Antara Pesantren dan Trans7: Membaca Ulang Kontribusi Media terhadap Kearifan Lokal

93

Pesantren adalah institusi pendidikan tertua dan paling orisinal di Indonesia. Lebih dari sekadar lembaga pendidikan agama, pesantren merupakan pusat peradaban dan penjaga otentik akar budaya Nusantara yang menjunjung tinggi toleransi dan kearifan lokal. Di sisi lain, kehadiran media massa, yang seringkali mengedepankan hiburan komersial, menimbulkan perdebatan serius tentang perannya dalam melestarikan atau justru mengikis warisan budaya bangsa. Stasiun televisi seperti Trans7, dengan dominasi program hiburan dan gaya hidup global, sering menjadi sorotan sebagai representasi dari ancaman arus homogenisasi budaya global yang bertentangan dengan semangat Nusantara.

Akar tradisi pesantren tertanam kuat dalam sejarah Islamisasi di Nusantara yang berlangsung secara damai, adaptif, dan akulturatif. Model pendidikan ini lahir dari sintesis unik antara tradisi keilmuan Islam, terutama dari Timur Tengah dan India, dengan lembaga pendidikan lokal pra-Islam. Sejumlah bukti historis menegaskan peran pesantren sebagai inkubator budaya Nusantara. Secara historis, pesantren berkembang dari surau menuju bentuk yang lebih terstruktur. Beberapa teori bahkan mengaitkan sistem asrama dan relasi guru-murid (cantrik-kyai) dengan model pendidikan Hindu-Buddha yang telah ada sebelumnya (Qomar, 2002).

Akulturasi melalui Walisongo menjadikan pesantren dan ajarannya sebagai penerus warisan dakwah akulturatif, menggunakan media seni tradisional seperti Wayang dan Tembang untuk menyampaikan pesan tauhid dan akhlak. Praktik sehari-hari di pesantren menjadi manifestasi nilai budaya ketimuran yang bersumber dari adab. Tradisi ini menempatkan guru (kyai) pada posisi yang sangat mulia, sejalan dengan budaya Nusantara yang menghormati orang tua dan pemimpin spiritual. Tradisi cium tangan kyai, adalah wujud konkret dari adab sebelum ilmu. Tindakan cium tangan bukan sekadar penghormatan, tetapi pengakuan bahwa keberkahan ilmu (barokah) mengalir melalui perantara guru. Ini sejalan dengan budaya Jawa dan Melayu yang sangat menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun.

Menunduk di depan kyai, mencerminkan filosofi tawadhu’ (rendah hati), di mana santri diajarkan untuk merendahkan diri di hadapan ilmu dan orang yang berilmu. Tradisi ini mengingatkan pada etika budaya lokal yang mengajarkan agar berjalan perlahan dan menunduk saat melewati orang yang lebih tua. Membantu kyai (Khidmah), adalah tradisi santri untuk membantu segala keperluan kyai, dari membersihkan rumah hingga pekerjaan sehari-hari. Tradisi ini mengajarkan nilai gotong royong, solidaritas sosial, dan ukhuwah Islamiyah yang menjadi pilar budaya Nusantara.

Imam Malik rahimahullah (yang ajarannya dianut kuat oleh tradisi ulama di pesantren) pernah berkata: “Aku belajar adab kepada guruku selama tiga puluh tahun, baru aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.” Kutipan ini sangat relevan dengan tradisi pesantren yang mengutamakan adab (tawadhu’) di atas ilmu, dan tradisi menghormati kyai adalah wujud adab tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bertolak belakang dengan peran historis pesantren, kehadiran media massa—terutama stasiun televisi swasta—dalam konteks modernisasi dan globalisasi sering dianggap sebagai agen yang secara tidak sadar menolak dan mengikis budaya Nusantara yang otentik. Dalam hal ini, Trans7, sebagai salah satu stasiun televisi yang memiliki jangkauan luas, dapat menjadi contoh nyata.

Argumen bahwa Trans7 (dan media sejenis) adalah “Penolak Budaya Nusantara yang Nyata” didasarkan pada analisis konten yang disajikan. Program hiburan yang didominasi oleh komedi yang bersifat mengejek, penggunaan bahasa gaul yang tidak santun, serta penampilan yang terlalu terbuka, secara langsung mengikis nilai-nilai adab Nusantara yang diajarkan di pesantren: tawadhu’ (rendah hati) dan sopan santun terhadap yang lebih tua.

Ketika budaya Nusantara ditampilkan (misalnya dalam program perjalanan), seringkali hanya sebagai komoditas visual yang dangkal. Kedalaman filosofis tradisi hanya disajikan sepintas, tanpa mengedukasi masyarakat tentang esensi adab di baliknya. Iklan dan narasi program secara masif menguatkan budaya konsumerisme dan liberalisme global, nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai kesederhanaan, gotong royong, dan khidmah yang diajarkan dalam pesantren.

Media seperti Trans7, dengan narasi yang didominasi oleh gaya hidup modern, dikhawatirkan melemahkan peran kiai dan tradisi adab. Generasi muda mungkin lebih mudah meniru tren perilaku yang ditayangkan di televisi (gaya bicara yang kurang sopan, sikap acuh tak acuh) daripada menghayati nilai-nilai cium tangan Kyai dan khidmah.

Kesimpulan dan Seruan

Pesantren merupakan institusi kultural yang indigeneous (asli) Indonesia. Dengan tradisi seperti ciuman tangan Kyai, menunduk, dan khidmah, pesantren menjadi penjaga inti adab dan akar tradisi budaya nusantara yang sejati. ​Di sisi lain, media komersial seperti Trans7, dalam upaya mengejar rating dan tren global, secara efektif menjadi penolak budaya nusantara yang nyata. Hal ini terjadi melalui dominasi konten yang menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai adab dan kearifan lokal, serta secara masif menyebarkan arus budaya homogen yang mengancam identitas bangsa.

​Sudah saatnya bagi media massa untuk merevitalisasi perannya. Media harus menjadi partner bagi pesantren, menjadikan budaya sebagai instrumen dakwah dan perekat sosial, alih-alih sekadar komoditas hiburan. Hanya dengan begitu, rumah peradaban Indonesia dapat dijaga dari gempuran kapitalisme dan liberalisme global yang mengancam jiwa bangsa

Berbenahlah TRANS7, kehadiranmu antara dibutuhkan dan tidak di Indonesia yang berbudaya. Karena Pesantren telah lebih awal menancapkan akar kebaikan dan perannya di Nusantara sebagai benteng penjaga tradisi budaya yang nyata.


Penulis: Muhammad Arief Albani, Penasehat PW IKAPETE Papua