Dua Prestasi Sekaligus, Mahasantri Unggul di Panggung Sastra dan Kitab Kuning

93
Mahasantri semester 3 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Damar Prayogi foto dengan piagam penghargaan (doc. istimewa)

Tebuireng.online— Damar Prayogi, mahasantri semester 3 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng asal Pemalang, Jawa Tengah, kembali mencuri perhatian publik setelah meraih prestasi dalam Lomba Cipta Baca Puisi Dies Natalis Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) UIN Sunan Ampel Surabaya pada 14 November 2025. Ajang tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus, menjadikannya salah satu kompetisi bergengsi bagi para pecinta sastra.

Lahir pada 25 Agustus 2006, Damar telah lama menjadikan sastra sebagai ruang berekspresi. Dalam rentang kariernya, ia telah mengumpulkan sembilan gelar juara dalam bidang cipta maupun baca puisi. Satu gelar diraih ketika ia masih di Aliyah, sementara delapan lainnya sebuah pencapaian luar biasa berhasil ia kantongi hanya dalam 71 hari terakhir. “Saya memang mencintai puisi. Menulis dan membaca puisi itu seperti terapi sekaligus rumah bagi saya,” ujar Damar saat ditemui usai perlombaan.

Pada babak penyisihan di UINSA, Damar membawakan puisi ciptaan sendiri berjudul “Sang Kiai”. Karya tersebut menyoroti perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sekaligus menggambarkan problematika umat setelah wafatnya sang ulama besar. Penampilan tersebut mengantarkan Damar ke babak final, di mana ia membacakan puisi Peri Sandi Huizche berjudul “Mata Luka Sengkon Karta”, yang mengangkat dinamika sosial-politik pasca lengsernya Presiden Soekarno dan naiknya Soeharto.

Baca Juga: Mahasantri Tebuireng Ungkap Kunci Sukses Raih 5 Kejuaraan dalam Sebulan

Namun kiprah Damar tidak berhenti di dunia sastra semata. Ia membuktikan dirinya sebagai sosok yang memiliki dua sayap: mahir di panggung seni, sekaligus kokoh dalam tradisi keilmuan pesantren. Pada 10 November 2025, ia meraih Juara Harapan 2 dalam Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah PCNU Kabupaten Kediri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam ajang tersebut, para peserta diuji dalam membaca dan memahami kitab “Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” karya K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari. Perlombaan berlangsung dua tahap: seleksi online yang diikuti oleh 113 santri dari berbagai pesantren seluruh Indonesia, serta final offline yang hanya menyisakan 10 peserta terbaik. Damar menjadi salah satu dari sedikit finalis yang mampu mempertahankan ketenangan di hadapan dewan juri. “Bisa membawa pulang juara di MQK adalah kehormatan tersendiri. Ini bukti bahwa saya tidak boleh berhenti belajar,” ungkapnya.

Baca Juga: Mahasantri Tebuireng Raih Juara Pidato 3 Bahasa se-Jawa Timur

Ketika ditanya siapa sosok yang menjadi sumber motivasinya, Damar tanpa ragu menjawab bahwa inspirasinya adalah orang tua. Baginya, doa dan keteladanan mereka adalah bekal yang selalu menguatkan. “Orang tua saya tidak menuntut apa pun. Mereka hanya mengingatkan agar saya menjaga adab dan melakukan yang terbaik. Itu yang selalu saya pegang,” kata Damar dengan senyum yang tenang.

Prestasi demi prestasi tidak membuatnya cepat puas. Ke depan, ia berharap dapat menjadi pribadi yang lebih rendah hati, bersyukur, dan semakin berbakti kepada orang tua serta guru-guru yang telah membimbingnya. Damar juga berencana menantang dirinya dengan mengikuti cabang lomba lain seperti Qiroatus Syi’ri dan monolog. Menurutnya, mencoba berbagai bidang adalah cara terbaik untuk memperluas wawasan dan kemampuan. “Kalau tidak berani melangkah, kita tidak akan tahu sejauh apa potensi kita,” tuturnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary