
KH. Asy’ari ayahanda Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). KH. Asy’ari merupakan pendiri pondok Keras yang lahir tahun 1830 dan wafat pada tahun 1890-an di makamkan di desa Keras.
Pernikahan dengan Nyai Halimah (Winih)
Pondok Gedang, Tambah Beras yang dipimpin Kyai Usman adalah tempat Mbah Asy’ari mondok (ngaji dan belajar agama) kepada Kyai Usman. Dari beberapa santri yang mondok, Mbah Asy’ari merupakan salah satu santri yang menonjol dari segi ketekunannya, kepandaiannya, kecerdasannya, sehingga Kyai Usman menikahkan Mbah Asy’ari dengan putrinya yang bernama Halimah (Winih) pada usia 9 tahun dan Mbah Asy’ari di usia 25 tahun. Pernikahannya dikarenakan Kyai Usman sudah sepuh dan kesehatannya terganggu sehingga sering sakit-sakitan.
Perpindahan Mbah Asy’ari dan Nyai Halimah ke Desa Keras
Atas permohonan Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat, Kyai Usman mengutus Mbah Asy’ari beserta istrinya, Nyai Halimah, untuk menetap di wilayah barat Desa Keras. Meskipun kawasan tersebut dikenal angker dan tanahnya berlumpur seperti rawa, mereka bersedia pindah, dan dihadiahi tanah seluas beberapa hektar yang masih berupa semak belukar.
Asal Mula berdirinya Pondok Keras
Mbah KH. Asy’ari bersama istrinya Nyai Halimah pindah ke desa keras dan mulai menata lahan baru di Desa Keras bersama sejumlah santri Pondok Gedang yang ikut. Dibantu sang istri, Mbah Asy’ari mulai melakukan dakwah tidak hanya pada warga namun juga pada makhluk halus (makhluk kasat mata) yang menjadi penghuni aslinya.
Pada awal beridirinya Pondok Keras (sekarang Pondok Al-Asy’ari) santri didominasi dari Jawa Tengah (Demak, Ambarawa dan Salatiga), adapun santri yang berasal dari Jombang mengaji dengan sistem kalong (tidak menetap di pondok pesantren). Para santri ketika belajar/ngaji dan kegiatan lain menggunakan serambi masjid yang selesai dibangun pada tahun 1911 M/1332 Н.
Setelah wafatnya KH. Asy’ari kepemimpinan Pondok Pesantren Keras dipimpin oleh putra KH. Asy’ari yang bernama KH. Muhammad Hasyim bin Asy’ari. Kemudian Mbah Muhammad Hasyim Asy’ari menunjuk H. Basuni bin Ahmad Sholeh, yang mempunyai nama kecil Kholil, sebagai pengasuh pondok, penunjukan/pengganti pemimpin pondok diumumkan langsung oleh Mbah Hasyim Asy’ari selesai salat jama’ah maghrib, “Saiki sing dadi pengasuh utowo sing mimpin pondok keras Kholil (Basuni)” kata Pak Jazuli salah satu santri KH. Hasyim Asy’ari.
Risalah KH. Asy’ari PP. Al Asy’ari Keras Diwek Jombang
K.H. Asy’ari kepada santrinya menyampaikan tentang kehidupan amaliyah yaumiyah, bahwa Allah SWT tidak membebani seseorang (manusia) melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Apabila dia (manusia) melakukan kejahatan mendapat siksa sesuai dengan perbuatannya dan mendapat pahala jika melakukan kebaikan karena seseorang itu memiliki ( لكل شر في النار فلكل خير في الجنة ) sifat lupa dan melakukan kesalahan.
K.H. Asy’ari dalam menyampaikan amaliyah yaumiyah-nya dilaksanakan di Masjid yang dibangun pada tahun 1332 H atau 1911 M. Masjid adalah sarana penyampaian pendidikan agama Islam dan tempat untuk berdo’a. Do’a yang disampaikan adalah:
“Ya Allah, Ya Tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan, Ya Tuhan kami janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau membebankan orang-orang sebelum kami, Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya, maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkau pelindung kami maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”
KH. Asy’ari menikah dengan Nyai Chalimah (Mbah Winih) atau para santriwati menyebut dengan panggilan Mbah Guru, dan beliau mempunyai 11 (sebelas) putra/putri.
Pewarta: Ilvi Mariana

Silsilah Nasab
Merunut kepada silsilah beliau, yang bersumber dari M. Ishom, KH. M. Hasyim Asy’ari, Figur Ulama dan Pejuang Sejati, Pustaka Tebuireng, berikut urutannya:
Maulana Ishaq
Abdul Fatah
Abdul Aziz
Abdurrohman ( Joko Tingkir)
Abdulloh (Pangeran Benowo)
Abdurrohman (Pangeran Sambu)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Mbah Asy’ari + Mbah Nyai Halimah (Ke-4)
Putra/Putri KH. Asy’ari + Nyai Halimah
Keras Diwek Jombang
- Nafi’ah (meninggal masih kecil)
- Ahmad Sholeh
- Muhammad Hasyim
- Rodliyah
- Hasan
- Anis (meninggal di Makkah)
- Fathonah (binti K. Alwi) – meninggal
- Maimunah (Asmah)
- Ma’shum
- Nahrowi (meninggal perjaka)
- Adnan

Catatan ini ditulis dari hasil wawancara dengan H. Abd. Gholib Sulhi (salah satu dzurriyah yang juga menjadi sesepuh/juru Kunci Makam Mbah Asy’ari Keras) dan dikutip dari catatan Silsilah KH. Asy’ari + Nyai Chalimah / Mbah Winih beserta anak-cucunya, yang dibuat oleh H. Abd. Gholib Sulhi, H. Mudzakkir, dan A. Chafidz. Di Keras, 10 Ramadhan 1445 H/21 Maret 2024 M.
Penulis: Ilvi Mariana
Editor: Sutan


















