
Tebuireng.online- Sosok pembina pesantren memiliki peran krusial sebagai jembatan antara pengasuh dan santri. Hal ini ditegaskan oleh Nyai Hj. Aisyah Muhammad dalam sesi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Pembina Santri Pesantren Tebuireng Angkatan 22 di Jombang, Rabu (04/03/2026).
Dalam materi bertema “Pelayanan Kewalisantrian”, putri almarhum KH Muhammad Ishomuddin Hadziq ini mengingatkan bahwa pembina adalah ujung tombak yang mengemban amanah luhur para masyayikh.
Nyai Aisyah menekankan bahwa interaksi langsung pembina dengan santri setiap harinya menjadikan posisi mereka sangat sentral dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, kesiapan mental dan ketulusan niat menjadi syarat mutlak.
“Menjadi pembina harus ditoto niate (ditata niatnya), karena yang diurus adalah para santri yang merupakan aset bangsa. Apalagi yang diurus adalah santrinya Hadratussyaikh, maka kita harus memberikan pelayanan yang terbaik,” ujar Nyai Aisyah di hadapan puluhan calon pembina.
Beliau menjelaskan bahwa tolok ukur keberhasilan seorang pembina terlihat saat santri mampu mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, memiliki akhlak mulia, serta kedalaman ilmu saat terjun ke masyarakat kelak.
Satu poin penting yang menjadi sorotan adalah pesan agar pembina telah “selesai dengan dirinya sendiri”. Konsep ini merujuk pada kemampuan seorang pembina untuk mengendalikan ego dan emosi pribadi sebelum mencoba mendisiplinkan orang lain.
“Pembina harus selesai dengan dirinya sendiri, mulai dari menahan ego dan emosi, manajemen waktu antara urusan pribadi dan santri, hingga kedisiplinan dalam kehidupannya sendiri,” tegas beliau.
Menurutnya, mustahil seorang pembina bisa menanamkan kedisiplinan jika ia sendiri belum mampu mengatur waktunya dengan baik. Pembina dituntut menjadi teladan hidup (uswatun hasanah) yang konsisten dalam setiap tindakan.
Di akhir sesi, Nyai Aisyah menyampaikan harapan besar agar para kader Diklat Angkatan 22 mampu memberikan kontribusi nyata bagi Pesantren Tebuireng. Beliau berharap bekal keilmuan yang didapatkan selama pelatihan dapat menjadi instrumen pemberi solusi saat menghadapi dinamika problematika santri di lapangan.
“Semoga ilmu yang didapat selama kegiatan Diklat ini bisa membantu memberikan solusi ketika menghadapi para santri,” pungkas beliau menutup sesi materi yang berlangsung khidmat tersebut.
Baca Juga: Bekali Calon Pembina, Ustadz Slamet Habib Bedah Struktur dan Nilai Dasar Pesantren Tebuireng
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















