
Malam itu, kereta melaju kencang ke arah Yogyakarta menuju timur. Dari jendela, aku melongokkan kepala agar angin semilir menerpa wajahku. Suara roda menyentuh rel menjadi seperti detak jantung yang menandai kepulanganku setelah bertahun-tahun tak pulang. Di luar, sawah terbentang luas, diapit pepohonan hijau yang rindang sepanjang jalur kereta. Sesekali, kereta masuk ke terowongan, begitu terus berulang.
Sudah bertahun-tahun aku hidup di rantau, berusaha sekuat tenaga membuktikan sesuatu yang bahkan aku sendiri tak jelas: ingin membuktikan kepada siapa, dan untuk apa. Ibu berkali-kali menyuruhku pulang, tapi hati ini tetap enggan, kekeh ingin bertahan di perantauan sampai “sesuatu” itu tercapai. Hanya saja, entah apa yang sebenarnya ingin kucapai.
Malam ini menjadi malam yang sejak lama kurindukan. Setelah berulang kali memikirkan—pulang atau tidak—akhirnya aku memilih pulang. Namun justru malam ini membawaku kembali pada kenangan dan ingatan tentang apa arti rumah dan pulang. Rumahku berdiri seperti kenangan yang menua, cat yang mengelupas, genteng yang bocor, dan suara jangkrik serta tokek yang begitu jelas terdengar ketika malam tiba.
Aku pulang dengan jaket kekalahan dan lelah. Lima menit sebelum sampai rumah, langkahku melambat. Aku takut memikirkan apa yang harus kukatakan kepada Ibu ketika pintu itu terbuka.
“Kak… sudah lama nggak pulang, ya?” katanya lirih setelah membuka pintu yang kuketuk.
“Iya, Bu,” jawabku, sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal dan melepas sepatu.
Keheningan mengambang di udara antara aku dan Ibu.
Kami masuk ke rumah. Di meja sudah tersedia teh manis dan rendang telur beserta nasi—makanan kesukaanku. Aku meletakkan tas di kamar. Sebelum masuk, mataku menangkap foto Bapak yang warnanya mulai menghitam, tergantung entah sejak kapan setelah Bapak pergi.
Aku melangkah masuk ke kamar yang dulu kutempati setiap hari. Kini rasanya asing setelah bertahun-tahun tak kududuki.
“Kamu kelihatan kurus, Kak,” kata Ibu.
“Di sana kerja terus, Bu.”
“Kamu baik-baik saja, Kak?”
“Kerja itu bagus, loh, Kak. Tapi jangan lupa istirahat dan kesehatanmu,” Ibu menambahkan.
“Capek, Bu. Capek semuanya…” jawabku pelan.
Ibu terdiam sambil menunduk, menggenggam erat gelas kaca berisi air putih.
“Kalau capek, istirahat ya, Kak,” katanya lirih.
Aku tersenyum kecut mendengar kalimat itu.
“Bapak dulu juga begitu, Bu?”
“Bapak selalu bilang begitu, Kak,” jawabnya pelan.
“Bapak itu kalau kerja nggak mau berhenti. Hidupnya habis buat kerja dan istirahat,” Ibu menambahkan.
“Lalu… aku juga akan seperti Bapak, Bu? Habis karena kerja?” suaraku pecah tanpa sengaja.
“Bapak mati bukan karena takdir, Bu. Tapi karena kelelahan… yang kita sebut pengorbanan.”
Ibu menatapku lama, sangat lama. Matanya memerah, bibirnya pucat tanpa senyum, wajahnya tampak kusut seperti menahan sesuatu yang sejak bertahun-tahun tak pernah ia biarkan pecah. Tatapannya tajam, menusuk, seolah hendak memastikan kata-kataku barusan benar-benar keluar dari mulutku.
“Kakak nggak boleh ngomong begitu,” katanya dengan bibir gemetar.
“Tapi benar, kan, Bu?” tanyaku, masih memaksa, seolah tidak mampu lagi menahan sesuatu yang sudah lama mengendap di dalam dada.
“Kita semua lelah, Bu. Tapi kenyataannya kita pura-pura kuat, kan? Aku capek kalau harus terus berpura-pura seperti ini… supaya terlihat baik-baik saja. Aku capek dianggap dibanggakan, dianggap anak yang berbakti, padahal aku sendiri kesepian… dan lelah dengan apa yang kulakukan setiap hari. Kadang aku cuma ingin diam, Bu. Tidak mendengar apa pun. Tidak mendengar siapa pun. Hanya diam… sejenak.”
Ibu memalingkan wajah setelah menatapku begitu lama. Ia meletakkan gelas kaca pelan-pelan di atas meja. Napasnya panjang, seperti sedang menahan sesuatu yang hampir pecah dari dalam dirinya. Di luar, angin sepoi-sepoi menggesek daun-daun, dan sebuah ranting kayu tua jatuh tertiup angin.
“Kakak pikir Ibu nggak lelah?” suara Ibu bergetar.
“Kakak pikir Ibu nggak pernah ingin berhenti? Setiap hari Ibu bangun, masak, mencuci baju, menunggu kabar dari Kakak di sana… Kakak pikir Ibu nggak capek? Capek, Kak. Capek sekali.”
Aku menunduk. Air mataku jatuh perlahan, akhirnya pecah juga. Mataku basah, dan untuk pertama kalinya aku merasakan kata-kata Ibu menancap tajam ke dadaku, sakit, tapi jujur.
“Tapi, Bu…” suaraku serak, terisak.
“Apa gunanya menjaga rumah… menjaga semuanya… kalau kita selalu saling diam dan menyembunyikan luka masing-masing?”
Ibu menatapku lama. Sangat lama. Ada getir yang tidak terucapkan, ada amarah yang tidak jadi dilayangkan, atau mungkin ada kata-kata tajam yang justru ia tahan di ujung lidahnya.
“Makan ya, Kak. Ibu sudah masak makanan kesukaan Kakak,” katanya pelan, lirih sekali.
Tanpa menunggu jawabanku, Ibu masuk ke kamar, mematikan lampunya, dan meninggalkanku sendirian di ruang belakang.
Aku menangis sejadi-jadinya. Makanan dan minuman yang tersaji di meja kini dingin. Perutku mendadak terasa penuh, bukan kenyang, tapi sesak. Aku tidak ingin makan apa pun, tidak ingin minum apa pun. Yang ingin kulakukan hanya duduk, menangis, dan mengusap wajahku berkali-kali dengan tangan yang bergetar.
Aku ingin marah. Ingin membanting piring dan gelas di depanku. Tapi aku tidak berani. Aku hanya memukul pahaku berkali-kali, menatap lantai keramik yang retak di bagian tengahnya.
****
Paginya, aku dan Ibu duduk berdua di teras rumah yang kecil. Ibu membawakanku teh manis dengan sedikit gula, kesukaanku sejak kecil. Kami duduk lama, bicara pelan tentang kejadian semalam.
Lalu Ibu berkata, suaranya seperti diarahkan pada dinding, pada angin, atau mungkin pada dirinya sendiri.
“Bapakmu dulu meninggal di ladang. Katanya cuma mau ambil cangkul yang ketinggalan…”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi Ibu punya firasat nggak enak. Ibu tahu… waktu itu dia pergi sebentar. Tapi sebenarnya… dia pergi dari semuanya.”
Aku mendengarnya dengan sesak. Dada ini seperti disayat pucuk pisau yang sangat tajam.
“Bu…”
“Kadang,” Ibu menyela pelan, suaranya nyaris sebentuk bisik,
“lelaki di keluarga ini tidak tahu caranya istirahat. Kamu pun begitu.”
Aku menatap Ibu. Tangannya kugenggam erat, sekujur tubuhku bergetar. Mataku kembali rembes oleh air mata. Merah. Membara. Ada sedih di sana. Ada luka. Ada sakit yang tak bisa kusembunyikan. Aku menunduk, terus menunduk, sambil menggenggam tangan Ibu semakin kuat seolah dari situlah seluruh tenagaku berasal.
“Bu…”
Aku memberanikan diri bertanya, bibirku bergetar, mataku sembab.
“Kalau aku nggak kuat lagi… apa aku boleh istirahat dulu? Sebentar saja?”
Ibu menatapku lama, sangat lama. Waktu seperti menahan napas. Lalu ia mengangguk pelan dengan sebuah senyum kecil yang terasa seperti obat paling sederhana namun paling ampuh di dunia ini.
“Boleh, Kak…” katanya lirih.
“Tapi jangan hilang ya. Kadang orang yang terlalu lama istirahat… justru lupa pulang.”
Aku tertawa kecil, tawa getir yang tercampur dengan isak—tapi tawa yang melegakan. Seperti dua orang yang baru saja selesai berperang, saling memaafkan tanpa perlu kata-kata. Ibu membalas senyumku, lembut sekali. Ia lalu memelukku. Tangannya mengelus rambutku, dan aku pecah sejadi-jadinya di pangkuannya.
Matahari perlahan muncul di ujung langit, menampakkan wajahnya yang hangat. Ibu bangkit dari duduknya, melepaskan pelukannya dengan pelan, seolah takut tubuhku yang rapuh akan runtuh sekali lagi.
Aku masih terdiam di kursi depan rumah, memikirkan semua yang terjadi semalam dan pagi ini. Aku tahu, aku belum benar-benar sembuh. Aku tahu, ada lelah yang belum reda, ada luka yang belum selesai dijahit oleh waktu. Tapi pagi ini… membuat aku dan Ibu sama-sama pulang, pulang dalam arti yang paling sederhana, yang paling jujur, yang paling utuh.
Aku memejamkan mata.
Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Berbisik pada diriku sendiri, pada hati yang selama ini kutahan, akhirnya kubiarkan berbicara.
“Aku telah benar-benar pulang.”
Penulis: Lupi Malaranggih
Editor: Rara Zarary


















