
Pergi adalah luka bagi sebagian orang, atau semacam trauma dan kenangan yang menyeset perlahan di tubuh-tubuh yang merasakannya. Seperti pisau tajam yang menyayat-yayat kulit hingga membekas sampai ke pikiran. Kadang pergi adalah perjumpaan, perjumpaan antara luka dan kesedihan, kadang juga pergi adalah kebahagiaan, karena dengan pergi seseorang bisa melepaskan semuanya dengan tenang dan nyaman.
Pergi bagi Laras adalah luka yang setiap harinya menganga. Laras, perempuan kelahiran 1999 telah merasakan bagaimana pergi adalah luka. Di desa kelahirannya waktu ia umur 15 tahun telah terjadi bencana alam yang meluluhlantakan kampungnya, hingga kini hanya tersisa serpihan-serpihan gedung tua kosong yang ambruk dan tanah-tanah yang menimbun aspal dan tembok-tembok.
Laras adalah perempuan yang hidup dari terpaan bencana yang menimpah kampungnya kalah itu. Ibu dan bapaknya telah meninggal dunia dan sampai sekarang tidak di temukan di mana keberadaannya. Banjir dan longsor telah membuat Laras hidup sendiri sampai sekarang.
“Na, aku rindu ibu dan bapak.” ucap laras pada Bitna.
“Sabar ya, Laras. Ikhlaskan semuanya perlahan ya. Sini peluk dulu.” jawab Bitna sambil memeluk Laras yang matanya semakin berkaca-kaca.
Bitna adalah sahabat Laras dari kota seberang, ketika kepindahannya dari kota seberang ke kampung ini, Laras telah membantunya. Mereka menginap bersama di rumah yang gentengnya bocor dan kayu keropos akibat banjir. Rumah itu milik Laras yang tersisah satu-satunya. Bitna sebetulnya anak seorang dosen yang sedang melakukan penelitian di kampung ini, dia sedang menempuh pendidikan pascasarjana di kampus yang terkenal di kota seberang.
Laras dan Bitna bertemu waktu ia berdua menempuh pendidikan sarjana bersama-sama di kampus seberang, Laras dulu ingin sekali kuliah tapi terkendala biaya sampai akhirnya mendapatkan beasiswa sampai lulus. Lalu mereka berdua bertemu dan berkawan sampai sekarang. Setelah lulus, Laras pulang ke kampungnya untuk bisa membantu membangun desa kecilnya, sedangkan Bitna melanjutkan studinya. Mereka berdua di pertemukan kembali di kampungnya. Laras yang sedang membangun koperasi bersama warga dan Bitna yang sedang melakukan penelitian tentang lingkungan di desa Laras.
“Aku akan selalu menemanimu kok, Ras. Santai dong, semangat ya.” Ucap Bitna sambil tanganya mengusap-usap pinggul Laras.
“Aku seneng, tiba-tiba kamu di sini dengan tujuan yang baik, Na.” Jawab laras sambil menyenderkan kepalanya ke punggung Bitna.
“Aku merasa perlu melakukan penelitian di sini, Ras. Karena selama bertahun-tahun tidak ada yang melakukan penelitian mengenai kerusakan lingkungan disini, Ras. Padahal kamu tahu sendiri dan kamu korbannya bahwa dulu pernah terjadi banjir bandang yang besar sekali dan longsor disini.” Ucap laras menjelaskan.
“Aku ingin membuktikan, nanti kalau penelitianku sudah selesai aku menyakini bahwa apa yang terjadi di desa ini bukan karena wargannya yang tidak sadar akan lingkungan atau menebang pohon sembarangan.” Ucap Bitna menambahkan.
“Aku akan menemanimu sampai selesai, Na.” Jawab laras menyakinkan.
***
Warga-warga di kampung ini antuasias dengan kedatangan Bitna, di perkenalkan satu-satu oleh Laras dan langsung akrab sapa menyapa hingga ngobrol dan tertawa bersama. Lalu Bitna mencari narasumber-narasumber yang bisa di wawancarai untuk melakukan penelitiannya. Menanyakan tentang ini dan itu dan segalah hal yang dianggap perlu kepada warga. Hingga pada akhirnya warga-warga yang ditanya oleh Bitna justru mengarahkan Bitna untuk bertanya pada Laras, wajah ibu-ibu dan bapak-bapak justru mengarah pada Laras. Ada salah-satu warga yang keceplosan bilang:
“Semua yang tahu kampung ini adalah Laras, karena kita semua pendatang, keluarga kita yang dari kecil disini sudah meninggal semua akibat banjir dan longsor. Dan satu-satunya yang selamat dari bencana itu adalah Laras, neng.” ucap salah-satu warga.
Mata Bitna langsung tertujuh pada Laras, Laras menundukan kepalanya dan langsung pergi pulang ke rumahnya. Bitna kaget sekaligus tidak menyangkah dan ada perasaan aneh di dadahnya. Sebelum pamit pulang ke warga-warga, Bitna hampir mengejar Laras yang langsung pergi ketika ada warga yang mengatakan seperti itu. Lalu ada ibu-ibu yang menyeletuk.
“Neng, apa yang neng ingin tahu sebetulnya Laras tahu semua. Cuman dia sulit diajak bicara soal kampung ini, kepada semua warga dia mengatakan dia tidak tahu apa-apa, sebetulnya dia menyimpan sesuatu yang amat dalam tentang seluk-beluk kampung ini dan kejadian banjir dan longsor tersebut.” ucap ibu-ibu warga jelas.
“Baik, ibu bapak. Terima kasih. Aku pamit duluan ya.” Jawab Bitna bergegas, mengambil ranselnya yang tergletak di lantai lalu mengejar Laras yang pergi.
***
Malamnya, bulan dan bintang gemerlap diatas langit sana. Laras tak mau keluar dari kamarnya, Bitna menunggu di depan sambil meminum teh dan berharap Laras keluar untuk membicarakan ini semua kepadanya. Berselang 20 menit, jam menunjukkan pukul 21:20 WIB, Laras keluar. Matanya sembab, merah, bibirnya pucat pasih dan rambutnya acak-acakan. Syok melihat Laras dengan acak-acakan seperti itu, Bitna berdiri langsung melihat Laras yang secara perlahan duduk di pinggir kursinya. Mata Bitna tertuju pada Laras tetapi Bitna masih memandanginya terus-menerus.
“Maafkan aku ya, Na.” Ucap Laras sambil sesegukan menangis.
“Maaf kenapa, Ras?” jawab Bitna sambil perlahan tangannya memegang tangan Laras.
“Aku takut kalau aku harus membicarakan ini lagi dan lagi, Bit. Rasanya sakit sekali, sakit benar-benar sakit.” Ucap laras sambil mengusap air matanya perlahan.
“Kamu mau cerita sama aku, Ras?” jawab Bitna pelan.
Laras menganggukan kepala.
“Dulu, ketika ibu dan bapaku masih hidup, aku di ceritakan tentang warga disini, namanya Pak Krisno, dia adalah tetua di kampung ini, tetapi dia sering melakukan hal-hal yang membuat dirinya senang tanpa memikirkan warga yang lain. Dulu disini ada perusahaan, perusahaan itu melakukan banyak sekali penebangan pohon entah sampai berapa hektar perusahaan itu menebangnya. Waktu itu sih Pak Krisno mengumpulkan semua warga sini untuk berunding atas perizinan perusahaan di kampung ini. Hampir semua warga menolak, tetapi Pak Krisno ngomong. Kalau semua warga menolak, Pak Krisno tidak segan-segan mengganggu hidupnya sampai mati.” Ucap Laras sambil terus mengusap air matanya yang mengalir ke pipi.
“Bapak dan ibuku termasuk yang menolak, karena bapak dan ibuku tidak mau alam marah dan murkah atas perlakuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Selama bertahun-tahun bapak dan ibu hidupnya di ganggu, setiap minggu preman keliling memasuki rumah-rumah warga untuk menggledah seluruh isi rumah dan merampas barang-barang hasil berkebun hingga uang. Lalu bapak dan ibu di pukulin kalau tidak mau menyerahkan hasil kebunnya berserta uangnya.” Laras menambahkan.
“Sejak saat itu, hutan jadi gundul, warga sengsara dan mulai hidup kesulitan. Mulai kesulitan air bersih, mulai kesulitan untuk berladang dan mulai hidup tanpa kepastian.” Ucap laras.
“Warga disini semuanya takut kepada Pak Krisno karena Pak Krisno mempunyai beking besar dari perusahaan dan preman-preman yang membawa pistol. Semuanya nurut pada Pak Krisno walaupun semakin hari hidupnya makin sulit.” Ucap laras menambahkan.
“Hingga akhirnya bencana itu datang, menghantam. Tahun 2012 adalah tahun yang mematikan bagi kampung ini, selama perusahaan itu berdiri hampir 7 tahun, tiba-tiba banjir bandang datang ditambah dengan longsor yang membumi hanguskan rumah warga-warga disini. Warga berlarian dan terlibas oleh arus air yang sangat kencang dan tertimbun tanah longsor. Semua menjerit, menangis. Dan aku, yang Tuhan tolong. Aku masih di berikan hidup bergelantungan di pohon kelapa yang sampai sekarang pohonnya tidak roboh. Perusahaan hancur tertimbun longsor, Pak Krisno sampai sekarang tidak di temukan bersama bapak dan ibuku dan juga warga-warga lain. Entah terseret air atau tertimbun longsor” Tambah Laras sambil sesegukan kencang.
“Terus, dari semua kejadian itu kamu yang selamat sendiri?” ucap Bitna bertanya serius.
“Iya, aku selamat, karena aku berusaha memanjat pohon kelapa dan berhasil. Aku bergelantungan sendirian selama hampir 7 jam diatas pohon kelapa sendirian. Terlepas dari itu semua, aku melihat mayat-mayat tercecer seperti kapas, kayu-kayu dan reruntuhan tembok telah menjadi serpihan-serpihan yang pecah besar-besar. Rumah-rumah kami hancur dan semua itu membuatku trauma dan aku gamau cerita ini kepada siapapun karena aku takut” Ucap Laras, tangisnya pecah sejadi-jadinya.
Bitna memeluknya. Lalu Bitna bilang: “Aku akan mengungkap ini, terima kasih, Ras. Jangan sedih. Ada aku yang akan selalu bersamamu.”
Penulis: Lupi Malaranggih
Editor: Rara Zarary


















