Klotok Menuju Cahaya

149
Sebuah ilustrasi perjuangan menuju cahaya (sumber: ai/ra)

Klotok Menuju Cahaya
Sungai mengalir berselimut kabut
klotok melaju bagai doa tak putus
Roda berputar bukan hanya besi
Melainkan niat mengarah jalan lurus

Air berbisik dengan eceng gondok
Tentang anak-anak membawa buku
Lentera kecil mengubah lentera besar
Menyusuri arus sungai disambut senyuman pagi

Ilmu membawa angin pengetahuan
Ia mengudara di angkasa pelajar
Sekolah-sekolah membuka gerbang peradaban
Meraih emas mulia bernilai tatanan kehidupan

Klotok bukan kapal biasa
Mengapung dan membelah aliran sungai ujian
Melawan arus ombak kepahitan
Melaju di atas keseimbangan cita-cita

Gerimis hujan membasahi perjalanan klotok pelajar
Awan-awan hitam menutupi kecerahan
Namun semangat di kalbu, tak mampu dipadamkan
Sebab ilmu penerang di kegelapan ketidaktahuan

Mereka membuat motivasi, berubah kekuatan
Setiap tetes keringat jatuh dari dahi
Tinta yang terus menulis pengetahuan
Membuka jalan-jalan keberhasilan

Klotok penuntut ilmu
Meski tua dan bunyi mesin berderit
Ia alat menyeberangi kelemahan
Menuju harapan, membawa wawasan


Sepeda Berima
Pagi hari masih membawa sunyi
Kupacu roda dua dengan niat
Rantai bernyanyi dengan irama tasbih
Menghitung sabar melewati perjalanan berliku

Sepedaku berhiaskan lem plaster warna warni kehidupan
Ia melewati jalan-jalan sempit menuju cahaya
Mengantar tubuh haus akan ilmu
Bersiap menghampiri ruang-ruang aksara

Jalan berlubang tak mengenal sakit
Kerikil-kerikil waktu terus berputar
Setiap hembusan masa meraup pelajaran
Sejauh mana kayuh sepeda mengubah kelemahan?

Angin membelai pipi
Bagai guru tua tak lelah menegurku
Matahari bersinar di atas langit kesukaran
Membawa kemudahan di perjumpaan pengetahuan

Aku bukan siapa-siapa
Hanya anak kampung menembus badai
Kayuhan sepeda melewati kemustahilan
Setiap detik melaju bersama guru-guruku

Sampai nanti
Ketika puncak pengetahuan dicapai
Aku melihat ke belakang jejak roda membekas
Dengan kayuhan luka dan cinta bersemi kebahagiaan


Derap Langkah Kaki
Di jalan aspal yang bergelombang
Aku menapaki jalan-jalan desa
Menyusuri pagi dengan riang
Dan sepatu terpasang membawa ketegaran

Langkahku bukan sekedar gerak
Menyisipkan niat-niat yang dibaca kalbu
Setiap debu yang beterbangan menepis pilu
Asap-asap kendaraan menghembus sunyi

Aku berjalan
Melewati pepohonan yang bertasbih
Melewati angin yang membawa kabar impian
Yang bergelora memasuki sel-sel jantung

Detak jantung memompa kekuatan
Dan lutut tak mengeluh menembus waktu
Deraian air mata, menambah tenaga
Ada keterbatasan menuju gemilang pengetahuan

Langit pun mencatat
Pelajar bukan sekedar pergi tanpa peroleh
Namun musafir yang menukar lelah
Dengan cahaya cita-cita

Ketika matahari mulai turun
Aku pulang dengan langkah kaki pelan
Tas di pundak berubah berat
Tapi membawa terang akan pengetahuan



Penulis: Ahmad Norhudlari, Alumnus UIN Antasari Banjarmasin. Aktif menulis puisi di media online. Menyukai menulis, desain grafis.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online