Ilmu sebagai Akar Adab: Membongkar Mitos Adab di Atas Ilmu

352
Sumber gambar: seraamedia

Slogan “adab di atas ilmu” sudah lama bergema di ruang-ruang pendidikan Islam. Hampir di setiap pesantren, ungkapan ini dipajang dengan huruf besar seolah menjadi kompas moral bagi para santri. Kalimatnya memang indah, singkat, tapi tajam. Namun, persoalannya muncul ketika slogan itu dipahami secara kaku, seakan-akan ilmu bisa dinomorduakan, atau adab bisa berdiri tanpa pengetahuan.

Di titik ini, kita perlu berhenti sebentar dan bertanya, bagaimana mungkin seseorang bisa beradab kalau ia sendiri tidak tahu apa itu adab? Bagaimana mungkin seseorang bisa menghormati guru kalau ia tak paham hak dan kedudukan seorang guru dalam Islam? Tanpa ilmu, adab hanya menjadi formalitas yang kering, sekadar menundukkan kepala tanpa kesadaran makna.

Baca Juga: Ketika Adab Dikerdilkan Jadi Kepatuhan

Kalau menoleh ke belakang, kita menemukan jejaknya. Imam Malik, pendiri salah satu mazhab besar, memang pernah berpesan: “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Ucapan ini bukan bermaksud mengecilkan arti ilmu, melainkan mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak bisa menyesatkan. Orang pintar tapi tidak beradab bisa menjadikan ilmunya sebagai senjata untuk menipu atau merusak.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, pesan itu sering ditarik terlalu jauh. Adab diperlakukan seolah berdiri sendiri, terlepas dari pengetahuan. Murid dianggap cukup diam, tunduk, dan patuh, lalu sudah dianggap beradab. Padahal, Imam Malik dan ulama-ulama lain menempatkan adab justru dalam kerangka ilmu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Imam al-Ghazali misalnya, menulis panjang lebar soal adab murid dalam Ihya’ Ulumuddin. Tapi adab yang beliau maksud bukan sekadar sopan santun lahiriah, melainkan sikap yang berakar dari pemahaman mendalam tentang ilmu itu sendiri. Diam di hadapan guru bukan karena takut, melainkan karena sadar bahwa guru adalah perantara cahaya Allah.

Al-Qur’an pun memberi teladan yang sama. Lihat kisah Luqman al-Hakim. Sebelum menasihati anaknya soal etika sosial, jangan sombong, jangan meninggikan suara, berjalanlah sederhana, ia lebih dulu mengajarkan tauhid, “Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman besar” (QS Luqman: 13).

Baca Juga: Perlunya Menjaga Adab saat Silaturahmi

Pesan itu jelas: adab lahir dari fondasi ilmu. Kalau tauhid tidak dipahami, adab hanya jadi etiket sosial belaka. Dengan ilmu, adab menemukan rohnya. Tanpa ilmu, adab hanyalah rutinitas yang kehilangan arah.

Begitu juga kisah Nabi Musa dan Khidr (QS al-Kahfi: 60–82). Musa yang berilmu pun diuji untuk belajar adab. Tapi adabnya lahir justru setelah ia memahami hikmah yang semula tersembunyi. Lagi-lagi, ilmu dan adab berjalan beriringan.

Ketika slogan “adab di atas ilmu” dipahami terbalik, dampaknya tidak main-main. Pertama, lahirlah budaya anti-kritik. Murid yang bertanya dianggap kurang ajar, padahal bertanya adalah inti belajar. Kedua, muncul sikap permisif terhadap otoritas. Asalkan tampak sopan, semua dianggap baik, meski sebenarnya miskin substansi.

Kondisi ini membuat ruang berpikir jadi sempit. Ilmu berhenti berkembang karena kritik dianggap melawan. Padahal, kalau kita tengok sejarah Islam, peradaban emas justru lahir dari tradisi kritis: para ulama menulis, berdebat, menguji, dan terus bertanya. Itu semua dilakukan dengan adab, tapi sekaligus dengan ilmu.

Maka, penting untuk ditegaskan ilmu adalah akar dari adab. Adab tanpa ilmu ibarat bunga plastik, indah dilihat, tapi tak punya akar dan mudah dibuang. Sebaliknya, ilmu tanpa adab seperti pedang di tangan orang buta: berbahaya dan menakutkan.

Baca Juga: Pentingnya Beradab dan Berilmu bagi Santri

Slogan “adab di atas ilmu” sesungguhnya bukan untuk menomorduakan ilmu, melainkan agar ilmu yang dimiliki tidak liar. Adab adalah pagar, tapi pagar itu tidak mungkin berdiri tanpa rumah yang kokoh, yaitu ilmu.

Pada akhirnya, kita tidak perlu memilih: adab atau ilmu. Keduanya adalah satu kesatuan. Adab adalah mahkota, tapi mahkota hanya bisa dipakai jika ada kepala, yakni ilmu.

Dalam pendidikan, keseimbangan itu harus dijaga. Murid perlu belajar menghormati guru, tapi sekaligus diberi ruang bertanya. Santri perlu dibimbing untuk sopan, tapi juga diajak berpikir kritis. Hormat tidak berarti diam, dan bertanya tidak otomatis kurang ajar. Justru dari dialog yang beradab lahir generasi yang cerdas sekaligus santun.

Walhasil, slogan “adab di atas ilmu” akan selalu indah. Tetapi kita harus meluruskan tafsirnya. Yang keliru bukan kalimatnya, melainkan pemahaman kita yang sering kabur. Adab tanpa ilmu hanyalah kepatuhan kaku, sementara ilmu tanpa adab hanyalah arogansi.

Islam mengajarkan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan. Ilmu adalah akar, dan adab adalah buahnya. Pohon tidak mungkin berbuah tanpa akar, dan akar tidak berguna kalau tidak melahirkan buah. Di situlah kita menemukan harmoni: ilmu yang menumbuhkan adab, dan adab yang menjaga ilmu agar tetap bermakna. Wallahua’lam.



Penulis: Adam Kartiko
Editor: Rara Zarary