Menyulam Zaman dengan Benang Keteladanan Khadijah

40
sebuah ilustrasi (sumber: ist)

Penulis: Adinda Restu Afifa*

Siti Khadijah adalah tempat berlindung bagi Rasulullah Saw. Dari Sayyidah Khadijah, beliau memperoleh ketenangan hati. Keceriaan wajah Khadijah senantiasa menambah semangat dan kesabaran untuk terus berjuang menyebarluaskan agama Allah ke seluruh penjuru dunia.

Zaman selalu berubah, ia membawa bising, serta hiruk pikuk yang tidak jarang membuat manusia kehilangan arah. Di tengah lajunya zaman, kita sering lupa bahwa ada sosok yang telah lebih dulu menenun keteladanan dengan benang kecantikan dan kemuliaannya yang tak pernah lapuk dimakan waktu. Ia adalah Sayyidatina Khadijah r.a.

Baca Juga: Ikhtiar dan Tawakal dalam Kisah Sayyidah Maryam

Sayyidah Khadijah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia. Saat dewasa, ia menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Ia dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik serta memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepada Khadijah. [1]

Kecantikan Khadijah bukanlah kecantikan yang berhenti pada rupa. Ia adalah kecantikan akhlak yang meneduhkan, kecantikan hati yang teguh menopang, dan kecantikan iman yang tak tergoyahkan oleh arus dunia. Tiada seorang wanita di dunia yang lebih indah budi pekertinya daripada Khadijah. ketika umat manusia menolak dakwah, tangannya yang halus menjadi penopang. Ketika cemoohan buruk dilemparkan, lisannya tetap terjaga. Ketika harta diminta untuk jalan kebenaran, ia tak segan memberinya tanpa perhitungan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Zaman sekarang selalu menggoda kita untuk menjadi cepat, keras, dan individualis. Media sosial mendesak kita untuk bersuara lantang, mengikuti cara berpakaian yang tidak selalu sesuai dengan syari’at islam. Dalam kondisi itu, benang kecantikan Khadijah mengingatkan kita bahwa harta yang paling mulia adalah yang dibelanjakan untuk menumbuhkan kebaikan. Dan benang kewibawaannya menunjukan bahwa perempuan bisa menjadi penopang tanpa harus kehilangan kelembutan. Sifat Khadijah menjadi jarum yang halus namun tajam, ia menusukkan nilai kesetiaan, kesabaran dan keikhlasan ke dalam kain kehidupan yang seringkali robek oleh sifat egois manusia.

Baca Juga: Jawami Al-Kawamil: Doa yang Nabi Ajarkan pada Sayyidah Aisyah

Khadijah telah mendapatkan balasan setimpal dengan kegigihan dan pengorbanannya dalam berjuang. Tertulis dalam sabda Rasulullah Saw:

                                                                                                                                       أُمِرْتُ اَنْ اُبَشِرَ خَدِيْجَةَ بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ لا ضَخَبَ فِيْهِ وَ لاَ نَصَبَ       

“Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun sebuah rumah dari permata untuknya di surga. Tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah di sana.” (H.R Bukhari, Muslim, dan Ahmad) [2]

Siti Khadijah adalah tempat berlindung bagi Rasulullah Saw. Dari Sayyidah Khadijah, beliau memperoleh ketenangan hati. Keceriaan wajah Khadijah senantiasa menambah semangat dan kesabaran untuk terus berjuang menyebarluaskan agama Allah ke seluruh penjuru dunia.[3]

Khadijah memiliki akhlak yang tangguh. Ia banyak mengorbankan harta untuk dakwah Rasulullah. Khadijah juga seorang pribadi yang mandiri. Pengalaman hidupnya yang menjadi seorang pedagang sukses, membuatnya memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian. Kepada Nabi Muhammad, Khadijah tidak pernah menuntut suatu materi yang tidak dia miliki. Bahkan sebaliknya, Khadijah mampu hidup mandiri dari kekayaannya dan mengorbankan hartanya untuk dakwah.

Baca Juga: Belajar Sederhana dan Dermawan dari Zainab binti Jahsy

Didalam riwayat hadits pun diceritakan tepatnya pada Shahih Al – Bukhari no. 3818 didalam bab pernikahan Nabi Mummad dengan Sayyidatina Khadijah:

حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَسَنٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا حَفْصٌ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها  قَالَتْ “مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ، وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا”

Telah mengabarkan kepadaku (Umar bin Muhammad bin Hasan), telah mengabarkan kepada kami (ayahku), telah mengabarkan kepada kami (Hafs), dari Hisyam, dari bapaknya, Aisyah RA berkata : “Aku tidak merasa cemburu kepada salah satu dari istri-istri Nabi Saw. seperti aku cemburu kepada Khadijah, meskipun aku tidak pernah melihatnya, tetapi Nabi sering menyebutnya.”

Menapak jejak Khadijah bukanlah sekedar mengingat kisah sejarah. Ia adalah upaya menghidupkan kembali jiwa yang teguh dan tenang dalam diri kita. Ketika wahyu pertama turun dan seluruh dunia merasa asing dengan ajaran yang dibawa Sang Utusan Allah, Khadijah adalah orang pertama yang berkata, “Allah tidak akan pernah menghinakanmu.” Kalimat sederhana itu menjadi perisai, menjadi rumah tempat Rasulullah berpulang untuk menenangkan jiwa.

Diceritakan dalam satu riwayat, Rasulullah bersabda:

“Demi Allah, tiada lagi pengganti yang lebih baik daripadanya, yang beriman saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua orang mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya tatkala semua orang berusaha mempertahankannya dan dari dirinya lah aku mendapatkan keturunan.” (HR. Ahmad)

Baca Juga: Fatimah al-Fihri Perempuan yang Mengubah Arah Peradaban

Begitulah pujian Rasulullah SAW kepada Khadijah, istrinya tercinta. Seorang istri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan islam. Khadijah adalah perempuan suci yang mulia. Rasulullah SAW mencintai Khadijah hingga akhir hayatnya. Dia lah orang pertama yang beriman kepada Nabi dan selalu menghiburnya saat melewati masa-masa sulit dan kritis.

Disitulah kita sebagai perempuan belajar, bahwa keteguhan hati seringkali lahir dari kesetiaan untuk hadir, mendengar, memahami, dan menguatkan.

Kita tidak perlu ingin hidup di zaman wahyu agar bisa meneladani kemuliaan Khadijah, kita hanya perlu membawa jiwanya ke dalam ruang – ruang kecil kehidupan kita saat ini. Menjadi istri yang menguatkan suami dalam kebenaran, menjadi sahabat yang menenangkan ketika teman hampir menyerah, menjadi pemimpin yang mendahulukan amanah diatas citra, serta menjadi manusia yang memberi tanpa menuntut kembali.

Maka jika zaman terasa kusam, ambil jarum keteladanan itu, mulailah dari diri sendiri. Sebab, satu hati yang berkenan menenun dengan benang kecantikan Khadijah, cukup untuk memberi warnaa baru pada zaman yang hampir kehilangan makna.

Baca Juga: Sayyidah Khadijah, Teladan bagi Wanita Karir



Referensi:

[1] Abdul Mun’im Muhammad, Khadijah Ummul Mu’minun Nazharat fi Isyraqi Fajril Islam, diterjemahkan oleh Ghozi M, “Khadijah, The True Love Story of Muhammad”, Jakarta: Penerbit Pena, 2007.

[2] Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al – Bukhari, Matan Masykul Al – Bukhari bi Hatsiyati Al – sanadi, Juz iv, Beirut: Darul Fikr, tt.

[3] Ruqayyah Waris Maqsood, The Muslim Marriage Guide, diterjemahkan oleh Alwiyah Abdurrahman, “Menciptakan Surga Rumah Tangga”, Bandung: Al – Bayan, 2005.