
Di zaman yang semakin tidak terkendali ini, keimanan dan ketakwaan perlu selalu dijaga. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk kembali memperkuat keimanan ialah dengan mebaca kisah-kisah orang salih, terutama kisah para sahabat yang merupakan sosok-sosok yang paling kuat imannya. Salah satu sahabat nabi yang berasal dari kalangan wanita adalah Ummu Syuraik radiyallahu `anha. Dia merupakan seorang pendakwah yang bisa menjadi simbol bahwa iman tidak bisa ditukar hanya dengan sepotong roti atau seteguk air.
Ummu Syuraik radiyallahu `anha adalah seorang sahabiyyah yang mengikrarkan Islamnya di Mekkah bersama orang-orang Mekkah yang masuk Islam. Ummu Syuraik bukanlah keturanan Quraisy, tetapi dia adalah seorang sahabiyyah yang berani untuk berdakwah ke para wanita Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Ummu Syuraik memperingatkan mereka bahwa Tuhan itu satu dan berhala-berhala yang mereka sembah adalah bentuk kesyirikan yang tidak akan diridai Allah ta`ala. Sampai di suatu hari, dakwahnya diketahui para orang kafir Quraisy, dan mereka memutuskan untuk mengirimnya ke kaumnya yang merupakan serikat Quraisy.
Di tengah perjalanan, kafir Quraisy sengaja menyiksanya agar meninggalkan Islam dan kembali kepada kekafiran dan kesyirikan. Namun, Ummu Syuraik tetap tegah dalam ketauhidan. Karena keimanannya ini, kafir Quraisy tidak memberinya tunggangan dalam perjalanannya, mereka menyeretnya dan memaksanya untuk berjalan kaki dan sementara mereka berada di atas tunggangan unta-unta. Mereka juga tidak memberinya alas kaki, juga tidak memberinya makan dan minum selama perjalanan.
Lalu, apakah setelah semua siksaan ini Ummu Syuraik mundur dari keimanannya? Sama sekali tidak, justru Ummu Syuraik tetap teguh dan melafazkan kalimat tauhid. Begitulah, Ummu Syuraik melanjutkan perjalanannya. Sampai setelah tiga hari berlalu, Ummu Syuraik hampir saja pingsan karena lapar dan haus. Melihat hal tersebut, orang-orang kafir kembali memaksanya keluar dari Islam, dengan iming-iming akan diberi makan dan minum, namun Ummu Syuraik tetap teguh dalam keimanannya. Ketika mereka akan beristirahat, kafir meninggalkannya di bawah terik matahari, dan mereka berteduh untuk beristirahat. Di tengah kesadaran yang hampir hilang, Ummu Syuraik merasakan ada sesuatu yang dingin di dadanya. Ketika dia merabanya, ternyata ada sebuah ember yang di dalamnya terdapat air. Ember itu dibawa malaikat, dan Ummu Syuraik minum dari ember itu. Seteguk, kemudian ember itu diangkat, kemudian kembali lagi ke Ummu Syuraik, dan dia pun kembali minum, dan setelahnya ember itu diangkat lagi, kemudian mendekat lagi ke Ummu Syuraik, dan dia kembali minum. Dan setelah dahaganya hilang, Ummu Syuraik mengguyurkan air tersebut ke kepala dan badannya.
Ketika Kafir Quraisy terbangun, dan berniat melanjutkan perjalanan, betapa terkejutnya mereka melihat bekas air di tubuh Ummu Syuraik, dan Ummu Syuraik terlihat lebih segar. Mereka pun mulai menuduh Ummu Syuraik melepaskan ikatannya dan mencuri air mereka saat mereka tidur. Dan ketika Ummu Syuraik mengingkarinya, dan mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya, mereka mulai ragu. Mereka mengatakan jika apa yang diceritakan Ummu Syuraik benar, berarti agamanya benar dan agama mereka salah.
Mereka pun memutuskan untuk memeriksa ember mereka, dan ternyata ember tersebut masih dipenuhi air seperti sebelumnya. Melihat keajaiban ini, kafir Quraisy akhirnya sadar, bahwa agama Islam memang benar, dan agama mereka serta berhala-berhala yang mereka sembah adalah sebuah kesesatan. Dan di hadapan Ummu Syuraik, mereka mengikrarkan Islam, dan setelahnya mereka memuliakan Ummu Syuraik.
Dan akhirnya, mereka semua masuk Islam dengan perantara kesabaran dan keteguhan iman Ummu Syuraik. Dan Ummu syuraik datang di hari akhir bersama catatan amalnya yang penuh dengan orang-orang yang masuk Islam dengan perantaranya. Dakwah sebenarnya bukan hanya sekedar ceramah yang disampaikan atau tulisan yang disebarkan, justru dakwah juga bagaimana keimanan yang terhujam di qalbu. Dakwah adalah bagaimana sikap dan akhlak yang kita tunjukkan kepada orang lain. Ummu Syuraik, bukan orasinya yang membuat kafir meninggalkan berhala mereka, justru mereka melihat kebenaran dari keteguhan dan kesabaran Ummu Syuraik dalam Islam dan iman.
Baca Juga: Kisah Jafar Al-Khuldi dan Nasihat Terhadap Muridnya
Sumber: Buku Qishotu Fataah (Kisah Pemudi) karya Doktor Muhammad Bin Abdirrahmaan Al-Ariifii.
Penulis: Norma Melani Khaira
Editor: Sutan


















