Mudir Ma’had Aly Tekankan Mahasantri Menjadi Generasi Qur’ani dan Pengkaji Turats

143
Foto bersama fasilitator dan mahasantri usai acara (foto: fatih)

Tebuireng.online— Menjelang pelaksanaan imtihan, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng menggelar kegiatan Turba Idariyyin di Asrama Pusat pada Senin (17/11/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Asrama Banin, KH. Syukron Ma’mun, Lc., MA., Mudir Ma’had Aly Dr. KH. Ahmad Roziqi, Lc., M.HI., para pembina asrama, serta seluruh mahasantri semester 3 dan 5.

Acara diawali dengan penyampaian arahan oleh Mudir Ma’had Aly. Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa ujian di Ma’had Aly bukan sekadar agenda rutin, melainkan ukuran kompetensi sebagaimana sistem imtihan yang diterapkan di Universitas Al-Azhar Timur Tengah. Karena itu, kesiapan akademik dan spiritual para mahasantri menjadi penentu utama keberhasilan.

Baca Juga: Dua Prestasi Sekaligus, Mahasantri Unggul di Panggung Sastra dan Kitab Kuning

Dr. Roziqi juga menyinggung meningkatnya prestasi mahasantri dalam berbagai perlombaan akhir-akhir ini. Meski demikian, beliau mengingatkan agar prestasi tersebut diimbangi dengan pendalaman ilmu agama (tafaqquh fi ad-diin) dan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik.

“Setiap minggu kami mendengar kabar juara dari berbagai perlombaan. Namun ketika membaca Al-Qur’an, ternyata tidak semua bagus. Lalu apa arti juara sesungguhnya? Seorang juara menurut saya adalah mahasantri yang baik bacaan Al-Qur’annya, mengamalkannya, dan mampu membaca serta memahami turats,” tegasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau juga menyoroti persoalan keterlambatan wisuda yang banyak disebabkan belum tuntasnya hafalan Al-Qur’an. Maka dari itu, pihak ma’had menegaskan bahwa mahasantri tidak akan diizinkan mengikuti haflah akhirussanah sebelum memenuhi seluruh syarat, terutama kelulusan hafalan dan bacaan Al-Qur’an.

Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari saat menyampaikan materi

Mudir berpesan agar mahasantri memperkuat mulazamah, memperbanyak muraja’ah Al-Qur’an dan hadis, serta menjaga fasahah dalam membaca. “Kami sudah memfasilitasi kalian baik di asrama maupun di jam perkuliahan. Maka manfaatkanlah sebaik mungkin,” ujarnya.

Baca Juga: Di Hadapan Mahasantri, Ning Ema Dorong Penguatan Peran Perempuan di Organisasi

Terkait keluhan mahasantri mengenai sulitnya kitab-kitab pelajaran setiap semester, Dr. Roziqi menegaskan bahwa kesulitan adalah bagian dari tradisi keilmuan. Beliau mencontohkan pengalaman para mahasiswa di Al-Azhar yang terbiasa menghadapi tingkat kesulitan kitab tanpa banyak mengeluh.

“Di Al-Azhar kami tidak pernah mengeluh atas kesulitan kitab atau mufrodat. Semua bisa ditempuh dengan semangat dan kesungguhan. Menjelang ujian ini, kami berharap semua mahasantri wajib menggunakan bahasa Arab. Jangan sampai sekelas mahasantri Ma’had Aly menggunakan bahasa pego ketika menjawab ujian,” pesannya.

Dalam penutup sambutannya, beliau mengingatkan agar mahasantri menjaga marwah Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sebagai lembaga besar dan dikenal luas. Beliau bahkan mencontohkan bahwa reputasi Ma’had Aly dapat dikenali melalui berbagai media, termasuk kecerdasan buatan.

“Tanyakan pada AI, pada ChatGPT sekalipun, Ma’had Aly mana yang lebih utama? Ia akan menjawab: Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Situbondo, Lirboyo, berkali-kali. Kalau tidak percaya, silakan buka aplikasi tersebut,” ujarnya yang disambut tawa hadirin.

“Sesungguhnya nama Ma’had Aly Hasyim Asy’ari itu sangat besar dan terkenal. Maka jagalah nama itu dengan memperbaiki diri. Jangan sampai kalian lulus tetapi tidak bisa apa-apa,” tambahnya.

Kegiatan Turba Idariyyin ditutup dengan doa bersama serta penegasan komitmen para mahasantri untuk meningkatkan kualitas belajar menjelang imtihan. Semangat perbaikan dan penguatan adab keilmuan menjadi pesan utama dalam pertemuan tersebut.



Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Rara Zarary