghakimiku,
engkau tetap percaya
bahwa aku adalah anak yang baik.
Dan ketika semua orang pergi,
engkau masih tinggal
menyalakan lampu harapan di depan pintu.
Kadang aku ingin kembali menjadi anak kecil.
Menangis di pangkuanmu,
lalu percaya bahwa semua masalah akan selesai
hanya karena engkau berkata,
“Tidak apa-apa, Nak, Ibu ada di sini.”
Namun waktu adalah sungai
yang tak pernah berjalan mundur.
Karena itu, malam ini
aku hanya bisa berdoa.
Penulis: Ummu Masrurah


















