
Tebuireng.online— Musyawarah Nasional (Munas) IKAPETE gelar agenda “Ngopi & Ngaji 4 Bulanan” bersama KH. Musta’in Syafi’i yang digelar di halaman Pesantren Tebuireng. Ngaji rutinan yang digelar pada Jumat (17/4/2026) ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Tebuireng Official. Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya KH. Abdul Hakim Machfudz, Prof. Dr. KH. Masykuri Bakri, M.Si. KH. Achmad Roziqi.
Turut hadir dalam acara ini Nyai Hj. Lelly Lailiyah Hakim, segenap keluarga pesantren, dzurriyah, dan ratusan alumni Pesantren Tebuireng. Acara dibuka oleh KH. Achmad Roziqi selaku moderator, yang mengantarkan jalannya kegiatan dengan suasana khidmat namun hangat. Rangkaian dimulai dengan sambutan Ketua Umum Presidium Nasional (PRESNAS) periode 2022–2026.
Baca Juga: Khotmil Qur’an Awali Rangkaian Munas IKAPETE 2026
Dalam sambutannya, Prof. Masykuri menekankan pentingnya istiqomah dalam mengaji bagi para alumni. Menurutnya, semakin sering seseorang mengaji, maka semakin terasah pula akal dan pemahamannya. Ia juga menyampaikan bahwa pencapaian ilmu tidak cukup berhenti pada tahap ‘ainul yaqin, tetapi perlu disempurnakan hingga haqqul yaqin.
“Sebagai alumni, kita tidak cukup hanya berhenti pada syariat, tetapi harus terus menuju thariqot, ma’rifat, dan bersyukur jika sampai pada hakikat,” ungkapnya.
Agenda dilanjutkan dengan peluncuran buku Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq karya KH. Musta’in Syafi’i atau yang lebih akrab disapa Yai Ta’in. Momentum ini ditandai dengan penyerahan buku secara simbolis oleh Ketua Panitia Munas dan Halal Bihalal IKAPETE, H. Rosul Suritno, kepada KH. Abdul Hakim Machfudz, Yai Ta’in, dan Ketua Umum Presidium Nasional IKAPETE, Prof. Dr. KH. Masykuri Bakri, sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi keilmuan yang dihadirkan.
Memasuki sesi inti, Yai Tain menyampaikan pengajian dengan merujuk pada kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Dalam kajiannya, ia menekankan pentingnya adab dalam proses mencari dan menyampaikan ilmu, baik bagi seorang guru (‘alim) maupun penuntut ilmu (muta’allim). Penekanan ini menjadi pengingat bahwa keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan, tetapi juga oleh etika, keikhlasan, dan kesungguhan dalam mengamalkannya.
Baca Juga: Prof. Masykuri Kembali Pimpin Presnas IKAPETE, Saldo Organisasi Tembus Rp 1 Miliar
“Santri Tebuireng itu didoakan mudah-mudahan bisa menjadi orang mengajar. Nasihat itu ditujukan pada seluruh alumni Tebuireng, tidak pantas bagi mereka disebut alumni kalau tidak bisa mengajar,” terangnya.
Sebagai penutup, Kiai Kikin menyampaikan syarah yang mengaitkan materi adab dengan perjalanan sejarah Islam sebelum kemerdekaan. Ia menyinggung keteladanan para ulama terdahulu, termasuk Syaikhona Kholil, yang dikenal menjunjung tinggi adab dalam setiap aspek kehidupan dan perjuangan dakwahnya.
“Dalam cerita saat Syaikhona Kholil berada di Madinah, beliau tidak pernah buang air di Madinah. Jadi ketika beliau ingin buang air maka harus keluar dari Madinah terlebih dahulu,”.
Sementara itu, Rahmatullah sebagai alumni Pesantren Tebuireng tahun 1988, mengungkap bahwa ia merasa sangat bersemangat mengikuti ngaji rutinan ini. Berangkat dari kota Malang bersama rombongannya, ia senang dapat mengikuti agenda ini secara rutin setiap empat bulannya. “Alhamdulillah masih diizinkan Allah untuk takdzim kepada Pesantren Tebuireng dengan mengikuti pengajian dan bertemu orang-orang hebat. Tentu saya merasa sangat senang dapat hadir kembali di Tebuireng, ” terang Rahmat.
Baca Juga: Ngopi dan Ngaji IKAPETE: Prof. Masykuri Bakri Tekankan Profesionalitas Alumni
Menariknya, kegiatan ini juga diselingi hiburan oleh komika Muhammad Sulukhil yang turut memeriahkan suasana pasca pengajian. Kehadirannya berhasil mencairkan suasana dengan gaya humor khas, sekaligus diiringi pembagian sarung kepada peserta sebagai bentuk kebersamaan dan keberkahan acara.
Pewarta: Helfi Livia Putri
Editor: Rara Zarary


















