
Tebuireng.online— Redaktur Media Tebuireng, Munawara M.Ikom, atau akrab disapa Rara Zarary hadir sebagai narasumber dalam seminar bertema dakwah kreatif santri yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al Madinah, Diwek, Jombang, pada Kamis (11/12/2025). Seminar ini dihadiri sekitar 80 santri dan santriwati, serta mendapat dukungan sponsor dari Rabbani. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi para santri untuk memahami perkembangan dakwah di era digital yang semakin dinamis.
Dalam pemaparannya, Dosen Komunikasi dan Penyiaran (KPI) Unhasy itu, menjelaskan bahwa dakwah hari ini tidak lagi terbatas pada mimbar masjid atau majelis pengajian. Kemajuan teknologi dan tingginya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda membuat penyebaran dakwah dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.
Baca Juga: Rara Zarary Bagikan Tips Membangun Semangat Literasi Santri
“Sekarang mimbar dakwah itu bukan hanya di masjid, tapi juga ada di HP kalian. Di TikTok, Instagram, YouTube, bahkan podcast. Di situlah ruang baru untuk menyampaikan kebaikan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa perubahan ini harus disikapi dengan kesiapan para santri dalam memanfaatkan media digital secara bijak dan bertanggung jawab.
Merujuk isi materi seminar bertajuk “Dakwah Kreatif untuk Gen Z”, ia memaparkan bahwa dakwah digital harus membawa manfaat serta tetap memegang teguh adab. Ia menjelaskan bahwa esensi dakwah kreatif bukanlah sekadar mengikuti tren atau mencari perhatian, tetapi bagaimana mampu menghadirkan konten yang mencerahkan dan menuntun audiens kepada nilai-nilai kebaikan.
“Dakwah itu bukan lomba sensasi. Jangan sampai kita tergoda membuat konten yang viral tapi tidak beradab. Viral itu bonus, yang terpenting amal baik kita tercatat di sisi Allah,” tegasnya.

Perempuan Madura itu juga menekankan bahwa santri memiliki modal besar untuk menjadi konten kreator beradab. Bekal ilmu agama, tradisi keilmuan, serta pendidikan adab di pesantren membuat santri memiliki standar moral yang kuat untuk terjun ke dunia digital.
“Dunia digital hari ini kekurangan figur yang santun tapi tetap tegas. Santri bisa mengisi kekosongan itu. Kalian punya adab, punya ilmu, dan punya kejujuran. Itu kualitas yang sangat berharga,” ujarnya.
Baca Juga: Krisis Literasi Indonesia: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda?
Penulis buku Kita yang Pernah itu, turut memberikan contoh bentuk konten yang sederhana tetapi efektif, seperti video pendek pengingat salat, cerita ringan tentang adab kepada guru dan orang tua, hingga kutipan Islami yang menenangkan. Menurutnya, konten yang baik tidak harus panjang atau rumit, yang penting mengandung pesan yang benar dan bermanfaat.
Dalam seminar tersebut, ia juga mengingatkan peserta untuk selalu melakukan proses tabayyun sebelum menyebarkan informasi. “Di era digital, jempol kita bisa jadi jalan pahala, tapi juga bisa jadi jalan dosa. Maka sebelum posting, tanya diri sendiri: ini benar tidak? Manfaat tidak? Menyakiti orang tidak?” jelasnya.
Pesan ini sejalan dengan materi seminar yang menekankan pentingnya adab dalam berdakwah, menghindari hoaks, tidak menyebar aib, tidak menghina, serta tidak memancing perdebatan yang tidak perlu.
Antusiasme peserta terlihat ketika sesi tanya jawab dibuka. Empat santri mengajukan pertanyaan mengenai isu-isu penting seputar dunia konten digital, seperti hak cipta, plagiasi, dan kebutuhan peralatan untuk memulai menjadi konten kreator.
Menjawab hal tersebut, Munawara menekankan bahwa menjaga keaslian konten adalah bagian dari etika dakwah. “Kalau mau mengambil konten orang, izinlah atau sertakan sumber. Jangan asal copypaste. Plagiat itu bukan hanya merugikan, tapi juga menurunkan integritas kita sebagai pendakwah,” tuturnya.
Baca Juga: Fenomena Pendakwah Muda: Antara Ambisi dan Kompetensi dalam Menyampaikan Syiar Islam
Ia juga menjelaskan bahwa menjadi kreator tidak selalu memerlukan peralatan mahal. Kamera ponsel, pencahayaan yang cukup, dan niat yang baik sudah bisa menjadi modal awal. “Yang paling penting bukan alat canggihnya, tapi pesan dan adab kalian dalam menyampaikan dakwah,” tambahnya.
Seminar ditutup dengan ajakan agar para santri berani mulai berkarya sambil tetap menjaga nilai-nilai pesantren. Ia menegaskan bahwa generasi santri memiliki kesempatan besar untuk menghadirkan warna baru dalam dunia dakwah digital.
“Jangan tanya seberapa banyak viewersmu. Tanyakan berapa hati yang Allah gerakkan lewat kontenmu. Itulah ukuran dakwah yang sebenarnya,” pungkasnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















