Seni Ridha Ketika Hidup Tidak Sesuai Rencana

81
Ilustrasi ketenangan (sumber: madiunnetwork)

Hidup sering kali berjalan tidak seperti yang kita gambar di kepala. Rencana yang disusun rapi bisa runtuh oleh satu kabar singkat, satu kejadian tak terduga, atau satu keputusan orang lain yang tak bisa kita kendalikan. Pada titik ini, banyak orang merasa kecewa, lelah, bahkan mempertanyakan makna dari semua usaha yang telah dilakukan. Padahal, realitas kehidupan memang tidak pernah menjanjikan garis lurus antara harapan dan kenyataan.

Dalam khazanah hikmah Islam, kondisi semacam ini bukanlah hal asing. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani melalui kitab Nashaihul ‘Ibad mengajak manusia untuk tidak terjebak pada kegelisahan berlebihan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Kuncinya adalah satu sikap batin yang sering terdengar sederhana, tetapi sulit dipraktikkan, yaitu ridha. Ridha bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima keputusan Allah dengan hati yang tenang setelah ikhtiar dilakukan. Syekh Nawawi menukil sebuah hikmah mendalam tentang ridha yang berbunyi:

مِنْ عَلَامَاتِ الرِّضَا سُكُونُ الْقَلْبِ تَحْتَ مَجَارِي الْأَحْكَامِ

Artinya: Di antara tanda ridha adalah tenangnya hati ketika berada di bawah ketetapan-ketetapan Allah.

Baca Juga: Kisah Ini Menggambarkan Bagaimana Wujud Rida Allah

Tenang di sini bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hati yang tidak lagi memberontak ketika kenyataan berjalan di luar harapan. Ada luka, ada kecewa, ada air mata, tetapi semua itu tidak berubah menjadi prasangka buruk kepada Allah. Hati tetap lembut, tidak keras oleh amarah, dan tidak gelap oleh putus asa. Orang yang ridha memahami bahwa ketetapan Allah selalu mengandung hikmah, meski hikmah itu belum tentu langsung terlihat. Di titik inilah ketenangan mulai tumbuh, bukan karena masalah selesai, tetapi karena hati sudah tidak lagi berperang dengan takdir.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam perspektif ini, ridha menjadi seni mengelola batin. Saat rencana gagal, orang yang ridha tidak menyangkal rasa sedihnya, tetapi juga tidak membiarkan kesedihan itu menguasai dirinya. Ia memahami bahwa Allah tidak pernah salah dalam menakar beban hamba-Nya. Apa yang terasa pahit hari ini, boleh jadi sedang membentuk kedewasaan iman dan kejernihan jiwa di masa depan. Al-Qur’an menegaskan prinsip ini dalam firman-Nya:

“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah, agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22–23).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan emosional. Kegagalan tidak membuat kita hancur, dan keberhasilan tidak menjadikan kita sombong. Semuanya berada dalam pengaturan Allah yang Maha Bijaksana.

Baca Juga: Cerita Pemuda yang Memburu Ridha Allah

Ketika hidup tidak sesuai rencana, mungkin yang sedang Allah luruskan bukan jalan di depan kita, melainkan cara pandang di dalam diri kita. Ridha menjadikan hati lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan langkah lebih ringan. Ia mengajarkan bahwa keindahan hidup tidak selalu terletak pada tercapainya rencana, tetapi pada kemampuan menerima kenyataan dengan iman.

Pada akhirnya, ridha adalah bentuk kepercayaan terdalam kepada Allah. Bahwa meski hidup berbelok arah, kita tetap berada dalam genggaman-Nya. Dan di sanalah, sering kali tanpa disadari, ketenangan yang selama ini kita cari justru menemukan jalannya pulang ke hati.

 



Penulis: Silmi Adawiya, Mahasiswa S3 UIN Maulana Malik Ibrahim
Editor: Rara Zarary