
Perempuan itu berdiri di ambang pintu rumah kayu yang telah ia kenal sejak kanak-kanak. Lantainya berderit setiap kali diinjak, dindingnya menyimpan bau hujan dan asap dapur, dan di sudut ruang tamu, ayahnya terbaring di kursi panjang dengan selimut tipis menutup dada. Ibu tertidur di kamar, napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan adalah perjuangan.
Zainab memeluk tas kecilnya. Bukan karena berat, melainkan karena isinya terlalu banyak kenangan. Hari itu, ia akan pergi. Bukan sekadar merantau, ia akan menyeberang pulau, ke Kalimantan, mengikuti suaminya yang baru sebulan ia nikahi.
Sebulan. Waktu yang terlalu singkat untuk belajar menjadi istri, dan terlalu cepat untuk belajar menjadi anak yang pergi.
“Abah, Zainab berangkat,” ucapnya lirih.
Ayah membuka mata perlahan. Wajahnya menua lebih cepat dari usia, keriputnya seperti peta perjalanan hidup yang keras dan panjang. Tangannya yang gemetar meraih tangan Zainab.
“Pergilah,” kata ayah pelan. “Jangan pikirkan Abah dan Ibu. Hidupmu sekarang sudah bukan di sini.”
Zainab tersenyum, tapi air matanya lebih dulu jatuh. Ia tahu, ayahnya berbohong demi menenangkan hatinya. Ayahnya pura-pura kuat.
Ia masuk ke kamar ibu. Perempuan yang dulu begitu kuat itu kini hanya tinggal tulang dan doa. Zainab duduk di tepi ranjang, mencium kening ibu yang hangat.
“Ibu, Zainab pergi ya. Doakan Zainab.”
Ibu menatapnya lama, seolah ingin menghafal wajah anak perempuannya untuk dibawa ke tidur panjangnya. Jemari ibu menyentuh pipi Zainab.
“Jadilah perempuan yang kuat,” bisik ibu. “Jangan lupa pulang.”
Kata pulang itu menggantung lama di dada Zainab.
***
Kalimantan menyambutnya dengan sungai yang lebar dan hutan yang seakan tak berujung. Di atas kapal kecil yang membelah air cokelat, Zainab duduk di samping suaminya, Fadlan, yang menatap jauh ke depan dengan mata penuh harap.
“Maafkan aku,” kata Fadlan tiba-tiba. “Aku tahu ini berat untukmu.”
Zainab menggeleng. “Aku istrimu. Ke mana pun kau melangkah, aku ikut.”
Namun di dalam hatinya, ada ruang yang tertinggal di rumah kayu itu, ruang yang berisi ayah, ibu, dan doa-doa yang tak pernah selesai.
Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggir kota. Di sekitarnya, suara mesin gergaji dan truk kayu hampir tak pernah berhenti. Fadlan bekerja di sebuah perusahaan logistik, sementara Zainab diterima sebagai staf administrasi di kantor kecil dekat pelabuhan.
Hari-hari Zainab berjalan cepat. Ia bangun sebelum subuh, memasak seadanya, bekerja hingga senja, lalu menunggu Fadlan pulang dengan senyum yang ia simpan rapat-rapat. Namun setiap malam, setelah suaminya terlelap, Zainab duduk sendiri di sudut kamar, memandangi layar ponsel.
Ia menghitung pesan yang tak pernah terkirim: Bagaimana kabar Ibu hari ini?
Apakah Abah sudah makan? Apakah hujan bocor di kamar?
Ia takut bertanya. Takut jawaban yang datang justru memanggilnya pulang dengan kabar duka.
***
Suatu malam, hujan turun deras. Angin menggoyang atap seng, dan listrik padam. Dalam gelap, ponsel Zainab bergetar. Pesan dari tetangga di kampung.
Zainab, Ibumu masuk rumah sakit sejak sore. Abah drop.
Zainab merasa dunia runtuh tanpa suara. Tangannya gemetar, napasnya tercekat. Ia membangunkan Fadlan dengan mata basah.
“Aku harus pulang,” katanya. “Sekarang.”
Fadlan memeluknya. Dalam pelukan itu, Zainab merasa kecil, rapuh, dan bersalah, pada suaminya, pada orang tuanya, pada dirinya sendiri.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari perjalanan pergi. Zainab tiba di rumah sakit saat pagi hampir siang. Ia melihat ayah duduk di bangku lorong, tubuhnya semakin kurus, matanya kosong.
“Ibu?” tanya Zainab dengan suara pecah.
Ayah mengangkat wajahnya. Senyum kecil muncul, senyum yang penuh lelah.
“Ibumu menunggumu semalam,” katanya. “Ia bertanya terus kapan Zainab pulang.”
Zainab masuk ke kamar rawat. Ibu terbaring diam, napasnya tipis seperti benang. Zainab menggenggam tangan ibu, menangis tanpa suara.
“Ibu, Zainab pulang,” bisiknya. “Maaf… maaf.”
Ibu membuka mata, tersenyum lemah. Bibirnya bergerak, hampir tak terdengar.
“Pergilah… lanjutkan hidupmu.”
Itulah kata terakhir ibu.
***
Beberapa hari kemudian, Zainab kembali ke Kalimantan bersama Fadlan. Di dadanya, ada duka yang tak bisa disembuhkan oleh waktu. Ayah kini tinggal sendiri, ditemani tetangga dan doa-doa yang Zainab kirimkan dari jauh.
Namun di tanah seberang itu, Zainab belajar satu hal: menjadi perempuan bukan tentang memilih antara keluarga atau pernikahan, melainkan tentang merawat keduanya dengan cara yang berbeda.
Setiap subuh, Zainab berdiri menghadap jendela. Di antara kabut dan suara burung hutan, ia berdoa.
Untuk ibunya yang telah tenang. Untuk ayahnya yang menua dalam sepi. Untuk dirinya sendiri, perempuan yang belajar kuat tanpa meninggalkan cinta. Di Kalimantan, Zainab menanam hidup baru. Tapi akarnya tetap tertanam di rumah kayu itu, tempat doa-doa tak pernah berhenti pulang.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















