Tall Poppy Syndrome, Fenomena Sosial yang Memicu Kebencian dan Ejekan

94
Ilustrasi tall poppy syndrome (sumber: seekcom)

Pernahkah kamu mendengar tentang istilah Tall Poppy Syndrome? Suatu hari, ketika saya berselancar di dunia maya, sebuah gambar menarik muncul di beranda Instagram. Gambar ini berisi penjelasan singkat mengenai Tall Poppy Syndrome. Secara harfiah, istilah ini berarti sebuah taman yang penuh dengan bunga Poppy. Namun, ada satu bunga yang tumbuh lebih tinggi dari yang lain. Karena tampak berbeda, bunga itu kemudian dipotong agar seluruh bunga terlihat sejajar.

Dalam psikologi sosial, istilah Tall Poppy Syndrome dipakai untuk menggambarkan ketika ada seseorang yang lebih sukses atau unggul, lingkungan justru berusaha menjatuhkannya. Hal ini terjadi karena orang tersebut dianggap terlalu menonjol. Bukan karena ia jahat, tapi karena ia terlalu tinggi untuk dibiarkan tumbuh sendiri.

Baca Juga: Membangun Support System Positif dalam Pertemanan

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Perasaan seperti ini sering kali berakar pada rasa inferioritas. Perasaan rendah diri yang membuat seseorang sulit menerima keberhasilan orang lain. Saat melihat orang lain lebih berhasil, sebagian orang bukannya merasa terinspirasi, tetapi justru merasa terancam. Dalam hatinya muncul pertanyaan “Mengapa bukan aku?” Perasaan itu pelan-pelan berubah menjadi sikap meremehkan, iri, sinis, atau bahkan menjatuhkan. Kadang dilakukan secara halus dengan melontarkan komentar seperti “ah, cuma hoki,” atau “dia bisa begitu karena punya koneksi.” Upaya-upaya ini dilakukan untuk meremehkan agar membuat diri sendiri merasa lebih aman.

Sebenarnya istilah Tall Poppy Syndrome sendiri berasal dari pepatah Australia: The tall Poppy gets cut down. Artinya bunga Poppy yang tumbuh lebih tinggi akan dipotong lebih dulu. Sebuah metafora sosial untuk menggambarkan bagaimana masyarakat menekan individu yang menonjol atau bersinar. Faktanya kita hidup di masyarakat yang tidak suka melihat seseorang terlalu bersinar. Memang benar adanya bahwa lebih banyak orang yang ingin melihat kamu jatuh, daripada melihat kamu tumbuh. Begitu terlihat ada yang tumbuh lebih tinggi, gunting sosial langsung bekerja.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurut penelitian Feather (1994) dalam The Journal of Social Psychology, Tall Poppy Syndrome lahir dari resentment, campuran antara rasa iri (envy) dan rasa tidak aman (insecurity). Orang yang merasa terancam oleh keberhasilan orang lain tidak benar-benar membenci orang tersebut. Mereka justru membenci rasa kurang yang muncul dari dalam diri sendiri. Keberhasilan orang lain menjadi cermin yang memantulkan kekurangan mereka. Akibatnya Semakin tinggi seseorang itu tumbuh, semakin banyak pula orang lain merasa kurang di dalam dirinya.

Baca Juga: Reframing dalam Pembentukan Pola Pikir Positif

Sementara menurut penelitian Smith dan Kim (2007) dalam Personality and Social Psychology Review, juga menemukan bahwa rasa iri yang muncul bisa mengaktifkan bagian otak anterior cingulate cortex, bagian yang memproses rasa sakit sosial. Alhasil, melihat kesuksesan orang lain bisa terasa menyakitkan secara literal. Tak heran jika sebagian orang lebih memilih menertawakan, menjatuhkan, atau menyindir daripada belajar dan termotivasi.

Tall Poppy Syndrome sendiri bisa muncul dalam berbagai bentuk seperti komentar nyinyir di media sosial, stereotip “sok pamer”, atau pernyataan menjatuhkan lainnya. Masyarakat yang tak mampu mengapresiasi, akan memilih menjatuhkan daripada belajar untuk introspeksi atau perbaikan. Sebenarnya, fenomena semacam ini telah dijelaskan di dalam Al- Quran jauh sebelum istilah ini populer. Dalam Al-Quran, Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 4 tentang Nabi Yusuf :

اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ۝٤

Artinya: “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku.”

Mimpi itu bukanlah bentuk kesombongan, melainkan visi yang besar. Namun saudara-saudara nabi Yusuf begitu membencinya. Kenapa? Bukan karena Yusuf bersalah, tapi karena Yusuf terlalu tinggi untuk diterima oleh hati yang sempit. Rasa iri menutup akal dan menumbuhkan niat jahat, hingga saudara-saudaranya berencana menyingkirkannya.   Allah juga menegaskan dalam QS. Ash-Shaff: 8 firman-Nya:

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ ۝٨

Artinya: “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”

Baca Juga: Krisis Sosial di Era Digital

Di dalam ayat tersebut Allah menjelaskan, Jika Allah saja melindungi cahaya kebenaran dari tangan-tangan yang ingin memadamkan, mengapa kamu harus mengecilkan dirimu hanya agar diterima?. Artinya, jangan potong atau ubah dirimu hanya supaya orang lain merasa nyaman atau menyukaimu. karena kamu diciptakan tidak untuk menyenangkan semua orang. Kamu diciptakan untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang sudah Tuhan titipkan. “So find your own light. It may not shine bright enough to lead the way for others, but at least it’s enough to help you find your own way.”



Penulis: Lusa Indrawati
Editor: Rara Zarary