Haus Validasi, Salah atau Manusiawi?

229
Ilustrasi kompasianacom

Di era media sosial, tombol like, komentar, dan jumlah viewers bisa menjadi ukuran harga diri. Banyak orang tidak sadar bahwa perlahan-lahan mereka menjadi haus akan pengakuan. Mereka mengunggah foto, tulisan, atau aktivitas sehari-hari bukan hanya untuk berbagi, tetapi berharap ada yang melihat, memuji, dan mengakui keberadaannya. Pertanyaannya: apakah menjadi orang yang haus validasi itu salah? Atau sebenarnya itu adalah sifat manusia yang wajar?

Validasi adalah kebutuhan dasar. Setiap manusia ingin didengar, dilihat, dan dihargai. Bahkan sejak kecil, kita mendapat validasi dari keluarga: tepuk tangan karena bisa berjalan, pujian saat mendapat nilai bagus. Tanpa validasi, manusia kehilangan rasa terhubung dengan dunia. Jadi pada dasarnya, keinginan untuk divalidasi bukan kesalahan. Itu naluriah.

Namun masalah muncul ketika validasi menjadi candu. Ketika pengakuan orang lain menjadi sumber utama rasa percaya diri. Ketika seseorang merasa tidak berarti tanpa tepuk tangan.

Ada orang yang merasa hidupnya kurang jika unggahannya tidak banyak mendapat like. Ada yang merasa gagal ketika tidak ada yang mengomentari pencapaiannya. Ada yang rela berbohong, memalsukan citra, bahkan memaksakan diri demi terlihat hebat di depan orang lain.

Baca Juga: Ancaman Bahaya Eksploitasi Anak di Media Sosial

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kita hidup pada generasi yang memperlakukan validasi seperti oksigen. Padahal harga diri sejatinya tidak ditentukan oleh mata orang lain. Mengapa banyak orang haus validasi?

Pertama, karena media sosial mengubah cara kita memandang diri sendiri. Apa pun yang kita unggah menjadi konsumsi publik. Semakin banyak like, semakin tinggi nilai diri di mata orang lain dan itu membuat otak melepaskan dopamin. Dopamin membuat kita ketagihan. Kita ingin merasakan perasaan “diakui” itu lagi dan lagi.

Kedua, karena lingkungan memicu kompetisi tidak terlihat. Kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang tampil di internet. Kita melihat teman menikah, kariernya sukses, bisa liburan, punya pasangan romantis. Padahal yang kita lihat hanyalah highlight kehidupan mereka, bukan realita sepenuhnya. Kita merasa tertinggal, lalu ingin menunjukkan bahwa hidup kita juga baik-baik saja walaupun itu hanya topeng.

Ketiga, karena kita kurang merasa cukup dari dalam. Kita tidak terbiasa memberi validasi pada diri sendiri. Sehingga kita bergantung pada orang lain untuk merasa berharga.

Banyak orang tidak sadar bahwa validasi yang diambil dari luar bersifat sementara. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini banyak yang memberi like, besok tidak ada yang peduli. Jika rasa percaya diri dibangun di atas komentar orang lain, maka ia akan goyah kapan saja.

Pertanyaannya sekarang: apakah salah mencari validasi? Tidak salah selama kita tahu batasnya.

Baca Juga: Waspada Konten Menyimpang di Media Sosial

Validasi yang sehat itu ketika kita menerima penghargaan dari orang lain, tetapi tidak menggantungkan hidup pada pujian itu. Sedangkan validasi yang tidak sehat itu ketika kita merasa tidak berarti tanpa perhatian orang lain. Kadang kita lupa bahwa validasi terbaik bukan datang dari keramaian, tetapi dari diri sendiri. Dari kalimat sederhana seperti:

“Aku bangga pada diriku karena sudah berusaha.”

“Aku berarti meski tidak ada yang tahu perjuanganku.”

Validasi seperti itu tidak membutuhkan saksi. Sayangnya, banyak orang justru mengejar validasi dari luar untuk mengisi kekosongan dalam diri. Mereka ingin terlihat baik karena tidak merasa baik. Ingin terlihat percaya diri karena sebenarnya rapuh. Ingin terlihat bahagia karena sebenarnya kosong.

Lalu bagaimana cara berhenti haus validasi?

Pertama, sadari bahwa hidup tidak harus dilihat orang. Ada momen yang lebih bermakna ketika dinikmati sendiri. Tidak semua rasa senang harus dibagikan. Tidak semua pencapaian harus diumbar. Kebahagiaan yang tidak diberitakan justru lebih terasa.

Kedua, validasi diri. Tanyakan pada diri sendiri, “Kalau tidak ada yang lihat, apakah aku tetap mau melakukannya?” Jika jawabannya ya, berarti kamu melakukannya dari hati, bukan untuk panggung.

Ketiga, bangun identitas diri. Kenali nilai diri tanpa membandingkan dengan orang lain. Ketika kita tahu siapa kita dan apa tujuan kita, pendapat orang lain tidak lagi menjadi bahan bakar utama dalam hidup.

Keempat, kelilingi diri dengan orang yang menghargai tanpa syarat. Terkadang, seseorang haus validasi karena ia tidak pernah merasa cukup di lingkungannya sendiri. Teman yang salah membuat kita harus menjadi orang lain untuk diterima. Tetapi teman yang tepat menerima kita apa adanya.

Ada kalimat yang perlu kita ingat: “Tidak semua orang harus suka padamu. Yang penting kamu tidak kehilangan dirimu demi membuat semua orang suka.”

Baca Juga: Krisis Sosial di Era Digital

Mengejar validasi tidak akan pernah membuat puas. Karena validasi itu seperti lubang yang tidak pernah penuh. Semakin banyak yang kita dapat, semakin besar keinginan kita. Kita lupa satu hal penting yakni memilih diri sendiri selalu lebih membebaskan daripada dicintai banyak orang.

Menjadi orang yang haus validasi bukan berarti salah. Itu hanya tanda bahwa ada bagian dari diri kita yang ingin merasa cukup. Yang ingin merasa dilihat. Yang ingin merasa didengar. Yang perlu diperbaiki bukan keinginan untuk divalidasi, tetapi kepada siapa kita memberikan kuasa untuk menentukan nilai diri kita.

Jika validasi datang dari orang lain, itu bonus. Jika validasi datang dari diri sendiri, itu fondasi. Hidup tidak perlu selalu terlihat hebat. Yang penting, kita hidup dengan jujur pada diri sendiri.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary