Refleksi Idul Fitri dan Kehidupan setelah Ramadan

144
Ilustrasi kehangatan saat hari lebaran (sumber: inilacom)
Hari Raya Idul Fitri bukanlah tentang siapa yang mengenakan pakaian paling rapi, siapa yang menyajikan paling banyak hidangan di meja, atau siapa yang paling ramai membagikan momen di media sosial. Lebaran sejatinya berkaitan dengan kebersihan hati. Apakah selama bulan Ramadan kita sungguh-sungguh memperbanyak ibadah kepada Allah? Apakah kita telah tulus memaafkan sesama, ataukah semua aktivitas selama ini hanya menjadi formalitas belaka?

Hari Raya Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi seluruh umat Islam di dunia karena telah menjalankan sebulan penuh ibadah puasa di bulan Ramadhan, maka hari raya ini dirayakan dengan penuh suka cita. Takbir menggema, sanak saudara berkumpul, mudik ke kampung halaman, memaki baju baru, makan ketupat sudah menjadi tradisi juga saling memaafkan yang menjadi ciri khas dari hari raya ini.

Baca Juga: Puasa Sudah Berlalu, Sudahkah Kita Mendapat Hikmahnya?

Namun, di tengah euforia kemeriahan hari raya tersebut, tidak sedikit dari kita yang lalai akan kehidupan setelah Ramadhan. Maka apakah sebenarnya kita benar-benar telah menang dan kembali suci, atau hal ini hanya sebuah fenomena yang terus menerus terjadi tanpa sebuah kesadaran dan perubahan yang pasti?

Secara harfiah, istilah ini berasal dari kata ‘aada – ya‘uudu – ‘iidan yang berarti “kembali”, serta kata fitri yang bermakna suci. Dengan demikian, Idul Fitri dimaknai sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan yang suci, bersih sebagaimana bayi yang baru lahir. Makna ini bukan sekadar simbol semata, melainkan mengandung pesan dan janji besar di balik proses ibadah yang dijalani selama bulan Ramadan.

Sebagiamana sabda Nabi Muhammad: “Barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Hati dan Lisan Penentu Baik Buruknya Seorang Hamba

Hadist ini dapat kita pahami bahwasanya Ramadhan itu menjadi sebuah proses bagi kita untuk memperoleh hasilnya di hari perayaan yakni Idul Fitri. Jika kita benar-benar melakukannya  dengan serius dan dengan keimanan maka hasil yang kita petik adalah kebersihan hati, tingkah laku kita yang baik, tidak menyakiti orang lain dan tentu ibadah kita lebih berkualitas. Tapi tidak sedikit dari kita berpuasa di bulan Ramadhan sekedar menahan lapar dan haus saja. Padahal tujuan utamanya dalam firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَیْكُمُ الصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَی الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah:183)

Kata ‘bertakwa’ menjadi kunci, bahwa puasa itu sebagai latihan. Melatih kita agar mampu menahan diri, menjaga lisan, mengontrol emosi dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah juga dengan manusia. Jadi kalau setelah Ramadhan kita masih gampang tersuluut emosi, mudah marah, masih suka ngomng kasar, masih sering menunda untuk beribadah berarti ada yang belum benar dengan puasa kita.

Idul Fitri juga identik dengan saling memaafkan. Meminta dan memberi maaf ini seharusnya tidak hanya menjadi formalitas tahunan saja tetapi juga menjadi sarana bagi kita untuk membersihkan hati dari dendam, iri dan penyakit hati lainnya. jika hanya kata maaf yang terucap, tetapi di dalam hati masih menyimpan dendam dan amarah berarti itu hanya tampilan saja bukan merupakan dari sikap perubahan.

Baca Juga: Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa

Menyoal tentang tradisi di Idul Fitri, selain tentang saling memaafkan, mudik juga menjadi fenomena seru dalam perayaan ini, membeli baju baru, membuat makanan khas daerah kita masing-masing  dan semua itu memang menyenangkan bahkan silaturahmi sangat dianjurkan dalam Islam.

Tidak ada yang salah dalam tradisi itu, yang salah adalah ketika tradisi menjadi lebih penting daripada makna. Ketika kita lebih sibuk memikirkan outfit lebaran daripada bersedekah kepada yang kurang mampu, ketika kita lebih fokus mengupload foto keluarga daripada benar-benar memaafkan saudara.

Pada akhirnya Hari Raya Idul Fitri bukan tentang siapa yang paling rapi bajunya, paling banyak kue-kue di meja, atau paling ramai unggahan di sosmed. Idul Fitri adalah tentang hati. Apakah di bulan Ramadhan  sudah banyak beribadah kepada Allah? apakah kita sudah benar-benar memaafkan, atau semua hanya menjadi formalitas ucapana maaf saja?

Baca Juga: Sudah Tunangan, Bolehkah Sedekat Itu? Memahami Hukum Khitbah dalam Islam

Kalau kita mau refleksi dan mau berubah, Idul Fitri benar-benar menjadi kemenangan bagi kita; menang melawan hawa nafsu, juga menang dalam kesabaran. Jangan biarkan momentum perayaan Idul Fitriini sebagai tradisi semata tanpa mengambil makna. Jadikanlah sebagai titik awal untuk menjaga hati, ibadah yang rajin, dan hubungan sesama selalu baik. Karena kemenangan yang sesungguhnya bukan pada besarnya perayaan hari raya melainkan pada diri kita yang  mampu tetap bertahan bahkan bertambah dalam kebaikan setelah Ramadhan usai.



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary