Visi Eskatologis Qadi Nu’man dalam Teologi Syiah Ismailiyah

248
ilustrasi

Biografi dan Karya Qadi Nu’man: Pemikir Kunci Daulah Fatimiyah

Nu’man ibn Hayyun adalah seorang ulama, hakim agung (Qadi al-Qudat), dan tokoh kunci dalam pengembangan paham Syiah Ismailiyah di Daulah Fatimiyah. Ia diperkirakan lahir pada dekade terakhir abad ke-9 Masehi, menghabiskan masa kecil dan dewasa di Qairawan, Maroko. Menariknya, sebelum memeluk teologi Syiah Ismailiyah, Nu’man awalnya penganut mazhab Maliki. Karir kepemerintahannya dimulai pada tahun 925 M sebagai pelayan Abdullah al-Mahdi dan mencapai puncaknya pada tahun 954 M sebagai Hakim Agung di bawah al-Mu’izz. Ia melayani total empat khalifah Fatimiyah hingga wafatnya pada tahun 973 M di Mesir.

Nu’man ibn Hayyun dikenal sangat produktif. Asaf A. A. Fyzee mencatatnya telah menghasilkan kurang lebih 44 karya tulis dalam berbagai disiplin ilmu. Karya-karyanya mencakup Fikih (Da’aim al-Islam), Interpretasi Al-Qur’an dengan fokus ta’wil batiniah (Asas al-Ta’wil), Ilmu Haqaiq (filsafat esoteris), Akidah, Syarh Akhbar, dan Sejarah (Iftitah al-Da’wah). Keberagaman dan kedalaman karyanya menegaskan perannya yang sentral, sebagai praktisi hukum juga sebagai pemikir teologi dan filsafat esoteris Syiah Ismailiyah.

Kerangka Teologis dan Metodologi Asas al-Ta’wil

Di tengah sejarah keilmuan Islam, saat sebagian besar ulama fokus pada perdebatan hukum Fiqih, Qadi Nu’man mengajukan premis radikal. Ia menyusun dua karya yang kontras: Da’a’im al-Islam yang berisi hukum-hukum lahiriah (Dzahir), dan Asas al-Ta’wil yang berfungsi menafsirkannya secara esoteris atau batiniah (Batin). Dalam teologi Ismailiyah, ajaran terbagi menjadi Dzahir (hukum ritual, hanya “kulit” atau simbol untuk ketertiban) dan Batin (esensi, yaitu Ma’rifah atau pengenalan hakiki, serta Wilayat atau ketaatan mutlak kepada Imam). Qadi Nu’man berargumen bahwa amal tanpa Batin yang benar tidaklah sempurna.

Asas al-Ta’wil adalah karya tafsir esoteris yang menekankan otoritas para Imam (Ahl al-Bait) sebagai pemegang rahasia agama. Ia menggunakan istilah Ta’wil, yang dimaknai sebagai penyingkapan makna batin (haqiqah mustatirrah) yang hanya dikhususkan bagi para Imam Syi’ah. Keyakinan ini memengaruhi struktur kitab, yang tidak mengikuti urutan mushaf Al-Qur’an (nuzul), melainkan disusun berdasarkan teologi al-Sab’iyah (teologi tujuh), membagi pembahasannya menjadi enam fase kisah para Nabi (nutaqa’).

Penakwilan yang dilakukan Nu’man selalu memasukkan konsep Imamah dan al-Sab’iyah. Sebagai contoh, ia menakwilkan komponen perahu Nabi Nuh (QS. Hud [11]: 38) sebagai perumpamaan bagi tujuh Nathiq (Nabi) dan tujuh Imam. Contoh lain, term al-muthahharun (orang-orang yang disucikan) dalam QS. al-Waqi’ah [56]: 79 diinterpretasikan secara eksklusif sebagai para Imam Syi’ah keturunan Nabi Muhammad. Hal ini menegaskan bahwa pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dalam kitab ini sangat didasarkan pada kerangka keyakinan teologis Syi’ah Ismailiyah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Konteks Akademik dan Hermeneutika Hans Georg Gadamer

Penakwilan kebatinan (bāṭiniyyah) Nu‘mān Ibn Ḥayyūn, dilihat dari perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer, disebabkan oleh dua faktor struktural utama yang membentuk horison pemahamannya. Faktor pertama adalah latar belakang ideologisnya yang kuat, yaitu Syī‘ah Isma‘īliyyah Bāṭiniyyah. Ideologi ini mendorong para mufasir Syī‘ah untuk mengadopsi pendekatan berbasis akal (ra’yu-‘aqlī), yang sering kali menghasilkan tafsir teologis yang bertentangan dengan Sunni. Perbedaan mendasar ini terletak pada upaya Syī‘ah untuk menemukan makna esoteris (bāṭin) di dalam ayat Al-Qur’an, bukan hanya makna literal (ẓāhir).

Faktor kedua yang krusial adalah pra-pemahaman (Vorverständnis) Nu‘mān mengenai konsep-konsep kunci Syī‘ah, seperti dikotomi ẓāhir–bāṭin dan nāṭiq–ṣāmit. Syī‘ah berpendapat bahwa Al-Qur’an memiliki makna bāṭin yang tersembunyi, di mana makna ẓāhir diketahui oleh orang awam, namun makna bāṭin hanya dapat digali dan dipahami secara eksklusif oleh para Imam dan orang yang menimba ilmu dari mereka. Kombinasi faktor ideologis dan pra-pemahaman ini diperkuat oleh metodologi penafsiran yang dominan yakni corak bāṭinī-falsafī, sebuah mazhab heterodoks yang menyintesis doktrin kebatinan dengan teori filosofis yang menjelaskan mengapa corak kebatinan sangat menonjol dalam karya tafsir Nu‘mān.

Siklus Tujuh Nabi: Misteri Qoim al-Zaman

Inti dari visi Qadi Nu’man terletak pada hierarki suci yang bergerak dalam siklus sejarah. Di puncak hierarki lahiriah ini ada enam sosok yang disebut Natiq (Dia yang Berbicara/Mendikte), yaitu Rasul yang membawa risalah dan menetapkan Syariat (Dzahir) baru.

Keenam Natiq yang diakui adalah Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Saw. Syariat yang mereka bawa bersifat sementara dan sesuai dengan zamannya. Setelah setiap Natiq berlalu, selalu ada sosok Wasi (Penerus atau Asas), seperti Ali bin Abi Thalib bagi Nabi Muhammad Saw, yang bertugas menjaga dan menafsirkan rahasia batin dari syariat tersebut. Dengan memisahkan peran Natiq (pembawa Hukum Lahir) dan Wasi (pembawa Makna Batin), Qadi Nu’man menegaskan bahwa ketaatan sejati harus diarahkan pada Wasi dan para Imam, menjadikan ketaatan lahiriah hanyalah langkah awal.

Siklus enam Natiq ini mengarah pada penantian paling krusial: kemunculan tokoh ketujuh: Qoim al-Zaman (Dia yang Bangkit dari Zaman). Figur Mesianis ini sangat penting karena perannya yang unik dan radikal: ia akan menghapus syariat lahiriah (Dzahir) yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Peniadaan hukum Dzahir ini adalah puncaknya, di mana Qoim al-Zaman datang untuk sepenuhnya mengungkap Kebenaran Tertinggi (Haqiqah) atau Batin yang selama ini tersembunyi. Ia akan menggantikan ibadah ritual dengan Ma’rifah (pengetahuan murni). Melalui Asas al-Ta’wil, Qadi Nu’man mempersiapkan mental umat Ismailiyah bahwa syariat yang mereka laksanakan saat ini akan gugur, digantikan oleh Batin murni yang diwakilkan oleh Qoim al-Zaman. Keyakinan ini memberikan otoritas mutlak kepada Imam Fatimiyah kontemporer (yang dianggap sebagai perwakilan awal Qoim), menjadikan doktrin Wilayat sebagai rukun iman tertinggi Ismailiyah.

Warisan dan Kontroversi

Pandangan Qadi Nu’man ini memicu kontroversi mendalam. Prinsip bahwa syariat Nabi Muhammad Saw akan dihapus oleh Qoim al-Zaman bertentangan dengan ortodoksi Sunni dan Syiah Imamiyyah (Dua Belas Imam), yang menganggap syariat Nabi Muhammad sebagai yang terakhir dan sempurna. Kritikus melihat Asas al-Ta’wil sebagai upaya rasionalisasi teologis untuk membenarkan kepemimpinan politik Fatimiyah. Doktrin yang menganggap Dzahir sebagai sekadar kulit ini juga berisiko mengarah pada antinomianisme (pengabaian praktik keagamaan jika sudah mencapai Ma’rifah batiniah).

Namun, kitab ini tetap menjadi salah satu dokumen paling berharga dalam sejarah intelektual Islam. Asas al-Ta’wil adalah kunci untuk memahami cara pandang kosmik yang meyakini bahwa di balik setiap ritual dan hukum terdapat kode rahasia yang mengarah pada pengetahuan Ilahi (Ma’rifah) dan otoritas mutlak dari Imam yang dinanti-nantikan, Qoim al-Zaman.

Pada akhirnya, melalui karya monumentalnya Asas al-Ta’wil, Qadi Nu’man ibn Hayyun meninggalkan warisan pemikiran yang tak lekang oleh waktu. Ia menyajikan tafsir, manifesto spiritual yang berupaya menyelaraskan otoritas keagamaan dengan kekuasaan politik Dinasti Fatimiyah. Doktrin tentang enam Nabi Natiq sebagai pembawa syariat lahiriah (Dzahir) yang bersifat sementara, dan penantian Qoim al-Zaman sebagai sosok ketujuh yang akan menghapus Dzahir untuk mengungkap Kebenaran Batin (Haqiqah) murni, merupakan inti dari pandangan dunia Ismailiyah. Walaupun kontroversial, karya ini mengajak setiap pembaca untuk merenung: sejauh mana kita telah melangkah dalam pencarian Batin di balik Dzahir ajaran kita? Pemikiran Qadi Nu’man adalah kunci untuk memahami bahwa, bagi kaum Ismailiyah, setiap ritual dan hukum hanyalah kode yang mengarahkan pada Ma’rifah (pengetahuan Ilahi) dan ketaatan mutlak kepada Imam, sang pemegang kunci rahasia Ilahi.

Baca Juga: Dekonstruksi Tafsir Al-Faydh Al-Kasyani atas Ayat Wilayah dan Tanggapan Ulama Sunni


Referensi:

Moch Rafly Tri Ramadhani, “Mengenal Nu’man ibn Hayyun, Hakim Agung Daulah Fatimiyyah Pengarang Asas al-Ta’wil” TafsirAlquran.id, 8 Maret 2021, https://tafsiralquran.id/numan-ibn-hayyun-hakim-agung-daulah-fatimiyah-pengarang-asas-al-tawil/

Moch Rafly Tri Ramadhani, “Mengenal Kitab Asas al-Ta’wil: Kitab yang Disusun Berasarkan Teori al-Sab’iyyah,” TafsirAlquran.id, 8 Maret 2021, https://tafsiralquran.id/kitab-asas-al-tawil-kitab-tafsir-yang-disusun-berdasarkan-teologi-al-sabiyah/#

Mohammad Husen, “Theologi Kebatinan Nu‘mān Ibn Ḥayyūn dalam Penafsiran Safīnah dan Fulk pada Kitab Asās At-Ta’wīl (Analisis Hermeneutika Hans Georg Gadamer)”, Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol.4, No.2, 2021. https://ejurnal.iiq.ac.id/index.php/alfanar/article/view/199/151

Nu’mān bin Hayyūn, Asās Al-Ta’wīl  (Beirut: Dār al-Ṡaqāfa, n.d.)


Penulis: Zerlinda Prasanti Supranggono

Editor: Muh. Sutan