Keturunan Persia di Madinah, Biografi Tiga Tokoh Besar Cucu Yazdajird

135
ilustrasi orang madinah

Masa kekhalifahan Umar bin Khattab kaum muslimin melakukan banyak penaklukan kota dan negeri. Di antara kota-kota yang berhasil ditaklukkan adalah Persia. Saat itu Persia dipimpin oleh Kisra atau bisa disebut sebagai Yazdajird. Persia mengalami kekalahan sehingga banyak dari kaum wanita dan anak-anak mereka menjadi tawanan kaum muslimin. Para tawanan itu dibawa ke Madinah. Ibukota Islam saat itu.

Di antara para tawanan itu ada tiga putri Kisra. Dalam beberapa sumber disifatkan bahwa mereka bertiga adalah para perempuan yang paling elok rupa dan parasnya. Tak heran jika banyak sekali orang yang ingin mengambil mereka. Ali bin Abi Thalib yang melihat hal tersebut langsung menemui Umar bin Khaththab dan menyatakan bahwa tidak selayaknya tiga putri Kisra tersebut diperuntukkan untuk orang biasa. Mereka seharusnya dimuliakan dengan dibeli dengan harga yang lebih tinggi bahkan sudah selayaknya mereka diperuntukkan untuk orang yang sederajat dengan mereka. Pada akhirnya, ketiganya dibeli dan dinikahi oleh ‘Abdullah bin ‘Umar, Muhammad bin Abu Bakar, dan Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Cucu-cucu Yazdajird yang Menjadi Orang Besar

Dari pernikahan tiga putri Kisra dan anak orang besar dan mulia ini, lahirlah tiga orang besar juga. Berikut biografi singkat mereka

Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar

Salim adalah orang yang postur tubuh, paras, rupa, akhlak, dan agamanya paling mirip dengan Sayyidina ‘Umar bin Khaththab. Salim lahir di Madinah dengan cahaya kenabian dan keilmuan yang masih ia dapat rasakan.

Ayahnya adalah seorang ahli ibadah, zuhud, ahli shaum dan qiyamullail. Ayahnya sudah melihat sejak kecil bahwa Salim adalah sosok yang bertakwa, berpekerti luhur dan qur’ani melebihi saudara-saudaranya yang lain. Hingga dididiklah Salim menjadi anak yang tumbuh di bawah syariat Islam dan Al-Qur’an.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di Madinah, Salim belajar dari sisa-sisa shahabat nabi yang masih hidup di zaman itu. Di antara para sahabat itu ada Abu Rafi’, Abu Ayyub Al-Anshari, Abu Lubabah. Guru utamanya adalah ayahnya sendiri, ‘Abdullah bin ‘Umar. Dari didikan dan tempaan orang-orang besar dan mulia tadi jadilah Salim salah satu dari fuqaha sab’ah. Jadilah Salim seorang faqih yang menjadi rujukan banyak manusia pada zaman itu. Seseorang yang bahkan para umara` pun minta fatwa dan tunduk mendengar serta mentaati perintahnya.

Salim hidup dalam usia yang relatif panjang dan penuh dengan ketakwaan dan kebaikan. Ia juga merupakan sosok yang berpaling dari gemerlap duniawi. Sama seperti kakeknya, ‘Umar bin Khaththab. Ia juga pribadi yang zuhud. Ia pun turut dalam pengepungan Romawi. Salim wafat pada tahun 106 Hijriah. Hari wafatnya adalah hari dimana muslimin berduka. Semua orang turut menyolati dan mengantarkan jenazahnya. Wallahu a’lam.

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar

Qasim lahir di akhir pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan. Qasim adalah orang yang mirip dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam hal akhlak, agama, wara’, dan kedermawanannya. Ayahnya, Muhammad bin Abu Bakar meninggal saat ia menjadi gubernur Mesir pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib. Jadilah Qasim kecil diambil dan diasuh oleh paman dan bibinya, Abdurrahman dan Aisyah. Keduanya membawa Qasim pulang ke Madinah. Hak asuh Qasim sempat menjadi perdebatan antara paman dan bibinya itu.

Aisyah bersikeras untuk mengambilnya karena Abdurrahman adalah seorang lelaki yang punya banyak istri. Aisyah tidak mau jika Qasim bersama pamannya itu Qasim tidak terurus. Hingga diasuhlah Qasim oleh Aisyah ra. Aisyah sangat menyayangi Qasim. Tak hanya memenuhi kebutuhan hidup Qasim, Aisyah juga mengajari Qasim banyak hal. Syariat, Al-Quran, Hadits, Fiqh. Aisyah mengajari Qasim semua ilmu yang ia tahu.

Pada akhirnya, Aisyah mengembalikan hak asuh Qasim kepada Abdurrahman. Akan tetapi, karena Qasim sudah sangat dekat dan menyayangi Aisyah, ia pun membagi hari dan waktu untuk Aisyah dan Abdurrahman. Jadi tidak sepenuhnya ia bersama Abdurrahman.

Disebabkan bimbingan Aisyah yang tidak bisa dibilang main-main, jadilah Qasim sosok dengan kepribadian yang baik. Pekertinya luhur. Akhlaknya mulia. Ilmunya seluas samudra. Jadilah Qasim salah satu dari fuqaha sab’ah yang keilmuan diakui oleh banyak fuqaha di zaman itu. Qasim hidup selama 72 tahun. Waktu yang tidak sebentar. Semuanya penuh dengan kebaikan. Beliau wafat saat perjalanannya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Wallahu a’lam

‘Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib

‘Ali merupakan putra dari Husain bin Ali bin Abi Thalib dan putri Kisra. Ia diberi nama ‘Ali karena mencontoh kakeknya. Ali sudah menjadi piatu sejak kecil karena ibunya meninggal saat menjalani masa nifas setelah melahirkannya. Setelah wafatnya sang ibu, ‘Ali diasuh oleh seorang pelayan yang amat mencintainya. Ya. Pelayan tersebut menyayangi ‘Ali melebihi apapun. Hingga ‘Ali tidak mengetahui ibu selainnya.

‘Ali tumbuh menjadi pribadi yang mencintai ilmu. Madrasah pertamanya adalah rumahnya. Guru pertamanya adalah ayahnya, Husain bin ‘Ali, lalu tempat belajarnya adalah Masjid Nabawi. Saat itu, Masjid Nabawi adalah tempat yang dipenuhi oleh sisa-sisa shahabat nabi, juga dipenuhi oleh generasi awal tabi’in. Mereka disana belajar dan mengajar. Mereka juga dengan senang hati mengajarkan ‘Ali banyak hal. Mereka mengajarkan ‘Ali Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah, Sirah Nabawiyah, Maghazi Rasulullah, mereka juga membacakan syi’ir bangsa Arab. Selain dalam hal keilmuan mereka juga berhasil mengajarkan ‘Ali bab mencintai Allah dan agamanya.

Tersebab semua tempaan tadi jadilah ‘Ali pemuda yang memiliki banyak ilmu, berwawasan luas. Ia menjadi seorang yang sangat suka berbuat baik. Akhlaknya teramat mulia. Budi pekertinya sangat terpuji. Ia juga seorang ahli ibadah dan takwa. Disebabkan bagusnya agamanya ia diberi julukan Zainal Abidin yang berarti perhiasan orang-orang yang ahli ibadah. Kelak julukan ini lebih terkenal daripada nama aslinya.

Zainal Abidin memiliki amalan yang paling ia cintai dan selalu ia lakukan. Amalan itu adalah sedekah secara sembunyi-sembunyi. Jika sudah memasuki waktu malam, Zainal Abidin punya kebiasaan untuk keluar dari rumahnya sambil memikul karung-karung gandum untuk ia bagikan kepada masyarakat fakir di Madinah. Orang-orang yang menjadi target Zainal Abidin adalah orang-orang yang tidak mampu akan tetapi mereka menahan diri mereka dari mengemis kepada manusia. Banyak fakir miskin Madinah yang bertahan hidup karena pemberian diam-diam Zainal Abidin tersebut dan mereka tidak tahu darimana semua itu datang. Mereka tahu bahwa hal tersebut adalah perbuatan Zainal Abidin baru saat ia wafat. Orang yang memandikannya melihat sebuah lebam biru di punggungnya.

Amalan lain yang ia miliki adalah beliau sering membebaskan budak pada malam Idul Fitri. Disebabkan semua kebaikannya inilah Zainal Abidin memiliki tempat khusus di hati kaum muslimin. Mereka mencintainya dengan cinta yang sangat besar. Mereka mengagungkannya dengan luar biasa. Mereka juga selalu merindukannya, baik saat beliau masih hidup atau saat sudah meninggal. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Sejarah Hubungan Diplomatik Imperium Persia dan Bangsa Israel Kuno


Penulis: Shofiyah Nur Azizah

Editor: Muh. Sutan