Dari Kolam Lele Trensains ke Tambak Rumput Laut, Jalan Sukses Satriyo di Dunia Bisnis

2911
Muhammad Syarif Satriyo, lulusan MTs Salafiyah Syafi’iyah dan SMA Trensains Tebuireng berpose dengan bidang bisnisnya (foto: istimewa)

Tebuireng.online— Di balik jas direktur dan grafik pertumbuhan usaha, ada seorang santri yang memulai hidupnya dengan sarung, kitab, dan disiplin waktu salat. Muhammad Syarif Satriyo Samudra kini lebih sering berdiri di tepi tambak, menatap permukaan air, saksi perjalanan panjang penuh ikhtiar.

Di tangannya memang tak lagi ada kitab kuning atau buku pelajaran, melainkan catatan kecil berisi angka, jadwal panen, serta perhitungan risiko. Namun di kepalanya, doa-doa yang dulu ia hafal di Pesantren Tebuireng tetap mengalir setia, mengiringi setiap keputusan dan langkah usahanya.

“Awal hidup saya itu benar-benar dimulai dari nyantri di Tebuireng,” ujar laki-laki alumnus SMA Trensains Tebuireng itu saat diwawancarai, Senin (26/1).

Baca Juga: Perjalanan Alumni Trensains Tebuireng ke ECOTON Indonesia

Laki-laki kelahiran Surabaya pada 2003 itu, masa remajanya ditempa di lingkungan Pesantren Tebuireng, MTs Salafiyah Syafi’iyah, lalu SMA Trensains Tebuireng angkatan kelima (2018–2021). Di sanalah ia belajar bahwa agama bukan sekadar hafalan, melainkan fondasi hidup, termasuk saat berhadapan dengan dunia bisnis yang keras dan penuh risiko.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Dari MTs saya dapat pondasi untuk selalu taat dalam beragama, dan itu terbawa sampai urusan bisnis,” tuturnya. Baginya, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab bukan jargon moral, melainkan nilai hidup yang dipraktikkan sehari-hari.

Baca Juga: 10 Siswi SMA Trensains Tebuireng Raih Prestasi IMOYA 2025 di Singapura

Satriyo, saat lulus dari Universitas Airlangga (foto: istimewa)

Memasuki SMA Trensains Tebuireng, cara pandangnya semakin terbuka. Sekolah berbasis sains itu mengajarinya untuk berdamai dengan realitas zaman: teknologi, data, dan pendekatan ilmiah. Pesantren, dalam pengalamannya, bukan ruang tertutup dari modernitas, melainkan tempat berlatih menyambut masa depan.

Baca Juga: Siswa SMA Trensains Tebuireng Juara 1 Business Plan Muamalah Festival 2025

Fasilitas pesantren turut memainkan peran penting. Kolam-kolam perikanan yang ada di lingkungan sekolah menjadi laboratorium kehidupan baginya. Di sanalah, untuk pertama kali, Satrio bersentuhan langsung dengan dunia kewirausahaan.

“Saya pernah dipasrahi untuk mengatur keuangan kolam lele,” kenangnya. Amanah kecil itu justru menjadi pintu masuk menuju mimpi besar.

Bersama guru kewirausahaan, Ustadzah Weni, dan teman-temannya, Satriyo belajar tentang perputaran modal, risiko, serta pentingnya tanggung jawab. Mereka bukan sekadar memelihara ikan, tetapi juga belajar menghitung untung-rugi, menakar kemungkinan gagal, dan mengelola kepercayaan.

“Dari situ saya sadar, ternyata dunia kewirausahaan itu pondasi yang sangat utama,” kata laki-laki yang juga lulusan Universitas Airlangga itu.

Namun, dari sekian banyak pelajaran di pesantren, satu nasihat paling sederhana justru paling membekas. Pesan itu datang dari Mbah Arif. “Santri itu harus menjaga salatnya,” kata Satriyo menirukan. Kalimat singkat itu ia simpan rapat-rapat dalam ingatan.

Baca Juga: Siswa SMA Trensains Tembus Lima Besar Nasional Biologi UNESA

Prinsip tersebut menjadi kompas moral dalam perjalanan bisnisnya, terlebih karena usahanya berkaitan dengan makhluk hidup. “Usaha saya ini barang hidup,” ujarnya. “Kalau saya tidak menjaga diri, tidak menjaga salat, bagaimana mungkin saya berharap ikan saya sehat, rumput laut saya tumbuh baik?” Baginya, keberkahan dan keberhasilan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Selepas mondok, jalan hidup Satriyo tidak langsung mulus. Ia mendapat amanah besar dari almarhum ayahnya untuk mengelola tambak. Amanah itu kelak berkembang menjadi usaha rumput laut yang kini ia tekuni. Sosok ayah adalah motivator terbesarnya, guru kehidupan yang memberi teladan tentang kerja keras dan tanggung jawab.

Satriyo foto bersama bidang usahanya yaitu rumput laut (foto: istimewa)

Kepergian sang ayah menjadi pukulan terberat. “Tantangan paling berat itu ketika ayah sudah nggak ada,” ujarnya lirih. Ia kehilangan arah, kehilangan tempat bertanya. Dengan modal terbatas, Satriyo dipaksa tumbuh lebih cepat dari usianya. Ia memilih menahan diri, menekan keinginan, dan menjauh dari gaya hidup berlebihan. “Saya pilih nggak foya-foya dulu. Fokus muter modal seadanya,” katanya.

Baca Juga: Film ‘Algoritma’ Antar Siswa Trensains Tebuireng Raih Sutradara Terbaik di RFF 2025

Kegagalan pun datang silih berganti. Salah satu yang paling membekas adalah ketika tambaknya jebol. Air bah seolah menyeret pergi harapan dan kerja keras bertahun-tahun.

“Itu kegagalan yang paling membakar,” akunya. Dalam fase itu, ia sempat goyah, bahkan menjauh dari ibadah. “Saya sampai tiga hari nggak salat. Dan setelah itu, hidup terasa berat sekali,” tuturnya jujur.

Kesadaran itu menjadi titik balik. Ia kembali mendekatkan diri kepada Allah, menyusun ulang hidupnya, dan memaknai ulang kegagalan sebagai teguran sekaligus pelajaran.

Di balik setiap keberhasilan yang kini mulai tampak, Satriyo percaya ada kekuatan doa yang bekerja diam-diam. “Kunci utama usaha saya itu doa seorang ibu,” katanya. Doa ibu, baginya, adalah energi tak terlihat yang menembus segala keterbatasan, diperkuat oleh semangat dan warisan nilai dari ayahnya.

Dalam mengelola usaha, alumnus MTs Salafiyah Syafi’iyah itu, memadukan cara tradisional dengan pendekatan modern. Ia tidak menolak teknologi, justru merangkulnya. Mesin dan sistem ia gunakan untuk menutup celah kesalahan manusia dan meningkatkan efisiensi. “Kesalahan SDM bisa dibantu dengan mesin,” jelasnya.

Bagi alumnus Trensains ini, sains adalah alat untuk bersikap realistis. “Kita nggak bisa asal bilang air tua. Semua harus dianalisa dengan data,” tegasnya.

Baca Juga: Juara Poster Digital FLS3N: Danastri Anindya, Siswi Trensains Siap Maju ke Provinsi

Usaha rumput laut yang ia kembangkan membawa dampak nyata bagi masyarakat pesisir. Lapangan kerja terbuka, dari sektor budidaya hingga pemasaran. Namun, ia enggan disebut pelopor. “Saya hanya anak muda yang baru terjun,” katanya merendah. Ia menyadari dirinya berdiri di atas ilmu dan pengalaman para guru serta pelaku usaha sebelumnya.

Baginya, identitas santri tidak pernah luntur oleh jabatan atau pencapaian. “Semakin tinggi kita, anginnya semakin kencang,” ujarnya. “Saya harus ingat, saya ini santri.” Mimpi besarnya sederhana: menghidupkan kembali tambak-tambak tidak produktif agar mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi daerah.

Baca Juga: Memadukan Perspektif Qur’ani dan Sains Modern untuk Krisis Lingkungan

“Saya ini bukan santri yang pintar,” katanya jujur. “Yang saya jaga itu keberkahan.” Pesannya kepada para santri pun sederhana namun dalam, hormati guru, jangan pernah melukai hati ibu, dan jangan lupa meminta doa.

Santri, menurutnya, harus berani masuk ke sektor-sektor strategis, mengikuti perkembangan teknologi, tanpa kehilangan adab dan nilai pesantren. “Karena di mana pun kita berada kita tetap santri.” Pungkasnya.



Pewarta: Albii
Editor: Munawara