
Kita bersepakat bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam. Apa pun latar belakang manhaj seorang muslim, semuanya berpijak pada satu rujukan yang sama, yakni Al-Qur’an. Namun, dalam memahami Al-Qur’an, tidak mungkin dilakukan secara baik dan benar tanpa perantara kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para mufassir.
Akan tetapi, keniscayaan memahami Al-Qur’an melalui kitab tafsir tidak selalu mudah diakses oleh semua kalangan. Ada banyak perangkat keilmuan yang harus dipelajari secara matang, seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan disiplin ilmu lainnya. Oleh karena itu, memahami tafsir karya para ulama bukanlah perkara sederhana, khususnya bagi masyarakat awam.
Sebagaimana fitrahnya, umat Islam memiliki rasa haus terhadap ilmu Al-Qur’an, baik dari sisi lafaz maupun maknanya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, hadir buku berjudul The Qur’anything yang mencoba menyajikan tafsir Al-Qur’an dengan cara yang lebih sederhana dan membumi.
Buku The Qur’anything ditulis oleh seorang ulama muda, Lora Muhammad Ismail Al-Ascholy, yang merupakan salah satu dzurriyah (keturunan) Syaikhona Kholil Bangkalan—ulama besar yang dikenal sebagai maha guru para ulama di wilayah Jawa dan Madura.
Penulisan buku ini berangkat dari kegemaran Lora Muhammad Ismail Al-Ascholy dalam menulis di media sosial. Aktivitas menulis tersebut ia jadikan sebagai sarana dakwah yang telah ia geluti sejak lama. Karena itu, The Qur’anything tidak tampil seperti kebanyakan kitab tafsir yang menggunakan bahasa kaku dan cenderung akademis sehingga sulit dipahami. Justru sebaliknya, buku ini mengajak pembaca seolah sedang berbincang santai, dengan bahasa sederhana khas generasi milenial.
Dalam buku The Qur’anything disajikan sepuluh surah pendek yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari Surah Al-Fatihah, kemudian Surah Tiga Qul (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas), hingga Surah Al-‘Alaq dan Al-Qadr.
Sebagaimana telah dijelaskan, buku ini tidak disusun seperti karya tafsir pada umumnya. The Qur’anything justru mengemas tafsir Al-Qur’an dengan bahasa yang renyah dan mengasyikkan, sehingga memberikan kemudahan sekaligus ruang bagi masyarakat awam untuk memahami pesan Al-Qur’an melalui narasi yang sederhana.
Hal tersebut tampak ketika Lora Muhammad Ismail Al-Ascholy menafsirkan Surah Al-Fatihah, khususnya pada ayat “iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.” Pada penggalan ayat ini, ia menekankan bahwa manusia seharusnya menyembah terlebih dahulu, baru kemudian meminta pertolongan.
“Ibadah dulu, baru doa. Ngabdi dulu, baru memohon. Masak nggak pernah nyembah tiba-tiba minta tolong, emangnya kamu partnernya Tuhan?” (hal. 22).
Melalui penafsiran ini, Lora Muhammad Ismail Al-Ascholy mengajak pembaca untuk bercermin: sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam beribadah, atau justru hanya sibuk meminta pertolongan?
Kesederhanaan bahasa yang digunakan dalam buku ini membuat pembaca seakan diajak mengobrol santai bersama penulisnya. Meski terasa ringan, buku ini tetap menghadirkan ruang perenungan yang mendalam, bahkan menjadi bahan refleksi pribadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, The Qur’anything dapat menjadi pegangan bagi masyarakat awam yang ingin memahami Al-Qur’an tanpa mengurangi makna dan hakikat tafsir itu sendiri. Di sisi lain, buku ini juga layak menjadi bahan refleksi bagi kalangan akademisi yang hendak menelaah kajian tafsir Al-Qur’an dari sudut pandang yang berbeda dan lebih kontekstual.
Judul Buku: The Qur’anything
Penulis: Lora Muhammad Ismail Al-Ascholy
Jumlah halaman: 372
Ukuran: 14,8×21 cm
Penerbit: TIEMAS (Turast Ilmie Madrasah Al-Ma’arif Syaichona Moh. Cholil)
Cetakan: Pertama, 10 Ramadhan 1446 H (10 Maret 2025)
Peresensi: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















