Belum Hari Ini

8
Sebuah ilustrasi keluarga

Ia sudah lupa berapa kali membuka kotak masuk email hari itu. Pagi, siang, bahkan sebelum tidur, matanya selalu mencari satu nama perusahaan atau satu kalimat yang telah lama ia tunggu. Namun yang muncul tetap sama seperti hari-hari sebelumnya.

Tidak ada kabar.

Ia menutup layar ponselnya perlahan. Di atas meja, beberapa lembar surat lamaran yang telah dicetak mulai kusut karena terlalu sering dibawa ke mana-mana. Padahal ia sudah mencoba segalanya: mendatangi tempat yang membuka lowongan, mengirim berkas secara daring, hingga meminta informasi dari teman-temannya.

Namun setiap kali ada balasan, sering kali bukan kabar yang ia harapkan.

“Maaf, Anda belum dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kalimat itu memang pendek, tetapi entah mengapa selalu terasa panjang ketika dibaca oleh hati yang sedang berharap.

Arga berjalan keluar kamar saat mencium aroma teh hangat dari dapur. Ternyata ibunya sedang duduk sambil menghitung beberapa lembar uang yang tersusun rapi di atas meja.

Tanpa sengaja melihat pemandangan itu, langkah Arga terhenti.

“Bu,” panggilnya pelan.

Ibunya menoleh dan tersenyum.

“Sudah bangun?”

Arga mengangguk. Matanya memperhatikan tangan ibunya yang mulai dipenuhi keriput.

“Uang belanja masih cukup, Bu?”

Pertanyaan itu membuat ibunya terdiam sejenak.

“Cukup, Nak. Jangan dipikirkan. Kita punya Allah Yang Maha Kaya, kan?”

Arga tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya.

Ia tahu ibunya sedang berusaha terlihat baik-baik saja, seperti kebanyakan ibu yang menyembunyikan lelah agar anaknya tidak ikut merasa berat.

“Seharusnya aku sudah bisa membantu Ibu dari dulu,” ucap Arga lirih.

Ibunya menatapnya lembut.

“Kamu sedang berusaha, kan?”

Arga mengangguk.

“Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya, Bu.”

Ibunya tersenyum kecil.

“Memangnya semua yang tumbuh harus langsung terlihat bunga dan buahnya?”

Arga tidak menjawab.

Ia hanya menunduk. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa lebih sulit dilawan daripada seluruh pikiran buruk yang selama ini mengganggunya.

Hari-hari berikutnya tetap berjalan.

Arga masih mencari pekerjaan. Masih mengirim lamaran ke berbagai tempat. Masih mencoba tersenyum ketika melihat teman-temannya mulai memiliki kehidupan yang dulu ia impikan.

Ada yang baru membeli kendaraan dari hasil kerja sendiri.

Ada yang mengirim undangan pernikahan.

Ada yang mengunggah momen gajian pertama untuk orang tuanya.

Arga selalu ikut mengucapkan selamat dan mendoakan mereka. Ia sungguh bahagia atas keberuntungan teman-temannya. Namun setiap kali layar ponselnya mati, ia kembali duduk sendirian di kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Sebagai manusia biasa, ia pun sering bertanya dalam hati:

Kapan giliranku tiba?

Malam itu, ia melihat ayahnya tertidur di ruang tengah. Televisi masih menyala. Dengkur pelan terdengar dari sofa tempat ayahnya berbaring. Baju yang dikenakan masih basah oleh keringat, sementara wajahnya menyimpan jejak kelelahan setelah seharian bekerja.

Untuk pertama kalinya, Arga merasa malu pada pikirannya sendiri.

Selama ini ia terlalu sibuk melihat apa yang belum ia miliki, sampai lupa melihat perjuangan orang-orang yang selalu berdiri di belakangnya.

Ia menganggap dirinya gagal hanya karena belum mendapatkan pekerjaan.

Padahal setiap hari ia masih diberi kesempatan untuk mencoba.

Masih ada rumah untuk pulang.

Masih ada orang tua yang mendoakan.

Dan yang terpenting, masih ada dirinya sendiri yang belum menyerah.

Beberapa minggu kemudian, ponselnya berdering saat ia sedang membantu ibunya membawa belanjaan.

Sebuah panggilan masuk.

Dari salah satu perusahaan yang pernah ia kirimi lamaran.

Tangannya bergetar ketika menerima telepon itu. Bukan karena ia yakin akan diterima, melainkan karena setelah sekian lama, akhirnya ada seseorang yang melihat usahanya.

Hari itu Arga belum mendapatkan pekerjaan.

Ia baru mendapat panggilan wawancara.

Namun untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia pulang dengan senyum yang berbeda.

Ibunya yang melihat wajah anaknya langsung tahu.

“Ada kabar baik, ya?”

Arga mengangguk cepat.

“Ada, Bu!”

Wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang baru menemukan harapan.

Ibunya tersenyum haru.

“Alhamdulillah. Akhirnya Allah menunjukkan bahwa doa dan usaha tidak pernah sia-sia.” Arga langsung memeluk ibunya erat.

Di perjalanan menuju kamar, ia menyadari satu hal. Ternyata hidup bukan selalu tentang siapa yang paling cepat sampai.

Kadang-kadang seseorang harus berjalan lebih jauh karena tempat yang ditujunya memang berada lebih dalam.

Tidak semua pintu yang lama terbuka berarti menolak kedatangan kita. Ada pintu yang hanya sedang menunggu seseorang datang dengan hati yang lebih siap, lebih kuat, dan lebih ikhlas. Mungkin, selama ini, pintu itu sedang menunggu Arga.