Langkah Damai di Jalanan: Thudong, Gus Dur, dan Borobudur

12
Foto bersama para Bhikkhu dengan Dzurriyah Pesantren Tebuireng usai berziarah (foto: dik)

Penulis: Novi Syahwalina Irsa*

Saat pagi terik, di tengah deru kendaraan dan debu jalanan yang berterbangan, ada pemandangan yang membuat banyak orang terdiam sejenak lalu menoleh penuh haru. Sejumlah biksu berpakaian jubah cokelat berjalan perlahan namun penuh keteguhan di antara hiruk-pikuk lalu lintas. Mereka datang dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia, menempuh perjalanan spiritual panjang yang disebut Thudong berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Di tengah perjalanan itu, mereka menyempatkan diri singgah di Jombang, Jawa Timur, untuk berziarah ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur membawa serta pesan perdamaian yang mereka emban sejak langkah pertama.

Pemandangan itu bukan sekadar pertunjukan keagamaan. Ia adalah sebuah pernyataan bahwa toleransi bukan hanya retorika, melainkan bisa diwujudkan dalam langkah nyata, bahkan langkah kaki yang menempuh ratusan kilometer.

Thudong: Lebih dari Sekadar Ritual

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam tradisi Buddhisme Theravada, Thudong adalah praktik asketis di mana seorang biksu berjalan kaki jauh meninggalkan kenyamanan untuk memurnikan batin. Perjalanan ini menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan ketahanan fisik yang luar biasa. Namun perjalanan kali ini membawa dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar ibadah pribadi.

Para biksu memilih memulai perjalanan dari Bali, yang dikenal sebagai jantung spiritualitas Hindu di Indonesia dan mengakhirinya di Borobudur, salah satu warisan Buddha terbesar di dunia. Namun yang membuat perjalanan ini istimewa bukan hanya titik awal dan akhirnya, melainkan apa yang terjadi di antaranya: sebuah persinggahan penuh makna di makam seorang ulama Islam yang telah lama menjadi simbol kebhinekaan.

Pilihan untuk singgah di makam Gus Dur bukan kebetulan. Ia adalah pernyataan tulus bahwa nilai-nilai kemanusiaan tidak mengenal batas agama. Bahwa seorang tokoh Islam bisa dihormati oleh para biksu Buddha, dan bahwa rasa syukur atas perjuangan toleransi tidak perlu berlabel satu keyakinan saja.

Gus Dur: Milik Semua, Bukan Satu Golongan

Sudah bukan rahasia bahwa Gus Dur adalah tokoh yang melampaui sekat-sekat identitas. Sebagai Ketua Umum PBNU sekaligus mantan Presiden RI, ia justru dikenal sebagai pembela gigih kaum minoritas lintas agama. Ia memulihkan hak-hak warga keturunan Tionghoa, melegalkan perayaan Imlek sebagai hari libur nasional, dan secara terbuka membela kebebasan beragama di Indonesia. Ia percaya bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang merangkul, bukan Islam yang menolak.

Maka tidaklah mengherankan jika penghormatan terhadapnya datang dari berbagai penjuru dan latar belakang. Para biksu yang berjalan kaki menembus panas dan jarak ratusan kilometer itu tidak sedang menganut Islam. Mereka justru membuktikan bahwa ketulusan Gus Dur dalam memperjuangkan kemanusiaan menembus batas-batas teologi. Sosok seperti itulah yang seharusnya menjadi cermin bagi kita semua: bahwa seseorang bisa dikasihi oleh siapa saja, justru karena ia tidak pernah membeda-bedakan siapa yang layak ia kasihi.

Singgahnya para biksu di Jombang adalah doa yang tidak diucapkan dengan kata-kata. Ia diucapkan dengan kaki yang lelah, dengan tangan yang mengatup, dan dengan hati yang penuh hormat kepada seseorang yang semasa hidupnya berdiri untuk mereka yang kerap terpinggirkan.

Borobudur: Tujuan Akhir yang Penuh Simbolisme

Candi Borobudur bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah monumen peradaban, warisan leluhur yang telah berdiri lebih dari seribu tahun dan menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan manusia di Nusantara. Bagi umat Buddha di seluruh dunia, Borobudur adalah tanah suci tempat di mana spiritualitas dan sejarah berpadu menjadi satu.

Maka ketika para biksu dari berbagai negara memilih berjalan kaki menuju Borobudur melewati jantung pulau Jawa, mereka tidak hanya sedang beribadah. Mereka sedang mengirimkan pesan kepada dunia: bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua, bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan bahwa perdamaian bisa tumbuh di mana manusia mau melangkah bersama meski berbeda keyakinan, meski berbeda bangsa.

Perjalanan Thudong ini hadir di tengah kondisi sosial yang sesungguhnya masih penuh tantangan. Indonesia, dengan segala keberagamannya, kerap dihadapkan pada gesekan-gesekan bernuansa SARA yang mengancam kohesi sosial. Polarisasi berbasis identitas agama masih menjadi ancaman nyata. Ujaran kebencian masih mudah ditemukan di ruang-ruang digital. Dalam konteks inilah, langkah kaki para biksu itu terasa begitu kontras  dan justru karena itu, begitu bermakna.

Mereka tidak berpidato. Mereka tidak membawa spanduk besar. Mereka hanya berjalan. Namun justru dalam keheningan langkah itulah pesan terkuat tersampaikan: bahwa perdamaian tidak selalu lahir dari forum-forum besar atau deklarasi resmi, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.

Toleransi sejati memang bukan sesuatu yang bisa diperintahkan dari atas. Ia tumbuh dari kesediaan untuk memahami, untuk hadir, dan untuk menghormati meski berbeda. Dan perjalanan Thudong ini adalah contoh paling konkret dari toleransi yang tidak performatif yang tidak dilakukan demi kamera atau pencitraan, tetapi karena memang begitulah keyakinan yang dipegang.

Merawat Api yang Dinyalakan Gus Dur, Menuju Cahaya Borobudur

Dari Bali ke Borobudur, para biksu itu menapaki bumi Indonesia dengan hati yang lapang. Di tengah perjalanan, mereka berhenti sejenak di Jombang, bukan karena kewajiban, bukan karena agenda politik, tetapi karena rasa hormat yang tulus kepada seorang manusia yang pernah berjuang untuk dunia yang lebih adil dan damai.

Warisan Gus Dur bukanlah sesuatu yang bisa dimuseumkan. Ia adalah semangat hidup yang harus terus dirawat: dalam cara kita berbicara tentang mereka yang berbeda, dalam cara kita merespons ketidakadilan, dan dalam cara kita memilih untuk hadir bagi sesama tanpa syarat. Dan Borobudur, sebagai tujuan akhir perjalanan ini, mengingatkan kita bahwa peradaban yang agung selalu dibangun di atas rasa saling menghargai.

Semoga perjalanan spiritual ini menjadi doa panjang bagi Indonesia dan dunia  agar manusia tetap mampu hidup berdampingan dalam damai, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan yang telah susah payah diwariskan oleh para pendahulu kita.

Sebab perdamaian seperti juga perjalanan Thudong, tidak dimulai dari garis akhir. Ia dimulai dari satu langkah pertama yang diambil dengan keberanian dan keikhlasan dari Bali, melewati Jombang, hingga akhirnya tiba di kaki Borobudur.


*Santri PP. Manbau Huffadzil Quran.