Film ‘Algoritma’ Antar Siswa Trensains Tebuireng Raih Sutradara Terbaik di RFF 2025

62
Siswa SMA Trensains Tebuireng (ilustrasi: ayu)

Tebuireng.online— Siswa SMA Trensains Tebuireng, Muhammad Haidhar Azhar, siswa kelas XI asal Sangatta, Kalimantan Timur, berhasil meraih predikat Sutradara Terbaik dalam gelaran RFF 2025. Haidhar dikenal sebagai siswa yang memiliki minat kuat dalam dunia seni dan perfilman.

“Saya suka menggambar, menulis, ngedit, dan membaca. Dari kecil saya sudah punya cita-cita melangkah ke dunia perfilman Hollywood dan ingin memajukan perfilman Nusantara,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (25/11).

Kecintaannya pada film bermula sejak kelas 6 SD di masa pandemi. Ia bahkan pernah membuat channel YouTube khusus membahas alur cerita film. Memasuki SMP, Haidhar mulai menyutradarai film pendek seperti Ta’lim, Deadline, dan Seonggok Roti. Saat SMA, ia memproduksi video edukasi berjudul Jahe. Film “Algoritma” kemudian menjadi karya pertamanya yang dilombakan dan langsung meraih penghargaan.

“Sejujurnya saya tidak menyangka. Ini pertama kali ikut lomba, dan langsung menang. Alhamdulillah, ini langkah awal yang baik bagi saya dan tim,” kata Haidhar.

Menurutnya, pengalaman hidup dan referensi film yang ia pelajari memberi kekuatan pada ceritanya. “Saya percaya kombinasi pengalaman dan referensi bisa bikin cerita yang realistis dan artistik. Sebagai sutradara, saya juga harus punya rasa percaya diri dan keberanian untuk menggerakkan tim,” ucapnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Siswa SMA Trensains Tebuireng Juara 1 Business Plan Muamalah Festival 2025

Film “Algoritma” sendiri mengisahkan seorang santri bernama Ummat yang hidup dalam kesendirian pasca kepergian ibunya. Sang ayah tampak tidak lagi mempedulikannya dan menitipkannya ke pesantren. Di sana, ia bertemu Nasir, teman yang selalu peduli meski Ummat jarang berbagi cerita. Haidhar menyebut film ini sangat personal. “Cerita ini bukan karangan. Ini kisah dari orang terdekat saya. Makanya saya pilih nama ‘Ummat’, karena saya yakin banyak di luar sana sosok-sosok Ummat yang butuh sosok seperti Nasir,” jelasnya.

Dalam proses produksi, Haidhar menghadapi berbagai tantangan karena mengambil latar pesantren. “Banyak sekali rintangannya. Mulai dari lingkungan yang kurang kondusif sampai keterbatasan perangkat, karena di pesantren penggunaan kamera atau laptop itu dibatasi. Itu jadi tantangan tersendiri buat saya dan tim,” ungkapnya.

Meski penuh hambatan, Haidhar merasa bangga dengan hasil yang dicapai. “Saya sangat senang. Ini pengalaman pertama ikut lomba dan langsung dapat sutradara terbaik. InsyaAllah saya akan berusaha lebih baik lagi,” ujarnya penuh semangat. Ia berharap bisa terus berkembang. “Harapan saya, semoga karya berikutnya semakin baik. Saya ingin terus belajar dan suatu hari bisa melangkah ke Hollywood dan membanggakan Indonesia,” tambahnya.

Guru pembimbingnya, Ustadz Zainul Abidin, memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian Haidhar. Ia mengungkapkan bahwa proses pembuatan film di lingkungan pesantren memang tidak mudah. “Perangkat terbatas, waktu luang juga terbatas. Tapi Haidhar ini anaknya ide banyak sekali dan fresh untuk ukuran seusianya,” tuturnya. Ia mengaku sejak awal yakin bahwa Haidhar akan mampu memaksimalkan tema lomba. “Ketika ada lomba film pendek bertema kepedulian, saya langsung bilang dalam hati: Haidhar pasti bisa. Dan terbukti, ‘Algoritma’ ini bagus sekali,” ujarnya.

Baca Juga: 10 Siswi SMA Trensains Tebuireng Raih Prestasi IMOYA 2025 di Singapura

Ia juga menilai Haidhar memiliki karakter sutradara yang kuat. “Kesan paling dalam buat saya, Haidhar ini pendiriannya kuat sekali. Leadership-nya bagus, teman-temannya percaya, referensi perfilmannya banyak. Dia punya sudut pandang terbaik dalam memilih angle-angle yang tidak disangka,” jelasnya. Menurutnya, Haidhar memang pantas menyandang gelar Sutradara Terbaik dan akan menjadi talenta besar di masa depan.

Ustadz Zainul berharap keberhasilan ini dapat menjadi awal lahirnya budaya kreatif di lingkungan sekolah. “Saya berharap SMA Trensains ke depan bisa menghasilkan karya terbaik. Tidak hanya enak dilihat dan didengar, tapi juga memuat nilai-nilai kepesantrenan,” ujarnya.



Editor: Rara Zarary
Pewarta: Albii