Ribuan Jamaah Padati Haul ke-16 Gus Dur di Tebuireng

175
Ribuan masyarakat hadiri acara Haul ke-16 Gus Dur di Pesantren Tebuireng (foto: rara)

Tebuireng.online— Puncak acara Haul ke-16 almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan para Masyayikh Pesantren Tebuireng digelar khidmat dan meriah di lingkungan Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Rabu (17/12/2025). Ribuan santri, alumni, serta masyarakat dari berbagai daerah hadir untuk mengenang jasa dan perjuangan Gus Dur serta para masyayikh yang telah mewariskan nilai keilmuan dan kebangsaan.

Rangkaian acara diawali dengan pra-acara berupa pembacaan Maulid Diba’, yang menggugah semangat spiritual sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan shalawat yang menggema menambah kekhusyukan suasana jelang acara puncak.

Baca Juga: Gus Mus Kenang Gus Dur: Beliau Sudah Selesai dengan Dirinya

Puncak haul dibuka dengan sambutan dari Ning Yenni Wahid (Zannuba Ariffah Chafsoh), salah satu dzurriyah Gus Dur, yang menyampaikan pesan keluarga. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan ulama Nahdlatul Ulama, khususnya keteladanan Gus Dur yang baru saja ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Kita harus menjadi generasi penerus NU yang ikhlas, sebagaimana dahulu para ulama berjuang menjaga NU dengan penuh pengorbanan,” tutur Ning Yenni.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin). Ia mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya Haul ke-16 Gus Dur sekaligus kebanggaannya atas penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional.

“Kami bangga bahwa Gus Dur telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Ini bukan hanya kebanggaan keluarga, tetapi juga kebanggaan warga NU dan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Ribuan jamaah antusias hadiri lokasi Haul Gus Dur (foto: rara)

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut memberikan sambutan. Ia menegaskan bahwa jauh sebelum ditetapkan sebagai pahlawan nasional, Gus Dur telah menjadi pahlawan toleransi dan kemanusiaan bagi seluruh umat beragama di Indonesia.

“Gus Dur adalah simbol persaudaraan dan toleransi lintas iman. Keteladanan beliau sangat relevan bagi kehidupan bangsa hari ini,” ujar Khofifah.

Baca Juga: Yenni Wahid Bongkar “Rahasia” Gus Dur Hidup di Hati Masyarakat

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo Muhammad Syafi’i, mengapresiasi dedikasi Gus Dur dalam memperjuangkan nilai keagamaan yang inklusif dan berpihak pada kemaslahatan umat.

“Gus Dur adalah sosok pluralisme, toleransi, dan moderasi antarumat beragama. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita jaga,” katanya.

Inti puncak acara diisi dengan mauidhatul hasanah oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Dalam tausiyahnya, Gus Mus menjelaskan bahwa kecintaan Allah kepada seorang hamba ada dua jalan, yakni melalui usaha ibadah dan ketaatan, serta karena memang telah dicintai Allah sejak diciptakan.

Pesan tersebut semakin meneguhkan pandangan jamaah terhadap sosok Gus Dur sebagai pribadi yang matang secara spiritual, sederhana, dan penuh keikhlasan dalam membela kemanusiaan.

Puncak Haul ke-16 Gus Dur ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH. Agus Ali Masyhuri. Doa dipanjatkan agar almarhum Gus Dur dan para Masyayikh Pesantren Tebuireng senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta cita-cita dan perjuangan mereka terus hidup di hati umat.

Baca Juga: Haul Ke-16 Gus Dur, Magnet bagi Ribuan Jemaah dan Berkah Ekonomi Ratusan Pedagang

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Ning Yenni Wahid, Ning Inayah Wulandari Wahid, KH. Ahmad Mustofa Bisri, Wakil Menteri Agama RI Romo Muhammad Syafi’i, Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, Konsul Jenderal Amerika Serikat wilayah Timur Chris Green, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Kapolda Jawa Timur Nanang Avianto, Kasdam V/Brawijaya Zainul Bahar, Wakil Bupati Jombang Salmanudin Yazid, serta para kiai, bu nyai, dan tamu undangan lainnya.



Editor: Rara Zarary
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza