Mengenal Imam Ibrahim Al-Bajuri: Syaikhul Azhar dan Warisan Intelektualnya

175
Makam dan salah satu karya Syekhul Azhar Imam Ibrahim al-Bajuri. foto: penulis

Bagi para santri di Indonesia, Imam Ibrahim al-Bajuri adalah sosok yang tidak asing lagi. Beliau merupakan ulama besar Al-Azhar sekaligus pengarang Hasyiyah al-Bajuri atas kitab Fath al-Qarib, sebuah karya yang memiliki pengaruh luas dan telah lama mewarnai kajian fiqh di berbagai pesantren di Nusantara hingga saat ini. Karenanya, tidak mengherankan jika dalam kitab Ahkam al-Fuqaha’ yang merupakan keputusan muktamar, munas, dan konbes Nahdlatul Ulama, pandangan Imam al-Bajuri kerap menjadi rujukan.

Karya-karya beliau yang menjadi rujukan tidak terbatas pada bidang fiqh semata. Dalam bidang ilmu bayan, misalnya, beliau menulis Hasyiyah atas Risalah al-Isti‘arat. Dalam bidang aqidah, beliau menyusun Tuhfat al-Murid ‘ala Jauharat al-Tauhid yang juga menjadi buku ajar di Al-Azhar. Selain itu, terdapat berbagai karya lainnya yang hingga kini masih dikaji dan dijadikan rujukan dalam beragam disiplin keilmuan.

Nama dan Asal Usul

Beliau bernama Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri bin Syekh Muhammad al-Jiyzawi bin Ahmad. Beliau dilahirkan pada tahun 1198 H (1783 M) di Mesir, tepatnya di Kota Bajur, Provinsi Al-Minufiyah. Sejak kecil, beliau tumbuh di tengah lingkungan ilmiah yang dipenuhi oleh para ulama, salah satunya yaitu Syekh Muhammad yang tak lain merupakan ayahnya sendiri. Di bawah bimbingan ayahnya, Imam al-Bajuri berhasil menghafal Al-Qur’an sekaligus mempelajari tajwidnya.

Pada usia empat belas tahun, Imam al-Bajuri melakukan perjalanan menuju Al-Azhar untuk melanjutkan studinya, tepat pada tahun 1212 H (1797 M). Belum lama beliau menimba ilmu, pada tahun 1213 H (1798 M), pendudukan Prancis memasuki Mesir. Peristiwa ini memaksanya untuk meninggalkan Kairo dan menetap di Giza selama kurang lebih tiga tahun. Kemudian setalah pasukan Prancis keluar dari Mesir pada tahun 1216 H (1801 M), Imam al-Bajuri pun kembali ke Kairo, sebagaimana yang dikisahkan oleh dirinya.

Riwayat Pendidikan dan Perjalanan Intelektualnya

Periode setelah kembalinya dari Giza merupakan titik penting dalam perjalanan intelektual Imam al-Bajuri. Pada fase ini, beliau menjalani proses talaqqi kepada sejumlah ulama terkemuka di masanya. Di antara ulama tersebut ialah: al-‘Allamah Muhammad al-Amir al-Kabir, Syekhul Azhar Abdullah asy-Syarqawi, Syekh Daud al-Qal’i, Syekh Muhammad al-Fudhali, dan Syekhul Azhar Hasan al-Quwaysini.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, figur yang paling dominan dalam membentuk keilmuannya melalui bimbingan ilmiah secara berkesinambungan adalah Syekh Muhammad al-Fudhali dan Syekh Hasan al-Quwaysini. Interaksi ilmiah antara al-Bajuri dengan Syekh al-Fudhali bahkan tetap berlanjut hingga akhir hayat sang guru. Oleh karena itu, dalam waktu yang relatif singkat, tanda-tanda kecerdasan pun mulai terlihat dalam diri al-Bajuri dan hal tersebut disaksikan oleh guru-gurunya.

Dari sinilah beliau mulai aktif mengajar di Al-Azhar dan institusi terkait. Kemampuan retorikanya yang fasih, penjelasannya yang jelas, dan wawasannya yang luas membuat halaqah beliau diminati pelajar dari berbagai kota serta ulama lintas mazhab. Aktivitas beliau ini tetap berlanjut baik sebelum maupun sesudah beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Syekhul Azhar pada bulan Sya’ban tahun 1263 H (1847 M).

Dalam kesehariannya, Imam al-Bajuri dikenal memiliki rutinitas mengajar yang padat, dimulai sejak pagi hingga malam hari setelah waktu Isya, dan di tengah kesibukan tersebut, beliau tetap menjaga wirid hariannya dengan mengkhatamkan al-Quran, atau setidaknya mendekati satu khataman.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai sosok yang berwibawa dan pemerhati martabat ulama. Hal ini tampak ketika Sultan Abbas I datang mengunjungi Imam al-Bajuri yang sedang mengajar, alih-alih menunda pelajaran, beliau hanya memberi isyarat kepada Sultan untuk duduk dan menunggu. Kisah ini juga termuat dalam kitab Al-Azhar fi Alf ‘Aam, yang menyebutkan bahwa Sultan Abbas I pernah beberapa kali menghadiri pengajian Imam al-Bajuri dan mencium tangannya sebagai bentuk penghormatan.

Karya-Karyanya

Sebagaimana telah disinggung, selain aktif sebagai pengajar, Imam al-Bajuri juga merupakan penulis yang produktif. Pada tahun 1222 H (1807 M), tepat ketika usianya genap dua puluh empat tahun, Imam al-Bajuri telah sukses menulis karya ilmiah pertamanya yaitu Hasyiyah atas risalah gurunya; Syekh Muhammad al-Fudhali, dalam menjelaskan kalimat Lailahaillalllah.

Selanjutnya, Imam al-Bajuri juga menulis karya-karya penting lainnya dalam berbagai disiplin keilmuan hingga mencapai kurang lebih dua puluh delapan karya, di antaranya: Hasyiyah Tahqiq al-Maqam ‘ala Risalat Kifayat al-‘Awam, Fath al-Qarib al-Majid Syarh Bidayat al-Murid, Fath al-Khabir al-Lathif Syarh Nadzm at-Tarshif, Fath Rabb al-Bariyyah ‘ala Nadzm al-Imrithi, Tuhfat al-Basyar ‘ala Maulid Ibn Hajar, al-Mawahib al-Laduniyyah ‘ala asy-Syamail al-Muhammadiyah, Hasyiyah ‘ala Matn as-Sulam, dan lain-lain.

Di samping karya-karyanya yang telah selesai, menurut Prof. Dr. ‘Ali Jum’ah dalam pengantar tahqiq beliau atas kitab Tuhfat al-Murid, terdapat beberapa karya Imam al-Bajuri yang belum rampung, antara lain: Hasyiyah ‘ala Jam’il Jawami’, Hasyiyah ‘ala Matn al-Manhaj, Syarh Mandzumat asy-Syekh al-Bukhari, Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Fakhr ar-Razi, dan Ta’liq ‘ala Tafsir al-Kasyyaf.

Akhir Hayatnya

Hingga menjelang wafat, Imam al-Bajuri tetap dikenal sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar dan menuntut ilmu. Namun pada akhirnya, sakit menghalanginya dari aktivitas yang selama ini beliau jalani.

Dalam keadaan tersebut, beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Kamis, 28 Dzul Qa’dah 1276 H (19 Juli 1860 M) dalam usia tujuh puluh lima tahun. Jenazahnya dishalatkan di Masjid Al-Azhar, dan prosesi pemakamannya dihadiri oleh para ulama serta murid-muridnya. Beliau kemudian dimakamkan di Pemakaman Al-Mujawirin. Semoga Allah meridhainya dan senantiasa memberikan manfaat kepada kita semua dengan ilmunya, Aamiin.

Baca Juga: Manakib KH Abdul Manan Dipomenggolo (2) Generasi Awal Pelajar Indonesia di al Azhar Mesir


Referensi:

[1]. Ibrahim al-Bajuri, Tuhfat al-Murid ‘ala Jauharat at-Tauhid, hlm. 9, Tahqiq: Prof. Dr. ‘Ali Jum’ah, Kairo: Dar al-Salam, 2025.

[2]. Muhammad Abdul Mun’im Khafaji & Ali Ali Shubh, Al-Azhar fi Alf ‘Aam, jld. 2, hlm. 61-64, Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, 2011.

[3]. Muhyiddin at-Tu’my, an-Nur al-Abhar fi Thabaqat Syuyukh al-Jami’ al-Azhar, hlm. 12, Beirut: Dar al-Jayl, 1992.

[4]. Ali Basya Mubarak, al-Khuthat at-Taufiqiyyah al-Jadidah, jld. 9, hlm. 2, Kairo: al-Mathba’ah al-Kubra al-Amiriyyah, 1887.

[5]. Abdul Razaq al-Baythar, Hilyat al-Basyar fi Tarikh al-Qarni ats-Tsalis Asyar, hlm. 11, Beirut: Dar al-Shadir, 1993.


Penulis: Kamil Sami Al Faruq

Editor: Sutan