Kiai Musta’in Syafi’i Ajak Kader Tebuireng Pahami Peran Pesantren dalam Menjawab Isu Bangsa

49
Pakar Tafsir Tebuireng, Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M.A., hadir sebagai narasumber dengan membedah tema “Relasi Pesantren Tebuireng dengan Dunia Global”. Foto: Fatih

Tebuireng.online- Peran strategis Pesantren Tebuireng dalam konstelasi sejarah dan hubungan internasional menjadi materi utama dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Pembina Santri, Rabu (04/03/2026). Pakar Tafsir Tebuireng, Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M.A., hadir sebagai narasumber dengan membedah tema “Relasi Pesantren Tebuireng dengan Dunia Global”.

Dalam paparannya, Kiai Musta’in menegaskan bahwa pesantren sejak era penjajahan telah menjadi motor penggerak persatuan bangsa dan rujukan diplomatik bagi pemimpin negara.

Kiai Musta’in mengulas balik peran Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai tokoh sentral di balik kesuksesan kemerdekaan Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa pesantren selain menjadi institusi pendidikan, juga menjadi pusat konsultasi kenegaraan.

“Pada masa penjajahan Belanda, para kiai adalah tokoh di balik kesuksesan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan, Presiden Ir. Soekarno selalu melakukan konsultasi kepada Hadratussyaikh ketika negara mengalami problematika besar,” ujar Kiai Musta’in di hadapan para peserta diklat.

Menurut beliau, kemampuan para kiai dalam menyatukan elemen masyarakat yang beragam menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan kolonial tanpa memicu perpecahan internal.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Keterlibatan Tebuireng dalam dunia global juga dibuktikan melalui sejarah Komite Hijaz. Kiai Musta’in memaparkan bagaimana ulama Nusantara merespons kebijakan Abdul Aziz bin Saud di tanah suci yang saat itu membatasi praktik mazhab.

“Para ulama Nusantara, termasuk dari Tebuireng, berinisiatif mengirim delegasi untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab. Ini membuktikan bahwa suara pesantren telah didengar dan diperhitungkan di level internasional sejak lama,” jelasnya.

Beliau menekankan bahwa dalam membangun relasi global, pesantren konsisten mengusung nilai-nilai dasar: tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), dan tawazun (keseimbangan). Nilai-nilai ini menjadi fondasi agar pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan sesi musyawarah dinamis antara narasumber dan peserta. Kiai Musta’in mengajak para calon pembina untuk merefleksikan berbagai tantangan yang dihadapi negara saat ini.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, terutama saat sesi tanya jawab yang membahas peran strategis santri dalam menjawab tantangan kebangsaan modern. Melalui diklat ini, diharapkan para pembina memiliki cakrawala berpikir yang luas, tidak hanya memahami dinamika asrama, tetapi juga sadar akan posisi pesantren dalam kancah global.

Baca Juga: Kendalikan Ego dan Emosi, Kunci Sukses Menjadi Pembina Santri ala Nyai Hj. Aisyah


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan