Ketua AMALI Tegaskan Ma’had Aly adalah Perjalanan Pengabdian

116
Ketua AMALI, Dr. KH. Nur Hannan, Lc., M.H.I saat memberikan sambutan (foto: nurdin)

Tebuireng.online— Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) secara resmi membuka Musyawarah Nasional (MUNAS) ke-III di Pesantren Tebuireng pada Jumat malam (28/11/2025). Agenda yang berlangsung selama tiga hari, 28–30 November 2025, diselenggarakan di Gedung Yusuf Hasyim dan dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, serta para dzurriyyah Tebuireng seperti KH. Irfan Yusuf dan KH. Riza Yusuf. Turut hadir pula Direktur PD Pontren, Dr. H. Basnang Said, M.Ag, serta Kepala Subdit Pendidikan Ma’had Aly, Dr. Mahrus El-Mawa, M.Ag.

Ketua AMALI, Dr. KH. Nur Hannan, Lc., M.H.I, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema besar MUNAS tahun ini, “Rekognisi, Sinergi, dan Transformasi Peran Asosiasi Ma’had Aly Indonesia dalam Penguatan Ekosistem Pendidikan Pesantren”, lahir dari kesadaran bahwa perjalanan Ma’had Aly jauh lebih besar daripada sekadar urusan administrasi.

Baca Juga: Ketua Amali Ungkap 7 Keterampilan Umum yang Harus Dimiliki Mahasantri

“Perjalanan Ma’had Aly adalah perjalanan khidmat, perjalanan pengabdian. Ia bukan hanya lembaga, tetapi amanat dakwah dan amanat peradaban Islam Nusantara,” ujar KH. Nur Hannan di hadapan peserta MUNAS.

KH. Hannan menjelaskan bahwa rekognisi menjadi pilar pertama karena negara kini hadir mengakui ilmu berbasis kitab kuning sebagai sumber pengetahuan yang sah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Undang-undang dan berbagai regulasi yang lahir adalah bentuk pengakuan negara bahwa kitab kuning bukan hanya warisan ulama, tetapi juga standar keilmuan Indonesia,” ungkapnya.

Menurutnya, rekognisi tidak berhenti pada aspek hukum, tetapi juga menyangkut nilai, bahwa ilmu warisan ulama klasik tetap relevan dan harus terus dihidupkan.

Pada aspek sinergi, KH. Hannan menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, Kementerian Agama, Majelis Masyayikh, pemerintah daerah, hingga asosiasi pesantren di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  AMALI Apresiasi Pemerintah Usai Beri Kesempatan Lulusan Ma’had Aly Jadi CPNS

“Tidak akan kokoh bangunan besar tanpa pilar yang saling menopang. Karena itu, AMALI terus merajut sinergi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa salah satu pilar terpenting adalah pemberdayaan lulusan Ma’had Aly.

“Lulusan Ma’had Aly adalah penjaga nilai, juru bicara moral, dan wakil pesantren di ruang sosial keagamaan. Mereka harus diberdayakan,” ujarnya.

Transformasi yang dimaksud bukan sekadar perubahan teknis, tetapi perubahan budaya kerja dan paradigma keilmuan.

Kiai Hannan menyebut beberapa langkah penting yang sedang dan akan terus dilakukan, seperti digitalisasi kitab, peningkatan kapasitas dosen, transformasi manajemen kelembagaan, penguatan riset berbasis kitab kuning, hingga kerjasama dengan lembaga nasional dan internasional.

Baca Juga: Hadiri Wisuda Mahad Aly, Ketua AMALI: Wisuda Tahun Ini Istimewa

“Jika langkah transformasi ini dijalankan secara konsisten, Ma’had Aly akan tumbuh menjadi high university pesantren, simbol kebangkitan peradaban Islam Nusantara yang ilmiah, moderat, arif, dan relevan sepanjang zaman,” tuturnya.

MUNAS AMALI ke-III di Tebuireng ini diharap menjadi momentum strategis bagi penguatan Ma’had Aly sebagai poros keilmuan pesantren, sekaligus memastikan keberlanjutan kader ulama yang berkualitas, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan.



Pewarta: Nurdiansyah Fiktri Al-Fani
Editor: Rara Zarary